Raja Segala Raja

Sepertinya lebih mudah memahami kekuasaan Tuhan di zaman ketika kerajaan adalah bentuk pemerintahan yang paling masuk akal. Tuhan Maha Kuasa, dan pemerintahan-Nya jelas bukan demokrasi. Dia adalah Raja segala raja, bukan Presiden segala presiden. Dia juga tidak punya perdana menteri, hanya para malaikat yang sebenarnya tidak Dia butuhkan namun tetap diciptakan juga supaya manusia berpikir tentang kekuasaan-Nya.

Kalau raja bikin peraturan, rakyat taat. Kalau raja bikin keputusan, rakyat nurut. Kalau raja bikin kesalahan, tidak akan dilihat sebagai kesalahan. Pokoknya pasal pertama: raja selalu benar. Pasal kedua: jika raja melakukan kesalahan, lihat pasal pertama. Ini benar sekalipun raja bukan panitia ospek.

Tuhan–atau setidaknya Tuhanku–tidak dipilih, dan tidak harus bikin laporan pertanggungjawaban di hadapan dewan. Dia-lah yang Maha Mengadili, yang tak akan pernah diadili. Kalau dia memutuskan untuk mencabut nyawa seseorang yang sangat kamu cintai saat ini juga, kamu tidak boleh(baca:tidak bisa) protes. Kenapa? Karena Dia adalah yang Maha Berkehendak. Dia adalah satu-satunya yang berhak bersikap semena-mena. Kata para mahasiswa, “Hanya Tuhan yang boleh tindas kami, itupun kalau Dia mau.”

Menjadi manusia ber-Tuhan, aku pikir, adalah menyadari kesemena-menaan-Nya, dan berusaha mencintai kesemena-menaan itu. Dia bikin peraturan, kita taati. Dia beri kita rezeki, kita bersyukur. Dia ambil kembali rezeki itu, kita bersabar, bahkan kalau bisa tetap bersyukur. Dalam bahasa Latin, sikap ini disebut “amor fati”. Bahasa Arabnya, “ikhlas”.

Kebebasan dan Kebenaran

Jadi, di hadapanmu ada Kebebasan dan Kebenaran. Kamu harus memilih salah satunya.

Jika kamu memilih Kebebasan, maka kamu dipersilahkan mengusahakan apa saja demi kebahagiaanmu, tentu saja dengan mematuhi hukum sebab-akibat yang tidak tidak mungkin dipisahkan sebagai cara kerja alam semesta ini. Kamu bebas bermimpi, berpikir, dan berbuat. Kamu bebas mengimajinasikan Tuhan, kamu bebas beribadah kepadanya dengan cara yang menurutmu baik, bahkan kamu bebas untuk tidak beribadah. Kamu juga bebas memegang prinsip moralitas apa saja yang kamu pandang menguntungkan bagi dirimu dan orang lain. Hanya saja, jika kamu memilih Kebebasan, tidak ada yang bisa menjamin keselamatanmu di kehidupan yang akan datang setelah kamu dibangkitkan kembali dari kematian. Oh, tentu saja kamu bebas untuk tidak percaya akan hal itu.

Jika kamu memilih Kebenaran, maka kamu akan diberikan seperangkat aturan yang harus kamu jalankan seumur hidup. Kamu harus menjalankan ibadah secara rutin dan menyerahkan sebagian hartamu secara berkala. Terkadang kamu juga harus berbuat hal yang dipandang tidak lazim bagi kebanyakan orang. Sangat mungkin kamu akan dianggap aneh, dibenci, atau terkucil dari pergaulan, dan kamu harus tetap seperti itu hingga ajal menjemputmu. Dalam banyak hal, kamu harus menahan diri. Ada hal-hal yang sudah dianggap sebagai kewajaran di masyarakatmu, yang harus kamu tinggalkan, yang mungkin akan terlihat seperti menyempitkan kesempatan perekonomianmu atau apresiasi senimu. Beberapa aturan yang ada mungkin akan terdengar tidak masuk akal bagimu, atau sulit diterima perasaanmu, tapi bagaimanapun juga tetap harus kamu jalankan. Nikmatilah segala ketidakbebasanmu hingga ajal menjemputmu. Tapi tenang, dengan memilih Kebenaran, keselamatanmu di kehidupan selanjutnya akan terjamin.

Tidak, kamu tidak bisa memilih dua-duanya.

Jika kamu dalam keraguan, kamu bisa mulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini pada dirimu sendiri:

Apakah Kebenaran itu nisbi bagimu, ataukah Kebenaran ada di luar sana, dan kamu hanya belum mendapatkannya?

Sudahkah kamu benar-benar mencarinya?

Sungguh?

Jika kebenaran hadir di depan matamu dalam bentuk yang tidak kamu sukai, akankah kamu tetap menerimanya sebagai Kebenaran?

Sudah cukup kusampaikan. Silahkan pilih satu dan tinggalkan yang lain. Cepat, waktumu terbatas.

Risalah

Sekuntum pagi dan semerbak mentari.

Bahwa alam ini akan berakhir, dan semua manusia akan mati, adalah benar adanya. Sama benarnya dengan kabar tentang Hari Kebangkitan. Siapalah kita, yang hendak jadi tuhan. Tuhan-tuhan kecil yang sombong dan tak tahu diri. Sungguh, anthroposentrisme adalah racun hati.

Kita membangun peradaban. Bangunan didirikan, karya seni dibuat, falsafah disebarkan, dan rahasia alam diungkap. Tapi kita tutup rapat telinga dari kabar tak menyenangkan, bahwa semua itu sia-sia, karena segala sesuatu tak ada artinya jika kita mengingkari-Nya.

Alam bukan tuhan. Manusia apalagi. Tapi kita tak bosan mencari, seolah masih ada kebenaran hakiki yang tersembunyi. Cobalah sesekali kita tanyakan pada diri sendiri, apa jadinya jika kebenaran telah datang, dan kita hanya enggan mendengar, malah menuruti kata hati untuk mencari yang lain.

Kita pun bersembunyi di balik selimut relativisme. Segala sesuatu benar untuk dirinya sendiri, dan tak ada yang boleh menghakimi. Lantas di manakah kebenaran? Adalah bohong jika dikatakan semua(agama) adalah jalan menuju Tuhan Yang Satu, karena siapapun yang berkata seperti itu jelas belum pernah bertemu dengan Tuhan Yang Satu itu, alias mati.

Dan kita pun ‘membunuh’-Nya.

Nietzsche hanya mendeklarasikan kematiannya, pada suatu hari di Jerman abad ke-19, dari balik kumis tebalnya yang khas. Maka hari ini para atheis jadi pahlawan yang membebaskan, karena aturan Tuhan tak lagi dianggap relevan. Singkat cerita, manusia menggagas sekularisme. Ketika hal tersebut jadi norma, penanda ‘modernitas’ (apapun artinya itu), atau bahkan menjadi ‘akal sehat’ itu sendiri, maka ‘kesombongan’ tertutup oleh facade yang disebut ‘kemanusiaan’ hingga sulit untuk dibedakan.

Kecuali dengan Kitab-Nya.

Serta sabda utusan-Nya.

Yang tak selalu masuk akal, karena apatah ‘akal’ itu sendiri? Menurut akal, kebenaran kemarin tak sama dengan kebenaran hari ini, begitu pula dengan kebenaran esok hari. Akal senantiasa berubah, atau dengan bahasa yang lebih enak didengar, berkembang. Akal tidak konsisten, karena memang tidak didesain untuk konsisten. Akal yang tak konsisten itu tak memiliki kekuatan untuk menjadi tuan. Karena itu, disadari atau tidak, ia senantiasa jadi budak hawa nafsu yang ingin menang sendiri.

Maka kita perlu memeriksa kembali, ber-tabayyun dengan diri sendiri. Boleh jadi bukan ajaran agamamu yang sempit, tapi hatimu sendiri. Mungkin dunia dan perhiasannya telah menjadikan hatimu “…keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (Q.S. 2:74), hingga engkau ingin menangis namun tak ada apapun yang menetes di pipi.

Sungguh, dunia dan segala isinya adalah fatamorgana. Maha Besar Allah yang telah membuatnya nampak begitu nyata.

 

Suatu fajar di bulan Juli tahun 2012

Harun Suaidi Isnaini

Berjalan Lurus di Jalan Berliku

Ihdinas siraatal mustaqim. Kalimat itu disebut setidaknya tujuh belas kali sehari oleh seorang muslim yang taat. Artinya, “tunjukkan kami jalan yang lurus”. ‘Lurus’ disejajarkan dengan ‘benar’, dan yang ‘benar’ niscaya adalah ‘baik’.

Namun agaknya hari-hari ini kita perlu memaknai kembali ayat ke-6 surat Al-Fatihah itu. Ini adalah zaman yang berbeda dengan empat belas abad yang lalu. Hari ini kita dihadapkan pada banyak godaan, banyak alternatif pemikiran, banyak gaya hidup. Agama jadi terlihat begitu kerdil di hadapan dunia beserta isinya.

Kita memiliki akal, dan setiap saat kita menggunakannya untuk memecahkan berbagai masalah. Disadari atau tidak, akal menjadi satu-satunya alat penentu kebenaran. Padahal sangat mungkin, di saat yang sama, akal, iman, dan rasa punya jawaban berbeda atas persoalan yang sama.

Di (Eropa) abad pertengahan, umum dipahami bahwa akal adalah hamba dari iman. Maka, apapun yang akal katakan, hendaknya bersesuaian dengan iman, atau mendukung iman. Di era Renaisans, dideklarasikan kebebasan berpikir. Akal berdiri sendiri. Sebuah formulasi yang ‘masuk akal’, nampaknya.

Namun, sejatinya tidak semua yang ditemukan akal adalah ‘benar’ atau ‘baik’. Arthur Schopenhauer misalnya, bilang, “Akal adalah budak nafsu.” Sehebat apapun akal, dia kalah oleh kehendak. Bahkan, akal digunakan untuk mencari pembenaran atas kehendak. Segala dalil dipakai, yang tidak ada dicari, pokoknya akal dieksploitasi ke titik terjauh guna memenuhi kehendak manusia. Kehendak manusia ini bervaraisi, mulai dari yang besar seperti penguasaan atas alam, hingga yang remeh temeh seperti kegiatan seksual (sebenarnya tidak se-‘remeh’ itu sih, hehehe… Eh, tapi yang bilang begitu akalku atau nafsuku?)

Hari ini, saya rasa ucapan dari abad ke-19 tersebut masih relevan, kalau bukan semakin aktual. Dengan adanya internet, kita bisa dengan mudah mencari ‘kebenaran-kebenaran’ untuk kehendak kita. Begitu saratnya dunia ini dengan ‘kebenaran’ hingga semua itu menjadi pembenaran semata. Kita menggunakan ‘akal kolektif’ yang tumbuh dari bawah’. Tidak ada pemaksaan akan kebenaran. Kita semua bebas memilih kebenaran kita sendiri. Hal yang sungguh ‘demokratis’.

Tidak bisa disangkal, hari ini kita terjajah oleh akal. Apapun yang tidak masuk akal ditolak, dan karena akal adalah budak nafsu, apapun yang tidak memenuhi hasrat ditinggalkan. Sadarkah kita betapa mudah berubahnya ‘common sense‘ kita selama beberapa dasawarsa terakhir? Kita bergerak cepat ke arah pemenuhan hasrat. Musik, film, fashion, dan segenap budaya populer lainnya adalah pengejawantahan dari pergerakan itu. Lihatlah betapa minim daya resistensi kita terhadap perubahan itu. Nilai dan norma berubah begitu cepat. Yang tadinya tidak masuk akal menjadi masuk akal. Yang tadinya menyimpnang dianggap normal. Sebaliknya, yang tadinya dianggap begitu luhur kini dianggap terbelakang. Maka benarlah kita terjajah akal, dan akal adalah budak nafsu. Akal kita demikian mudah membenarkan perubahan-perubahan tersebut.

Di tengah-tengah putaran roda zaman ini, agama jadi anomali. Agama tidak memenuhi hasrat. Sebaliknya, ia mengekangnya, menekannya, berusaha menguasainya. Jika dulu seorang agamawan adalah juga seorang ilmuwan dan filosof, sekarang tidak lagi. Ilmuwan dan filosof yang ‘sejati’ adalah para atheis atau agnostik. Mereka yang beriman kian tersingkir dari kehidupan dunia yang dikuasai akal.

Agama yang dulu sempat didukung oleh ilmu pengetahuan dan berbagai aliran filsafat pun kini kelabakan. Berbagai usaha dilakukan untuk ‘membuktikan’ isi kitab suci. Berbagai dalil filsafat dikeluarkan untuk mempertahankan iman. Kita lupa bahwa iman sebenarnya melampaui semua itu.

Di sini, saya ingin mengamini Søren Kierkegaard. Ia terkenal dengan konsep ‘lompatan iman’ (leap of faith) yang cukup sering kita dengar hari ini. Beriman berarti mempercayai sebelum ada bukti. Tentu saja, ini sering dianggap absurd. Dan, kalau dipikir-pikir lagi(dengan akal, tentunya), memang absurd. Kita disuruh mempercayai mukjizat dan cerita-cerita yang tidak masuk akal. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, Maryam hamil tanpa suami, dan ada kehidupan setelah mati. Bagaimana mungkin akal bisa menerima semua itu? Tanpa bukti pula. Sungguh absurd.

Namun di situlah poin pentingnya. Bukti menjadi tidak penting di hadapan hal-hal seperti cinta dan keberanian. Beriman, dalam pengertian tertentu, membutuhkan cinta dan keberanian. Cinta tanpa syarat pada Dia yang tak pernah kita temui. Keberanian untuk bertaruh bahwa setelah kita mati nanti ada kehidupan kembali yang menunggu kita.

Adapun pangkal dari cinta dan keberanian itu adalah penerimaan. Penerimaan atas wahyu Tuhan yang datang dengan segala aturannya. Penerimaan ini bersifat bebas tanpa paksaan. Mungkin itu sebabnya mereka yang tidak beriman sering diasosiasikan dengan orang yang sombong. Mereka tidak mau (menggunakan kebebasannya untuk) menerima.

Demikianlah, tak heran agama dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Jika ada yang berpikir ia bersikap memberontak dengan menentang ajaran agama, dia salah. Dia tidak memberontak sama sekali. Justru sebaliknya, ia menyerah pada dunia. Ia ikut arus. Agama adalah anomali dunia hari ini. Beragama ibarat berjalan lurus di jalan berliku. Pasti akan menabrak, tersandung, dan dianggap aneh oleh mereka yang ‘mengikuti jalan yang benar’.

Seorang teman pernah mengutip Robert Jastrow, “Para ilmuwan mendaki gunung. Ternyata di atas telah menunggu para agamawan.”