Lemah Hati


Menyesal itu tidak baik, tapi bohong namanya kalau aku tidak mengakuinya. Melihat ke belakang, betapa banyak hal-hal yang seharusnya aku lakukan. Pikiranku melayang menembus waktu yang tak mungkin diputar ulang. Seandainya dulu aku begini… Seandainya aku dulu melakukan itu…

Tidakkah sesekali kamu ingin membiarkan diri tenggelam dalam melankolia? Itu tidak boleh, tapi aku tahu betapa manusiawinya perasaan itu.

Ketika kamu menerawang masa lalu, dan mendapati hal-hal tak menyenangkan, bukan karena apa yang kamu lakukan, melainkan atas apa yang tidak kamu lakukan, kamu tahu, sebenar-benarnya tahu, bahwa tak ada sesiapa yang bisa disalahkan selain dirimu sendiri. Tidak ada yang bisa kamu lakukan untuk mengubah masa lalu, yang bisa kamu lakukan adalah membangun masa depan, hingga genap apa yang ditakdirkan-Nya untukmu.

Dan itu tidak selalu mudah.

Melihat orang-orang berlalu lalang, dengan wajah ceria, dan kamu tahu, kebahagiaan mereka bukanlah milikmu, adalah tidak mudah. Kamu ingin bahagia seperti mereka, tapi tidak bisa, karena masamu sudah lewat. Yang kamu miliki adalah puing-puing yang berserakan, berantakan, dan kamu tak tahu mana yang lebih dulu harus kamu bereskan.

Apakah ini yang dinamakan dengki?

Ya Allah, ternyata hati ini berpenyakit. Padahal tak semua hal layak untuk disesali. Bahkan hal yang layak disesali pun tak boleh disesali lebih dari porsinya.

*Menghela nafas panjang*

Terkadang, kegalauan begitu memikat. Cukup sudah. Aku mau jadi kuat.

Iklan