Konsep penulisan cerpen “Bertemu Malaikat Maut” dan “Membunuh Seekor Naga”

“Yang paling dekat adalah kematian.” –Abu Hamid Al-Ghazali.

Dua post sebelum esai ini berbentuk cerpen. Kedua cerpen tersebut memiliki beberapa kesamaan. Keduanya ditulis dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Apresiasi Sastra, sama-sama menggunakan sudut pandang akuan, dan sama-sama bertemakan kematian.

Kematian adalah bagian dari kehidupan. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Tidak bisa tidak. Karena itu, tidak lengkap mempertanyakan kehidupan tanpa mempertanyakan kematian. Menentukan alasan untuk mati, boleh jadi lebih penting ketimbang menentukan alasan untuk hidup.

Pada “Bertemu Malaikat Maut”, saya membayangkan menjadi seorang mahasiswa yang bertemu dengan pria misterius yang mengaku sebagai malaikat maut. Segala keraguan hilang ketika apa yang dikatakan pria misterius itu menjadi kenyataan. Panik, takut, dan depresi, sang tokoh utama berusaha mempesiapkan diri untuk mati, meski pada akhirnya takut juga. Dengan cara seperti itu, saya ingin mengambil sudut pandang orang biasa dalam menghadapi kematian.

Pada bagian akhir, saya membuat ending yang terbuka untuk berbagai interpretasi. Saya perkirakan setidaknya akan ada tiga kemungkinan penafsiran. Pertama, yang membunuh Yudi benar-benar sang Malaikat Maut. Kedua, malaikat maut itu sebenarnya adalah psikopat, dan kasus kematian Yudi murni pembunuhan manusia oleh manusia. Ketiga, malaikat maut itu sebenarnya hanya produk imajinasi Yudi, atau Yudi menderita skizofrenia, dan kematiannya adalah bunuh diri. Penafsiran yang manapun, bagi saya tidak masalah. Tidak ada yang salah sekaligus tidak ada yang benar.

Pada cerpen “Membunuh Seekor Naga”, saya berusaha mempertanyakan, apakah nyawa manusia nilainya lebih tinggi ketimbang nyawa makhluk lain? Dalam kasus ini, makhluk itu adalah seekor naga yang langka, kalau bukan satu-satunya yang tersisa.

Tokoh gadis penjaga sarang naga kiranya bisa menjadi personifikasi dari organisasi PETA ataupun pilihan hidup untuk menjadi vegetarian. Keduanya, sejauh yang saya amati, juga berangkat dari pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang mendorong terciptanya cerpen ini. Bagaimanapun juga, kita tidak bisa memungkiri adanya hukum alam, dimana untuk bertahan hidup adakalanya kita perlu membunuh makhluk lain.

Akhir kedua cerpen ini sengaja dibuat agak menggantung untuk memungkinkan berbagai penafsiran. Ada kesenangan tersendiri membiarkan sebuah cerita menggantung karena memberikan kesan misterius. Selain itu, bisa ya, bisa tidak, ketidakselesaian cerita adalah salah satu ciri postmodernisme, semangat zaman ini.