[Review] Fractale: Dystopia Marxian dan Pertanyaan tentang Kebebasan

Warning: Spoilers ahead!

“Fractale is comprised of several trillion processors networked using 22nd century science. By embedding Fractale Terminal inside your body, and sending your life log periodically to the high-altitude hovering servers, everyone can receive an equal and basic income. One’s daily needs are guaranteed even if one does not work. It is a world without war and strife. Indeed, Fractale is a 22nd century man-made god.(Data antik: Ep1)

Anime ini bersetting di masa depan yang jauh, kurang-lebih satu milenium dari sekarang, ketika teknologi sudah demikian canggihnya sehingga nyaris seperti sihir. Manusia tidak perlu lagi bekerja. Semua orang terhubung ke dalam sistem Fractale melalui nanomachine yang ditanam ke dalam tubuh mereka, dan mengalami hidup dalam augmented reality. Seperti dalam film The Matrix, tapi alih-alih manusia dipaksa untuk tidur dan hidup di dalam virtual reality secara tak sadar, di sini tubuh manusia tetap bebas. Tidak ada paksaan untuk memanfaatkan Fractale, semua orang hidup di dalam Fractale karena itu lebih baik bagi mereka. Bumi[1] terlihat sangat lengang, dengan lansekap kebanyakan berupa padang rumput, dan satu-dua kota yang letaknya berjauhan. Tidak ada overpopulasi dan polusi seperti sekarang. Dalam cerita ini, manusia pada umumnya tidak suka hidup di rumah. Mereka tinggal di rumah mobil, mengembara, tak terikat dengan apapun atau siapapun, melakukan apa yang disukainya, sambil terus menerima penghidupan dari sistem Fractale.

Clain, tokoh utama anime ini, tinggal di sebuah rumah di tengah padang rumput, bersama kedua orang tuanya yang berwujud doppel. Doppel adalah istilah untuk makhluk hidup berbentuk data, yang hanya bisa hidup dalam sistem Fractale sebagai bagian dari augmented reality dan merupakan pengganti dari seseorang[2]. Doppel umumnya tak bisa disentuh manusia, karena hanya berbentuk data, dan hanya bisa dilihat dan didengar oleh mereka yang memiliki terminal Fractale, atau menggunakan kacamata khusus. Jadi, sebenarnya Clain tinggal sendirian. Dari percakapan Clain dan kedua orang tuanya, kita mendapati bahwa mereka membuat doppel mereka sendiri, namun dengan sengaja memutuskan untuk tidak tinggal bersama Clain. Tinggal bersama di bawah satu atap, menurut mereka, hanya mengekang kebebasan, dan merupakan tanda ketidakpercayaan. Seperti itulah konsep keluarga pada masa ini. Clain menyukai barang antik. Dan yang dimaksud dengan barang antik di sini adalah televisi, kamera digital, laptop, dan barang-barang keseharian kita saat ini. Untuk alasan yang sama pula ia tinggal di dalam rumah, tidak seperti orang-orang pada umumnya.

Suatu hari, Clain bertemu seorang gadis misterius bernama Phryne (Ejaan Jepang: Furyune). Ia menyelamatkannya dari kejaraan sekelompok orang, yang belakangan diketahui berasal dari organisasi bernama Lost Millennium, sebuah organisasi teroris yang ingin menghancurkan sistem Fractale. Kata mereka, Phryne adalah ‘kunci dunia’ (key of the world), yang memiliki peranan mahapenting dalam sistem Fractale. Setelah menghabiskan malam bersama Clain, Phryne pergi tanpa pesan, hanya meninggalkan bros yang setelah dianalisis ternyata berisi sebuah (atau seorang?) doppel bernama Nessa. Tidak seperti doppel lainnya, Nessa bisa disentuh, seolah memiliki tubuh sungguhan.

Mengetahui Nessa memiliki kaitan dengan Phryne, organisasi Lost Millennium berusaha menculiknya beserta Clain. Mereka membawa Clain dan Nessa ke desa Granitz, dimana orang-orang hidup tanpa bergantung pada Fractale. Di sana, Clain bertemu dengan Sunda, pemimpin organisasi Lost Millennium cabang Granitz. Menurut Sunda, Fractale telah merampas cara hidup manusia yang alamiah. Fractale membuat manusia bergantung padanya. Sistem tersebut, menurut Sunda, mulai runtuh. Banyak balon, yaitu server tempat manusia mengirimkan data mereka secara online, berjatuhan, mengakibatkan beberapa wilayah tidak lagi ter-cover oleh gelombang Fractale. Tujuan Lost Millennium adalah untuk mengembalikan manusia kepada kehidupannya yang alamiah, dan itu hanya bisa dilakukan dengan cara menghancurkan Fractale.

Clain dan Nessa

Kritik Kebudayaan ala Marxisme

“Prayer? Yeah, right. You’re just collecting my data.” (Clain: Ep.2)

Satu hal yang menarik dalam anime ini adalah sistem Fractale yang dibuat seperti agama. Setiap hari, setiap orang harus ‘berdoa’ menghadap ‘bintang’. Kegiatan berdoa itu, sebagaimana dikutip di atas, adalah sebuah bentuk maintentance, dan bintang itu adalah server yang mengumpulkan data dan mengirimkannya ke pusat sistem Fractale. Server sitem Fractale disebut kuil (temple). Coverage area sistem Fractale disebut berkah (blessing). Aparat (admin)-nya disebut pendeta (priest), dan memang berpakaian seperti pendeta suatu ordo magis. Teknologi Fractale sudah demikian maju hingga seperti sihir, baik secara tampilan maupun cara kerja.

Pada episode ke-3, Lost Millenium menyerang upacara Hoshi Matsuri (Star Festival). Apa itu Star Festival? tanya Sunda. Clain menjawab, itu adalah upacara pada malam hari ketika bintang-bintang berkumpul. Orang-orang, dipimpin oleh para pendeta, berdoa di bawahnya. Jika seseorang tidak menghadiri Star Festival, ia tidak akan menerima ‘perlindungan bintang-bintang’, misalnya doppel-mu tidak berfungsi jika kamu tidak datang.

Sunda memberikan sebuah kacamata khusus pada Clain, yang membuat Clain dapat melihat kenyataan yang sesungguhnya dari Star Festival. Ia melihat orang-orang berkumpul dan berdoa di bawah sebuah monumen yang disebut ‘Pohon Kehidupan’ (Tree of Life). Mata mereka terbelalak, mulut mereka setengah terbuka, tubuh mereka kejang-kejang, sementara pohon kehidupan dan ‘bintang-bintang’ di atasnya memancarkan cahaya. Orang-orang itu seperti berada di bawah pengaruh sihir, atau obat-obatan.

Star Festival, kata Sunda, pada dasarnya adalah update masal dari nanomachine (terminal) Fractale yang terpasang di tubuh manusia. Dia adalah ritual pencucian otak, agar manusia lupa terhadap pertanyaan-pertanyaan penting, yang seharusnya menggiringnya kepada hakikat hidup yang sesungguhnya. Dengan pencucian otak seperti itu, orang-orang jadi bisa menerima hidup apa adanya, pasrah, dan bergantung pada sistem Fractale.

Ini mengingatkan kita pada kritik Marx atas agama. Agama, menurutnya, adalah ‘candu rakyat’ (opium of the mass). Ini jelas terlihat dari reaksi orang-orang saat Star Festival berlangsung. Agama membuat orang tenang, menerima takdir, dan pada akhirya menerima penindasan dengan sukarela, bukannya memperjuangkan kebebasan dan kedaulatan mereka atas nasib mereka sendiri. Dalam istilah Marxis, agama adalah alat kelas yang berkuasa untuk mengendalikan kelas yang tertindas. Para pendeta Fractale menyebut kelompok Lost Millennium sebagai “heretics”, yang kurang lebih artinya “kafir” atau “fasik”, yang menolak ‘berkah’ Fractale dan melakukan tindakan anarkis.

Star Festival

Lebih jauh, Marx juga bicara soal ideologi. Ideologi, menurut Marx, adalah sebuah ‘kesadaran palsu’ (false consciousness). Fractale, sebagai sebuah sistem kehidupan yang diciptakan manusia, merupakan alegori langsung dari ideologi. Bahkan secara metaforis, Fractale sebagai augmented reality adalah ‘cara melihat dunia’. Tanpanya, dunia tidak bisa dilihat, dan dialami. Dengan kata lain, dunia menjadi tidak ada. Ideologi bersifat integral terhadap manusia, yang dimetaforakan dengan terminal Fractale yang diimplant ke dalam tubuh. Artinya, dia ada ‘di dalam’ manusia. Sebagai sebuah kesadaran(palsu), ideologi dapat menggerakan manusia untuk mengembangkan dan melindunginya. Fractale tidak hanya memiliki pendeta yang mengarahkan para ‘jemaat’-nya untuk ‘berdoa’, tapi juga tentara, kaum militan yang berguna untuk melindungi Fractale dan para ‘user’-nya.

Fractale memiliki sejumlah wilayah (coverage area gelombang Fractale), populasi manusia, dan sistem kontrol. Dengan demikian, Fractale secara kasar dapat dikatakan sebagai “negara” (state). Pemikir Marxis, Louis Althusser, mengatakan bahwa negara memiliki dua macam ‘aparat’ yang berfungsi mengendalikan orang-orang di dalamnya. Pertama adalah repressive state apparatus dan ideological state apparatus. Yang pertama adalah polisi, tentara, dan semacamnya, sementara yang kedua adalah ideologi, pendidikan, dan agama. Fractale jelas memiliki keduanya, dan menggunakannya untuk kepentingannya sendiri: menyejahterakan kehidupan anggota-anggotanya. Dalam praktiknya, hal tersebut termasuk memburu dan membunuhi anggota kelompok Lost Millennium.

Jika kita melihat bagaimana semua kebutuhan manusia tercukupi dengan Fractale tanpa bekerja, sistem tersebut tidak kurang dari sebuah utopia komunisme. Kebutuhan semua orang tercukupi, tidak ada perebutan atas sumber daya alam, dan tidak ada eksploitasi tenaga kerja. Namun, melihat bagaimana orang-orang begitu tergantung kepada sistem, Fractale lebih tepat disebut dystopia. Kenyataannya, dalam serial ini, sistem Fractale mulai rubuh. Sebagian (besar?) dari dunia tidak lagi tercakup dalam coverage area jaringan Fractale. Orang-orang yang hidup di area yang tak lagi tercakup di dalam jaringan tersebut menjadi putus asa, karena terbiasa hidup di dalam dunia Fractale yang serba indah dan serba mudah. Mereka mengembara mencari zona aktif Fractale dalam keadaan yang menyedihkan.

Ambiguitas Moral

I should make something clear before you go. To be honest, I don’t really know how the world should be either. We’ve simply followed the path we believe in. I don’t regret that.” (Sunda: Ep.11)

Meskipun pada awalnya anime ini mengritik realitas palsu yang ditawarkan Fractale, seiring dengan berjalannya cerita, pemisahan antara pihak baikn/jahat dan bena/salah semakin kabur. Sistem Fractale, dalam pengertian tertentu, memang ‘menipu’ manusia. Di sisi lain, Lost Millennium berusaha membebaskan manusia menuju cara hidupnya yang alamiah. Dalam praktiknya, metode Lost Millennium sangat radikal dan anarkis. Sunda dkk. tak segan-segan membunuh para pendeta dan jemaat Fractale untuk menghentikan Star Festival.

Hal yang tidak kurang keji-nya juga dilakukan oleh Dias, pemimpin Lost Millennium cabang Alabaster. Ia menawarkan makanan dan tempat tinggal gratis bagi para ‘korban’ runtuhnya sistem Fractale. Ia juga memberikan ‘vaksin’ gratis agar mereka tidak terkena penyakit. Tapi ternyata ‘vaksin’ tersebut adalah penipuan. Sebenarnya ia adalah operasi kecil untuk mengangkat terminal Fractale dari dalam tubuh seseorang. Kedok ini terbongkar ketika salah seorang dari para korban itu berhasil menangkap gelombang Fractale melalui antena dan memancarkannya. ‘Vaksinasi’ tengah berlangsung. Walhasil, sebagian orang melihat ‘berkah Fractale’, sementara yang lain kebingungan mengapa mereka tidak bisa melihat apa yang orang lain lihat. Dengan dingin, Dias memberitahukan perihal vaksinasi yang merupakan ‘one-way ticket’ keluar dari Fractale itu. Seorang laki-laki yang baru saja divaksinasi geram bukan kepalang, namun Dias hanya menanggapinya dengan menawarkannya untuk berperang bersamanya untuk menghanruckan sistem Fractale. Seolah tindakannya kurang kejam, kelompok Dias membunuhi siapapun yang berusaha lari.

Bagaimanakah kita akan membenarkan tindakan Dias? Dias pada dasarnya tidak memberikan pilihan bagi orang-orang yang, menurut istilahnya sendiri, ‘dikhianati oleh Fractale’ tersebut. Ia bahkan menipu mereka, dan memaksa mereka bertempur dalam perasaan kesal dan pahit. Padahal yang mereka inginkan adalah kembali ke dalam Fractale.

Bagaimana pula kita akan memandang orang-orang yang berusaha melindungi Fractale? Pada episode 7, Clain dan Nessa terdampar di Xanadu, kota dimana Fractale masih berfungsi secara penuh[3]. Di sana, ia ‘diselamatkan’ oleh seseorang, atau tepatnya seorang doppel, bernama Meegan hanya untuk dijebak dan diserahkan pada para pendeta Fractale karena status mereka adalah buronan.  Collin, kawan Meegan, hendak membunuh Clain ketika ia berusaha kabur. Ia hidup dengan alat penopang kehidupan menempel di sekujur tubuhnya. Ia hanya dapat hidup melalui sistem Fractale. Apakah ia punya pilihan lain? Ia jelas tak akan bertahan hidup jika sistem Fractale runtuh.

Dapatkah kita, sebagai penonton, berpihak pada Fractale? Sangat mungkin, saya rasa. Terutama jika kita tak masalah dengan mengikat diri pada agama dan cara hidup tertentu. Bukankah itu hakikat sistem Fractale? Tidak ada paksaan dalam sistem ini. Selama sistem bekerja dengan baik, selama itu pula orang-orang di dalamnya sejahtera.

Bagaimana dengan ritual yang seperti candu itu? Ritual tersebut tidak harus dilihat sebagai sesuatu yang jelek. Ia adalah konsekuensi logis dari sistem Fractale. Analogi yang baik untuk ini adalah komputer kita, yang perlu di-update secara berkala agar dapat menjalankan program dan software mutakhir.

Tapi, justru di situlah poinnya. Sebagian dari kritik atas kapitalisme adalah ia menjebak manusia ke dalam sirkularitas konsumerisme. Manusia menjadi tak memiliki pilihan lain selain menjadi konsumen. Ia menciptakan kebutuhan palsu bagi manusia, agar orang-orang terus berbelanja, terus menjadi konsumen, sehingga sistem itu sendiri dapat terus berjalan. Kapitalisme, dengan demikian, adalah ‘mesin hasrat’ (desiring machine). Apakah Fractale dapat dianalogikan demikian? Sepertinya begitu. Fractale melemahkan manusia, membuat manusia menjadi individualistis, membuat manusia ketergantungan. Fractale meniadakan kehidupan di luar sistem tersebut. Dengan demikian, apakah pilihan mereka yang lebih menghendaki keberlangsungan Fractale dapat dikatakan sebagai pilihan yang ‘bebas’?

Ilusi kota dari Fractale

Dilema moral semakin mengemuka menjelang akhir serial ini. Suatu waktu, Clain dibawa ke laboratorium Fractale. Di sana, ia menemukan gadis yang sangat mirip dengan Nessa. Kemudian, ia menemukan bahwa gadis tersebut adalah kloning dari Phryne. Nessa adalah wujud Phryne ketika berusia 10 tahun. Phryne dikloning agar nantinya ia dapat menjadi ‘kunci’ untuk me-reboot Fractale dan menyelamatkan sistem tersebut dari kehancuran. Phryne yang dikenal Clain adalah kloning yang berhasil, karena itulah para pendeta Fractale mengejarnya.

Di laboratorium itu, Clain menyaksikan kloning-kloning yang gagal dihancurkan. Adakah kloning-kloning itu merasa sedih? Merasa sakit? Adakah mereka, sebagai kloning, dapat disamakan dengan manusia? Haruskah kita melihat kloning-kloning itu sebagai manusia? Clain berpendapat bahwa setiap kloning tersebut adalah unik, dan karenanya harus diperlakukan sebagaimana manusia. Namun mereka diciptakan untuk satu tujuan yang mereduksi mereka dari kemanusiaannya: sebagai kunci untuk me-reboot sistem Fractale. Mereka adalah ‘tumbal’ yang dibutuhkan untuk keberlangsungan sistem Fractale.

Pada akhirnya, Phryne memutuskan untuk kembali menjadi ‘kunci’ dan me-reboot sistem Fractale. Apakah ini berarti Lost Millennium gagal? Di akhir cerita, dkatakan bahwa tujuan Lost Millennium bukanlah untuk menghancurkan sistem Fractale, melainkan untuk membuat manusia kembali bebas dan hidup sebagaimana manusia seharusnya. Di bagian Epilog, dikisahkan bahwa reboot tersebut adalah yang terakhir, karena kuil Fractale telah dihancurkan. Orang-orang mulai belajar bercocok tanam. Peradaban manusia kembali ke zaman agraria, sebagai transisi untuk melepaskan ketergantungan dari Fractale, atau setidaknya begitulah tafsir saya atas ending serial ini.

Kesimpulan: Perjuangan Manusia untuk Kebebasan dan Kebahagiaan

Seperti dikutip di atas, Sunda juga sebenarnya tidak tahu bagaimana dunia ini seharusnya. Ia hanya mengikuti jalan yang diyakininya. Ya, meskipun itu artinya ia harus membunuh sekian banyak orang. Di sisi lain, para pendukung Fractale juga sama. Mereka memperjuangkan cara hidup yang mereka yakini benar. Masing-masing dari mereka percaya bahwa apa cara merekalah yang dapat memberikan kebahagiaan bagi manusia.

Lost Millennium memperjuangkan kebebasan. Tapi, apa artinya kebebasan? Apakah mereka yang memilih Fractale tidak dapat dikatakan bebas? Apakah kebebasan juga mencakup kebebasan untuk terikat? Bukankah Lost Millennium juga sebenarnya mengikat diri mereka pada gagasan tentang kebebasan?

Bagaimana dengan sistem Fractale? Fractale memberikan kesejahteraan bagi manusia, yang pada gilirannya membuat manusia menjadi tidak bebas? Apakah kesejahteraan tanpa kebebasan adalah kesejahteraan yang palsu? Kebahagiaan yang palsu? Apakah pada suatu titik kita memang harus memilih salah satu, antara kebebasan atau kebahagiaan? Apakah konflik antara sistem kepercayaan yang berbeda secara diametral—seperti Lost Millennium dan Fractale—memang sebuah keniscayaan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut senantiasa menghantui kita sebagai manusia. Jawabannya tak akan mudah didapatkan. Barangkali hal-hal seperti kebebasan, kebahagiaan, dan kebenaran memang terlalu besar dan terlalu paradoksal untuk dipahami sepenuhnya oleh pikiran manusia yang terbatas. Yang bisa kita lakukan adalah berpegang pada keyakinan dan memperjuangkannya dengan penuh keberanian. Hanya dengan cara itu, mungkin, kita dapat menemukan makna hidup kita sebagai manusia.


[1] Sebenarnya tidak dijelaskan apakah anime ini ber-setting di Bumi atau alternate universe, tapi kita dapat mengasumsikannya sebagai Bumi.

[2] Istilah doppel nampaknya diambil dari kata doppelganger, yang berarti “kembaran” atau “tiruan” (double) yang sangat mirip dari seseorang.

[3] Xanadu sendiri berarti “surga” (paradise), sebuah simbolisme yang sangat tepat untuk kota ini.

Iklan