Lemah Hati


Menyesal itu tidak baik, tapi bohong namanya kalau aku tidak mengakuinya. Melihat ke belakang, betapa banyak hal-hal yang seharusnya aku lakukan. Pikiranku melayang menembus waktu yang tak mungkin diputar ulang. Seandainya dulu aku begini… Seandainya aku dulu melakukan itu…

Tidakkah sesekali kamu ingin membiarkan diri tenggelam dalam melankolia? Itu tidak boleh, tapi aku tahu betapa manusiawinya perasaan itu.

Ketika kamu menerawang masa lalu, dan mendapati hal-hal tak menyenangkan, bukan karena apa yang kamu lakukan, melainkan atas apa yang tidak kamu lakukan, kamu tahu, sebenar-benarnya tahu, bahwa tak ada sesiapa yang bisa disalahkan selain dirimu sendiri. Tidak ada yang bisa kamu lakukan untuk mengubah masa lalu, yang bisa kamu lakukan adalah membangun masa depan, hingga genap apa yang ditakdirkan-Nya untukmu.

Dan itu tidak selalu mudah.

Melihat orang-orang berlalu lalang, dengan wajah ceria, dan kamu tahu, kebahagiaan mereka bukanlah milikmu, adalah tidak mudah. Kamu ingin bahagia seperti mereka, tapi tidak bisa, karena masamu sudah lewat. Yang kamu miliki adalah puing-puing yang berserakan, berantakan, dan kamu tak tahu mana yang lebih dulu harus kamu bereskan.

Apakah ini yang dinamakan dengki?

Ya Allah, ternyata hati ini berpenyakit. Padahal tak semua hal layak untuk disesali. Bahkan hal yang layak disesali pun tak boleh disesali lebih dari porsinya.

*Menghela nafas panjang*

Terkadang, kegalauan begitu memikat. Cukup sudah. Aku mau jadi kuat.

Kebebasan dan Kebenaran

Jadi, di hadapanmu ada Kebebasan dan Kebenaran. Kamu harus memilih salah satunya.

Jika kamu memilih Kebebasan, maka kamu dipersilahkan mengusahakan apa saja demi kebahagiaanmu, tentu saja dengan mematuhi hukum sebab-akibat yang tidak tidak mungkin dipisahkan sebagai cara kerja alam semesta ini. Kamu bebas bermimpi, berpikir, dan berbuat. Kamu bebas mengimajinasikan Tuhan, kamu bebas beribadah kepadanya dengan cara yang menurutmu baik, bahkan kamu bebas untuk tidak beribadah. Kamu juga bebas memegang prinsip moralitas apa saja yang kamu pandang menguntungkan bagi dirimu dan orang lain. Hanya saja, jika kamu memilih Kebebasan, tidak ada yang bisa menjamin keselamatanmu di kehidupan yang akan datang setelah kamu dibangkitkan kembali dari kematian. Oh, tentu saja kamu bebas untuk tidak percaya akan hal itu.

Jika kamu memilih Kebenaran, maka kamu akan diberikan seperangkat aturan yang harus kamu jalankan seumur hidup. Kamu harus menjalankan ibadah secara rutin dan menyerahkan sebagian hartamu secara berkala. Terkadang kamu juga harus berbuat hal yang dipandang tidak lazim bagi kebanyakan orang. Sangat mungkin kamu akan dianggap aneh, dibenci, atau terkucil dari pergaulan, dan kamu harus tetap seperti itu hingga ajal menjemputmu. Dalam banyak hal, kamu harus menahan diri. Ada hal-hal yang sudah dianggap sebagai kewajaran di masyarakatmu, yang harus kamu tinggalkan, yang mungkin akan terlihat seperti menyempitkan kesempatan perekonomianmu atau apresiasi senimu. Beberapa aturan yang ada mungkin akan terdengar tidak masuk akal bagimu, atau sulit diterima perasaanmu, tapi bagaimanapun juga tetap harus kamu jalankan. Nikmatilah segala ketidakbebasanmu hingga ajal menjemputmu. Tapi tenang, dengan memilih Kebenaran, keselamatanmu di kehidupan selanjutnya akan terjamin.

Tidak, kamu tidak bisa memilih dua-duanya.

Jika kamu dalam keraguan, kamu bisa mulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini pada dirimu sendiri:

Apakah Kebenaran itu nisbi bagimu, ataukah Kebenaran ada di luar sana, dan kamu hanya belum mendapatkannya?

Sudahkah kamu benar-benar mencarinya?

Sungguh?

Jika kebenaran hadir di depan matamu dalam bentuk yang tidak kamu sukai, akankah kamu tetap menerimanya sebagai Kebenaran?

Sudah cukup kusampaikan. Silahkan pilih satu dan tinggalkan yang lain. Cepat, waktumu terbatas.

Risalah

Sekuntum pagi dan semerbak mentari.

Bahwa alam ini akan berakhir, dan semua manusia akan mati, adalah benar adanya. Sama benarnya dengan kabar tentang Hari Kebangkitan. Siapalah kita, yang hendak jadi tuhan. Tuhan-tuhan kecil yang sombong dan tak tahu diri. Sungguh, anthroposentrisme adalah racun hati.

Kita membangun peradaban. Bangunan didirikan, karya seni dibuat, falsafah disebarkan, dan rahasia alam diungkap. Tapi kita tutup rapat telinga dari kabar tak menyenangkan, bahwa semua itu sia-sia, karena segala sesuatu tak ada artinya jika kita mengingkari-Nya.

Alam bukan tuhan. Manusia apalagi. Tapi kita tak bosan mencari, seolah masih ada kebenaran hakiki yang tersembunyi. Cobalah sesekali kita tanyakan pada diri sendiri, apa jadinya jika kebenaran telah datang, dan kita hanya enggan mendengar, malah menuruti kata hati untuk mencari yang lain.

Kita pun bersembunyi di balik selimut relativisme. Segala sesuatu benar untuk dirinya sendiri, dan tak ada yang boleh menghakimi. Lantas di manakah kebenaran? Adalah bohong jika dikatakan semua(agama) adalah jalan menuju Tuhan Yang Satu, karena siapapun yang berkata seperti itu jelas belum pernah bertemu dengan Tuhan Yang Satu itu, alias mati.

Dan kita pun ‘membunuh’-Nya.

Nietzsche hanya mendeklarasikan kematiannya, pada suatu hari di Jerman abad ke-19, dari balik kumis tebalnya yang khas. Maka hari ini para atheis jadi pahlawan yang membebaskan, karena aturan Tuhan tak lagi dianggap relevan. Singkat cerita, manusia menggagas sekularisme. Ketika hal tersebut jadi norma, penanda ‘modernitas’ (apapun artinya itu), atau bahkan menjadi ‘akal sehat’ itu sendiri, maka ‘kesombongan’ tertutup oleh facade yang disebut ‘kemanusiaan’ hingga sulit untuk dibedakan.

Kecuali dengan Kitab-Nya.

Serta sabda utusan-Nya.

Yang tak selalu masuk akal, karena apatah ‘akal’ itu sendiri? Menurut akal, kebenaran kemarin tak sama dengan kebenaran hari ini, begitu pula dengan kebenaran esok hari. Akal senantiasa berubah, atau dengan bahasa yang lebih enak didengar, berkembang. Akal tidak konsisten, karena memang tidak didesain untuk konsisten. Akal yang tak konsisten itu tak memiliki kekuatan untuk menjadi tuan. Karena itu, disadari atau tidak, ia senantiasa jadi budak hawa nafsu yang ingin menang sendiri.

Maka kita perlu memeriksa kembali, ber-tabayyun dengan diri sendiri. Boleh jadi bukan ajaran agamamu yang sempit, tapi hatimu sendiri. Mungkin dunia dan perhiasannya telah menjadikan hatimu “…keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (Q.S. 2:74), hingga engkau ingin menangis namun tak ada apapun yang menetes di pipi.

Sungguh, dunia dan segala isinya adalah fatamorgana. Maha Besar Allah yang telah membuatnya nampak begitu nyata.

 

Suatu fajar di bulan Juli tahun 2012

Harun Suaidi Isnaini