Raja Segala Raja

Sepertinya lebih mudah memahami kekuasaan Tuhan di zaman ketika kerajaan adalah bentuk pemerintahan yang paling masuk akal. Tuhan Maha Kuasa, dan pemerintahan-Nya jelas bukan demokrasi. Dia adalah Raja segala raja, bukan Presiden segala presiden. Dia juga tidak punya perdana menteri, hanya para malaikat yang sebenarnya tidak Dia butuhkan namun tetap diciptakan juga supaya manusia berpikir tentang kekuasaan-Nya.

Kalau raja bikin peraturan, rakyat taat. Kalau raja bikin keputusan, rakyat nurut. Kalau raja bikin kesalahan, tidak akan dilihat sebagai kesalahan. Pokoknya pasal pertama: raja selalu benar. Pasal kedua: jika raja melakukan kesalahan, lihat pasal pertama. Ini benar sekalipun raja bukan panitia ospek.

Tuhan–atau setidaknya Tuhanku–tidak dipilih, dan tidak harus bikin laporan pertanggungjawaban di hadapan dewan. Dia-lah yang Maha Mengadili, yang tak akan pernah diadili. Kalau dia memutuskan untuk mencabut nyawa seseorang yang sangat kamu cintai saat ini juga, kamu tidak boleh(baca:tidak bisa) protes. Kenapa? Karena Dia adalah yang Maha Berkehendak. Dia adalah satu-satunya yang berhak bersikap semena-mena. Kata para mahasiswa, “Hanya Tuhan yang boleh tindas kami, itupun kalau Dia mau.”

Menjadi manusia ber-Tuhan, aku pikir, adalah menyadari kesemena-menaan-Nya, dan berusaha mencintai kesemena-menaan itu. Dia bikin peraturan, kita taati. Dia beri kita rezeki, kita bersyukur. Dia ambil kembali rezeki itu, kita bersabar, bahkan kalau bisa tetap bersyukur. Dalam bahasa Latin, sikap ini disebut “amor fati”. Bahasa Arabnya, “ikhlas”.

[Review] Fractale: Dystopia Marxian dan Pertanyaan tentang Kebebasan

Warning: Spoilers ahead!

“Fractale is comprised of several trillion processors networked using 22nd century science. By embedding Fractale Terminal inside your body, and sending your life log periodically to the high-altitude hovering servers, everyone can receive an equal and basic income. One’s daily needs are guaranteed even if one does not work. It is a world without war and strife. Indeed, Fractale is a 22nd century man-made god.(Data antik: Ep1)

Anime ini bersetting di masa depan yang jauh, kurang-lebih satu milenium dari sekarang, ketika teknologi sudah demikian canggihnya sehingga nyaris seperti sihir. Manusia tidak perlu lagi bekerja. Semua orang terhubung ke dalam sistem Fractale melalui nanomachine yang ditanam ke dalam tubuh mereka, dan mengalami hidup dalam augmented reality. Seperti dalam film The Matrix, tapi alih-alih manusia dipaksa untuk tidur dan hidup di dalam virtual reality secara tak sadar, di sini tubuh manusia tetap bebas. Tidak ada paksaan untuk memanfaatkan Fractale, semua orang hidup di dalam Fractale karena itu lebih baik bagi mereka. Bumi[1] terlihat sangat lengang, dengan lansekap kebanyakan berupa padang rumput, dan satu-dua kota yang letaknya berjauhan. Tidak ada overpopulasi dan polusi seperti sekarang. Dalam cerita ini, manusia pada umumnya tidak suka hidup di rumah. Mereka tinggal di rumah mobil, mengembara, tak terikat dengan apapun atau siapapun, melakukan apa yang disukainya, sambil terus menerima penghidupan dari sistem Fractale.

Clain, tokoh utama anime ini, tinggal di sebuah rumah di tengah padang rumput, bersama kedua orang tuanya yang berwujud doppel. Doppel adalah istilah untuk makhluk hidup berbentuk data, yang hanya bisa hidup dalam sistem Fractale sebagai bagian dari augmented reality dan merupakan pengganti dari seseorang[2]. Doppel umumnya tak bisa disentuh manusia, karena hanya berbentuk data, dan hanya bisa dilihat dan didengar oleh mereka yang memiliki terminal Fractale, atau menggunakan kacamata khusus. Jadi, sebenarnya Clain tinggal sendirian. Dari percakapan Clain dan kedua orang tuanya, kita mendapati bahwa mereka membuat doppel mereka sendiri, namun dengan sengaja memutuskan untuk tidak tinggal bersama Clain. Tinggal bersama di bawah satu atap, menurut mereka, hanya mengekang kebebasan, dan merupakan tanda ketidakpercayaan. Seperti itulah konsep keluarga pada masa ini. Clain menyukai barang antik. Dan yang dimaksud dengan barang antik di sini adalah televisi, kamera digital, laptop, dan barang-barang keseharian kita saat ini. Untuk alasan yang sama pula ia tinggal di dalam rumah, tidak seperti orang-orang pada umumnya.

Suatu hari, Clain bertemu seorang gadis misterius bernama Phryne (Ejaan Jepang: Furyune). Ia menyelamatkannya dari kejaraan sekelompok orang, yang belakangan diketahui berasal dari organisasi bernama Lost Millennium, sebuah organisasi teroris yang ingin menghancurkan sistem Fractale. Kata mereka, Phryne adalah ‘kunci dunia’ (key of the world), yang memiliki peranan mahapenting dalam sistem Fractale. Setelah menghabiskan malam bersama Clain, Phryne pergi tanpa pesan, hanya meninggalkan bros yang setelah dianalisis ternyata berisi sebuah (atau seorang?) doppel bernama Nessa. Tidak seperti doppel lainnya, Nessa bisa disentuh, seolah memiliki tubuh sungguhan.

Mengetahui Nessa memiliki kaitan dengan Phryne, organisasi Lost Millennium berusaha menculiknya beserta Clain. Mereka membawa Clain dan Nessa ke desa Granitz, dimana orang-orang hidup tanpa bergantung pada Fractale. Di sana, Clain bertemu dengan Sunda, pemimpin organisasi Lost Millennium cabang Granitz. Menurut Sunda, Fractale telah merampas cara hidup manusia yang alamiah. Fractale membuat manusia bergantung padanya. Sistem tersebut, menurut Sunda, mulai runtuh. Banyak balon, yaitu server tempat manusia mengirimkan data mereka secara online, berjatuhan, mengakibatkan beberapa wilayah tidak lagi ter-cover oleh gelombang Fractale. Tujuan Lost Millennium adalah untuk mengembalikan manusia kepada kehidupannya yang alamiah, dan itu hanya bisa dilakukan dengan cara menghancurkan Fractale.

Clain dan Nessa

Kritik Kebudayaan ala Marxisme

“Prayer? Yeah, right. You’re just collecting my data.” (Clain: Ep.2)

Satu hal yang menarik dalam anime ini adalah sistem Fractale yang dibuat seperti agama. Setiap hari, setiap orang harus ‘berdoa’ menghadap ‘bintang’. Kegiatan berdoa itu, sebagaimana dikutip di atas, adalah sebuah bentuk maintentance, dan bintang itu adalah server yang mengumpulkan data dan mengirimkannya ke pusat sistem Fractale. Server sitem Fractale disebut kuil (temple). Coverage area sistem Fractale disebut berkah (blessing). Aparat (admin)-nya disebut pendeta (priest), dan memang berpakaian seperti pendeta suatu ordo magis. Teknologi Fractale sudah demikian maju hingga seperti sihir, baik secara tampilan maupun cara kerja.

Pada episode ke-3, Lost Millenium menyerang upacara Hoshi Matsuri (Star Festival). Apa itu Star Festival? tanya Sunda. Clain menjawab, itu adalah upacara pada malam hari ketika bintang-bintang berkumpul. Orang-orang, dipimpin oleh para pendeta, berdoa di bawahnya. Jika seseorang tidak menghadiri Star Festival, ia tidak akan menerima ‘perlindungan bintang-bintang’, misalnya doppel-mu tidak berfungsi jika kamu tidak datang.

Sunda memberikan sebuah kacamata khusus pada Clain, yang membuat Clain dapat melihat kenyataan yang sesungguhnya dari Star Festival. Ia melihat orang-orang berkumpul dan berdoa di bawah sebuah monumen yang disebut ‘Pohon Kehidupan’ (Tree of Life). Mata mereka terbelalak, mulut mereka setengah terbuka, tubuh mereka kejang-kejang, sementara pohon kehidupan dan ‘bintang-bintang’ di atasnya memancarkan cahaya. Orang-orang itu seperti berada di bawah pengaruh sihir, atau obat-obatan.

Star Festival, kata Sunda, pada dasarnya adalah update masal dari nanomachine (terminal) Fractale yang terpasang di tubuh manusia. Dia adalah ritual pencucian otak, agar manusia lupa terhadap pertanyaan-pertanyaan penting, yang seharusnya menggiringnya kepada hakikat hidup yang sesungguhnya. Dengan pencucian otak seperti itu, orang-orang jadi bisa menerima hidup apa adanya, pasrah, dan bergantung pada sistem Fractale.

Ini mengingatkan kita pada kritik Marx atas agama. Agama, menurutnya, adalah ‘candu rakyat’ (opium of the mass). Ini jelas terlihat dari reaksi orang-orang saat Star Festival berlangsung. Agama membuat orang tenang, menerima takdir, dan pada akhirya menerima penindasan dengan sukarela, bukannya memperjuangkan kebebasan dan kedaulatan mereka atas nasib mereka sendiri. Dalam istilah Marxis, agama adalah alat kelas yang berkuasa untuk mengendalikan kelas yang tertindas. Para pendeta Fractale menyebut kelompok Lost Millennium sebagai “heretics”, yang kurang lebih artinya “kafir” atau “fasik”, yang menolak ‘berkah’ Fractale dan melakukan tindakan anarkis.

Star Festival

Lebih jauh, Marx juga bicara soal ideologi. Ideologi, menurut Marx, adalah sebuah ‘kesadaran palsu’ (false consciousness). Fractale, sebagai sebuah sistem kehidupan yang diciptakan manusia, merupakan alegori langsung dari ideologi. Bahkan secara metaforis, Fractale sebagai augmented reality adalah ‘cara melihat dunia’. Tanpanya, dunia tidak bisa dilihat, dan dialami. Dengan kata lain, dunia menjadi tidak ada. Ideologi bersifat integral terhadap manusia, yang dimetaforakan dengan terminal Fractale yang diimplant ke dalam tubuh. Artinya, dia ada ‘di dalam’ manusia. Sebagai sebuah kesadaran(palsu), ideologi dapat menggerakan manusia untuk mengembangkan dan melindunginya. Fractale tidak hanya memiliki pendeta yang mengarahkan para ‘jemaat’-nya untuk ‘berdoa’, tapi juga tentara, kaum militan yang berguna untuk melindungi Fractale dan para ‘user’-nya.

Fractale memiliki sejumlah wilayah (coverage area gelombang Fractale), populasi manusia, dan sistem kontrol. Dengan demikian, Fractale secara kasar dapat dikatakan sebagai “negara” (state). Pemikir Marxis, Louis Althusser, mengatakan bahwa negara memiliki dua macam ‘aparat’ yang berfungsi mengendalikan orang-orang di dalamnya. Pertama adalah repressive state apparatus dan ideological state apparatus. Yang pertama adalah polisi, tentara, dan semacamnya, sementara yang kedua adalah ideologi, pendidikan, dan agama. Fractale jelas memiliki keduanya, dan menggunakannya untuk kepentingannya sendiri: menyejahterakan kehidupan anggota-anggotanya. Dalam praktiknya, hal tersebut termasuk memburu dan membunuhi anggota kelompok Lost Millennium.

Jika kita melihat bagaimana semua kebutuhan manusia tercukupi dengan Fractale tanpa bekerja, sistem tersebut tidak kurang dari sebuah utopia komunisme. Kebutuhan semua orang tercukupi, tidak ada perebutan atas sumber daya alam, dan tidak ada eksploitasi tenaga kerja. Namun, melihat bagaimana orang-orang begitu tergantung kepada sistem, Fractale lebih tepat disebut dystopia. Kenyataannya, dalam serial ini, sistem Fractale mulai rubuh. Sebagian (besar?) dari dunia tidak lagi tercakup dalam coverage area jaringan Fractale. Orang-orang yang hidup di area yang tak lagi tercakup di dalam jaringan tersebut menjadi putus asa, karena terbiasa hidup di dalam dunia Fractale yang serba indah dan serba mudah. Mereka mengembara mencari zona aktif Fractale dalam keadaan yang menyedihkan.

Ambiguitas Moral

I should make something clear before you go. To be honest, I don’t really know how the world should be either. We’ve simply followed the path we believe in. I don’t regret that.” (Sunda: Ep.11)

Meskipun pada awalnya anime ini mengritik realitas palsu yang ditawarkan Fractale, seiring dengan berjalannya cerita, pemisahan antara pihak baikn/jahat dan bena/salah semakin kabur. Sistem Fractale, dalam pengertian tertentu, memang ‘menipu’ manusia. Di sisi lain, Lost Millennium berusaha membebaskan manusia menuju cara hidupnya yang alamiah. Dalam praktiknya, metode Lost Millennium sangat radikal dan anarkis. Sunda dkk. tak segan-segan membunuh para pendeta dan jemaat Fractale untuk menghentikan Star Festival.

Hal yang tidak kurang keji-nya juga dilakukan oleh Dias, pemimpin Lost Millennium cabang Alabaster. Ia menawarkan makanan dan tempat tinggal gratis bagi para ‘korban’ runtuhnya sistem Fractale. Ia juga memberikan ‘vaksin’ gratis agar mereka tidak terkena penyakit. Tapi ternyata ‘vaksin’ tersebut adalah penipuan. Sebenarnya ia adalah operasi kecil untuk mengangkat terminal Fractale dari dalam tubuh seseorang. Kedok ini terbongkar ketika salah seorang dari para korban itu berhasil menangkap gelombang Fractale melalui antena dan memancarkannya. ‘Vaksinasi’ tengah berlangsung. Walhasil, sebagian orang melihat ‘berkah Fractale’, sementara yang lain kebingungan mengapa mereka tidak bisa melihat apa yang orang lain lihat. Dengan dingin, Dias memberitahukan perihal vaksinasi yang merupakan ‘one-way ticket’ keluar dari Fractale itu. Seorang laki-laki yang baru saja divaksinasi geram bukan kepalang, namun Dias hanya menanggapinya dengan menawarkannya untuk berperang bersamanya untuk menghanruckan sistem Fractale. Seolah tindakannya kurang kejam, kelompok Dias membunuhi siapapun yang berusaha lari.

Bagaimanakah kita akan membenarkan tindakan Dias? Dias pada dasarnya tidak memberikan pilihan bagi orang-orang yang, menurut istilahnya sendiri, ‘dikhianati oleh Fractale’ tersebut. Ia bahkan menipu mereka, dan memaksa mereka bertempur dalam perasaan kesal dan pahit. Padahal yang mereka inginkan adalah kembali ke dalam Fractale.

Bagaimana pula kita akan memandang orang-orang yang berusaha melindungi Fractale? Pada episode 7, Clain dan Nessa terdampar di Xanadu, kota dimana Fractale masih berfungsi secara penuh[3]. Di sana, ia ‘diselamatkan’ oleh seseorang, atau tepatnya seorang doppel, bernama Meegan hanya untuk dijebak dan diserahkan pada para pendeta Fractale karena status mereka adalah buronan.  Collin, kawan Meegan, hendak membunuh Clain ketika ia berusaha kabur. Ia hidup dengan alat penopang kehidupan menempel di sekujur tubuhnya. Ia hanya dapat hidup melalui sistem Fractale. Apakah ia punya pilihan lain? Ia jelas tak akan bertahan hidup jika sistem Fractale runtuh.

Dapatkah kita, sebagai penonton, berpihak pada Fractale? Sangat mungkin, saya rasa. Terutama jika kita tak masalah dengan mengikat diri pada agama dan cara hidup tertentu. Bukankah itu hakikat sistem Fractale? Tidak ada paksaan dalam sistem ini. Selama sistem bekerja dengan baik, selama itu pula orang-orang di dalamnya sejahtera.

Bagaimana dengan ritual yang seperti candu itu? Ritual tersebut tidak harus dilihat sebagai sesuatu yang jelek. Ia adalah konsekuensi logis dari sistem Fractale. Analogi yang baik untuk ini adalah komputer kita, yang perlu di-update secara berkala agar dapat menjalankan program dan software mutakhir.

Tapi, justru di situlah poinnya. Sebagian dari kritik atas kapitalisme adalah ia menjebak manusia ke dalam sirkularitas konsumerisme. Manusia menjadi tak memiliki pilihan lain selain menjadi konsumen. Ia menciptakan kebutuhan palsu bagi manusia, agar orang-orang terus berbelanja, terus menjadi konsumen, sehingga sistem itu sendiri dapat terus berjalan. Kapitalisme, dengan demikian, adalah ‘mesin hasrat’ (desiring machine). Apakah Fractale dapat dianalogikan demikian? Sepertinya begitu. Fractale melemahkan manusia, membuat manusia menjadi individualistis, membuat manusia ketergantungan. Fractale meniadakan kehidupan di luar sistem tersebut. Dengan demikian, apakah pilihan mereka yang lebih menghendaki keberlangsungan Fractale dapat dikatakan sebagai pilihan yang ‘bebas’?

Ilusi kota dari Fractale

Dilema moral semakin mengemuka menjelang akhir serial ini. Suatu waktu, Clain dibawa ke laboratorium Fractale. Di sana, ia menemukan gadis yang sangat mirip dengan Nessa. Kemudian, ia menemukan bahwa gadis tersebut adalah kloning dari Phryne. Nessa adalah wujud Phryne ketika berusia 10 tahun. Phryne dikloning agar nantinya ia dapat menjadi ‘kunci’ untuk me-reboot Fractale dan menyelamatkan sistem tersebut dari kehancuran. Phryne yang dikenal Clain adalah kloning yang berhasil, karena itulah para pendeta Fractale mengejarnya.

Di laboratorium itu, Clain menyaksikan kloning-kloning yang gagal dihancurkan. Adakah kloning-kloning itu merasa sedih? Merasa sakit? Adakah mereka, sebagai kloning, dapat disamakan dengan manusia? Haruskah kita melihat kloning-kloning itu sebagai manusia? Clain berpendapat bahwa setiap kloning tersebut adalah unik, dan karenanya harus diperlakukan sebagaimana manusia. Namun mereka diciptakan untuk satu tujuan yang mereduksi mereka dari kemanusiaannya: sebagai kunci untuk me-reboot sistem Fractale. Mereka adalah ‘tumbal’ yang dibutuhkan untuk keberlangsungan sistem Fractale.

Pada akhirnya, Phryne memutuskan untuk kembali menjadi ‘kunci’ dan me-reboot sistem Fractale. Apakah ini berarti Lost Millennium gagal? Di akhir cerita, dkatakan bahwa tujuan Lost Millennium bukanlah untuk menghancurkan sistem Fractale, melainkan untuk membuat manusia kembali bebas dan hidup sebagaimana manusia seharusnya. Di bagian Epilog, dikisahkan bahwa reboot tersebut adalah yang terakhir, karena kuil Fractale telah dihancurkan. Orang-orang mulai belajar bercocok tanam. Peradaban manusia kembali ke zaman agraria, sebagai transisi untuk melepaskan ketergantungan dari Fractale, atau setidaknya begitulah tafsir saya atas ending serial ini.

Kesimpulan: Perjuangan Manusia untuk Kebebasan dan Kebahagiaan

Seperti dikutip di atas, Sunda juga sebenarnya tidak tahu bagaimana dunia ini seharusnya. Ia hanya mengikuti jalan yang diyakininya. Ya, meskipun itu artinya ia harus membunuh sekian banyak orang. Di sisi lain, para pendukung Fractale juga sama. Mereka memperjuangkan cara hidup yang mereka yakini benar. Masing-masing dari mereka percaya bahwa apa cara merekalah yang dapat memberikan kebahagiaan bagi manusia.

Lost Millennium memperjuangkan kebebasan. Tapi, apa artinya kebebasan? Apakah mereka yang memilih Fractale tidak dapat dikatakan bebas? Apakah kebebasan juga mencakup kebebasan untuk terikat? Bukankah Lost Millennium juga sebenarnya mengikat diri mereka pada gagasan tentang kebebasan?

Bagaimana dengan sistem Fractale? Fractale memberikan kesejahteraan bagi manusia, yang pada gilirannya membuat manusia menjadi tidak bebas? Apakah kesejahteraan tanpa kebebasan adalah kesejahteraan yang palsu? Kebahagiaan yang palsu? Apakah pada suatu titik kita memang harus memilih salah satu, antara kebebasan atau kebahagiaan? Apakah konflik antara sistem kepercayaan yang berbeda secara diametral—seperti Lost Millennium dan Fractale—memang sebuah keniscayaan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut senantiasa menghantui kita sebagai manusia. Jawabannya tak akan mudah didapatkan. Barangkali hal-hal seperti kebebasan, kebahagiaan, dan kebenaran memang terlalu besar dan terlalu paradoksal untuk dipahami sepenuhnya oleh pikiran manusia yang terbatas. Yang bisa kita lakukan adalah berpegang pada keyakinan dan memperjuangkannya dengan penuh keberanian. Hanya dengan cara itu, mungkin, kita dapat menemukan makna hidup kita sebagai manusia.


[1] Sebenarnya tidak dijelaskan apakah anime ini ber-setting di Bumi atau alternate universe, tapi kita dapat mengasumsikannya sebagai Bumi.

[2] Istilah doppel nampaknya diambil dari kata doppelganger, yang berarti “kembaran” atau “tiruan” (double) yang sangat mirip dari seseorang.

[3] Xanadu sendiri berarti “surga” (paradise), sebuah simbolisme yang sangat tepat untuk kota ini.

Konsep penulisan cerpen “Bertemu Malaikat Maut” dan “Membunuh Seekor Naga”

“Yang paling dekat adalah kematian.” –Abu Hamid Al-Ghazali.

Dua post sebelum esai ini berbentuk cerpen. Kedua cerpen tersebut memiliki beberapa kesamaan. Keduanya ditulis dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Apresiasi Sastra, sama-sama menggunakan sudut pandang akuan, dan sama-sama bertemakan kematian.

Kematian adalah bagian dari kehidupan. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Tidak bisa tidak. Karena itu, tidak lengkap mempertanyakan kehidupan tanpa mempertanyakan kematian. Menentukan alasan untuk mati, boleh jadi lebih penting ketimbang menentukan alasan untuk hidup.

Pada “Bertemu Malaikat Maut”, saya membayangkan menjadi seorang mahasiswa yang bertemu dengan pria misterius yang mengaku sebagai malaikat maut. Segala keraguan hilang ketika apa yang dikatakan pria misterius itu menjadi kenyataan. Panik, takut, dan depresi, sang tokoh utama berusaha mempesiapkan diri untuk mati, meski pada akhirnya takut juga. Dengan cara seperti itu, saya ingin mengambil sudut pandang orang biasa dalam menghadapi kematian.

Pada bagian akhir, saya membuat ending yang terbuka untuk berbagai interpretasi. Saya perkirakan setidaknya akan ada tiga kemungkinan penafsiran. Pertama, yang membunuh Yudi benar-benar sang Malaikat Maut. Kedua, malaikat maut itu sebenarnya adalah psikopat, dan kasus kematian Yudi murni pembunuhan manusia oleh manusia. Ketiga, malaikat maut itu sebenarnya hanya produk imajinasi Yudi, atau Yudi menderita skizofrenia, dan kematiannya adalah bunuh diri. Penafsiran yang manapun, bagi saya tidak masalah. Tidak ada yang salah sekaligus tidak ada yang benar.

Pada cerpen “Membunuh Seekor Naga”, saya berusaha mempertanyakan, apakah nyawa manusia nilainya lebih tinggi ketimbang nyawa makhluk lain? Dalam kasus ini, makhluk itu adalah seekor naga yang langka, kalau bukan satu-satunya yang tersisa.

Tokoh gadis penjaga sarang naga kiranya bisa menjadi personifikasi dari organisasi PETA ataupun pilihan hidup untuk menjadi vegetarian. Keduanya, sejauh yang saya amati, juga berangkat dari pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang mendorong terciptanya cerpen ini. Bagaimanapun juga, kita tidak bisa memungkiri adanya hukum alam, dimana untuk bertahan hidup adakalanya kita perlu membunuh makhluk lain.

Akhir kedua cerpen ini sengaja dibuat agak menggantung untuk memungkinkan berbagai penafsiran. Ada kesenangan tersendiri membiarkan sebuah cerita menggantung karena memberikan kesan misterius. Selain itu, bisa ya, bisa tidak, ketidakselesaian cerita adalah salah satu ciri postmodernisme, semangat zaman ini.

Hero dan Anti-Hero dalam Fiksi dan Realitas

Siapa pahlawanmu?

Sebagian orang Indonesia mungkin akan menjawab ‘Bung Karno’, seorang Muslim akan menjawab ‘Rasulullah Muhammad SAW’, dan ada cukup besar kemungkinan kamu akan menjawab ‘Ibuku/Ayahku’.

Tapi apa, atau siapa, yang dimaksud dengan pahlawan?

Jika kita melihat kamus, kita akan mendapati kata ‘pahlawan’ berasal dari bahasa Sansekerta ‘phala’ yang berarti ‘buah’ dan akhiran ‘-wan’ untuk menunjukkan orang/pelaku.  Pahlawan biasa dimaknai sebagai orang yang menonjol karena perjuangan dan pengorbanannya bagi bangsa, atau dalam membela kebenaran.[1]

Dalam dunia fiksi, istilah The Hero mengacu kepada tokoh utama atau protagonis dalam cerita, yang pada suatu ketika dalam hidupnya, ia menghadapi konflik dan mengalami perubahan nasib. Jika dunia fiksi tersebut adalah video game, maka pemain mengendalikan Sang Pahlawan hingga mencapai tujuannya, yang biasanya itu berarti menyelamatkan dunia dari sang penjahat (The Villain) yang ingin menguasai(atau menghancurkan) dunia.

Baik dalam kenyataan maupun cerita fiksi, kisah tentang pahlawan selalu melibatkan dua hal: keberanian dan pengorbanan diri untuk kepentingan orang banyak. Kenapa? Karena dua sifat tersebut akan membuat seseorang mengambil keputusan penting dengan tepat yang mengubah nasibnya, dan pada gilirannya akan menginspirasi orang lain. Keberanian membuat pahlawan menempuh yang nampaknya tidak mungkin di mata orang dewasa. Pengorbanan diri membumbungkan nilai diri seorang pahlawan hingga melebihi nilai orang biasa, atau dalam bahasa yang lebih sederhana, ‘berguna bagi orang lain’.

Di era postmodern ini, ada kecenderungan untuk menampilkan tokoh protagonis yang jauh dari kesempurnaan. Tokoh utama yang berasal dari kalangan orang biasa dengan berbagai kekurangan dan keterbatasannya sudah tidak asing ditemui dalam novel maupun film. Dalam cerita yang lebih ‘berat’ atau ‘dewasa’, bahkan tokoh utamanya tidak selalu ‘orang baik’. Sang Pahlawan adalah seseorang dengan kepentingan tertentu, tidak punya niatan untuk melayani masyarakat, sinis, ingin membalas dengan, atau sifat-sifat yang secara moral tidak dapat dikatakan mulia. Dalam dunia fiksi, tokoh semacam itu diberi istilah Anti-Hero.

Dalam film Watchmen misalnya, hampir semua tokohnya merupakan Anti-Hero. Rorschach yang sinis kecewa pada Tuhan yang dianggapnya membiarkan kejahatan terjadi di muka bumi. The Comedian adalah seorang patriot dan di saat yang sama seorang durjana. Dr.Manhattan, yang memiliki kekuatan adimanusia, acuh tak acuh dengan konsep moralitas manusia dan menganggap nyawa manusia dan kehidupan di bumi tidaklah penting.

Terkadang, kepahlawanan dalam cerita yang sudah terkenal didekonstruksi hingga sang pahlawan tidak lagi menjadi pahlawan. Rama, dalam Ramayana, dilihat sebagai laki-laki yang egois karena mensyaratkan pembuktian penyucian pada Shinta. Yudhistira, si sulung dari kelima Pandawa, dianggap tidak bijak karena mempertaruhkan kerajannya dalam sebuah permainan dadu dengan Kurawa.

Adakah contoh dari dunia nyata? Cukup banyak, dan ini biasanya berkaitan dengan penulisan(baca: interpretasi) sejarah. Gajah Mada, bagi kerajaan Majapahit adalah pahlawan, namun bagi orang Sunda, Gajah Mada dan keseluruan Kerajaan Majapahit tidak jauh berbeda dengan penjajah. Contoh lain yang populer adalah kisah Si Pitung dari Betawi. Di satu sisi, ia adalah pahlawan rakyat ala Robin Hood yang mencuri dari Si Kaya untuk diberikan pada Si Miskin. Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri, yang dilakukannya adalah tindakan kriminal.

Ada semacam persetujuan bahwa kekurangan sang pahlawan, motivasinya yang tidak terlalu mulia, membuat sebuah cerita menjadi semakin realistis. Ketidaksempurnaan seorang tokoh, baik nyata maupun fiksi, selain membuat tokoh tersebut terasa lebih hidup, juga membuat pembaca merasa lebih dekat serta bersimpati kepadanya.

Tapi penulisan(dan pembacaan) semacam itu memiliki ‘efek samping’. Terlalu banyak berhadapan dengan sinisisme dapat membuat kita kehilangan kepercayaan pada nilai-nilai kepahlawanan. Memang, kita tak boleh naif melihat realitas, namun melihat dunia secara sinis juga tak akan membuat kita bahagia, terlepas dari akurat atau tidaknya pandangan kita.

Di sini, saya ingin mengutip Habiburrahmah El-Shirazy. Dalam novel Ayat-Ayat Cinta, Fahri digambarkan sebagai pribadi yang nyaris tanpa cela, hingga terkesan kurang realistis. Tapi, apa komentar pengarangnya tentang tokoh utama dalam novelnya itu? Dalam sebuah wawancara, ia mengatakan:

“…bagiku, tokoh Fahri itu justru masih kurang sempurna. Harus aku sempurnakan lagi. Dia harus lebih berjiwa malaikat ketimbang yang sudah ada. Kupikir, orang-orang kita bangsa Indonesia ini menilai fahri terlalu sempurna, karena selama ini mereka tidak pernah disuguhi bacaan dan tontonan dengan kualitas perilaku seperti fahri …”[2]

Saya rasa pernyataan tersebut ada benarnya. Contoh lain, dari film The Dark Knight, ketika Joker ingin membuktikan bahwa manusia pada dasarnya jahat, ternyata terbukti sebaliknya. Tidak satupun dari penumpang di kedua kapal yang menekan tombol, yang akan mengakibatkan meledaknya kapal yang lainnya. Bahkan, salah satu dari kapal tersebut berisi tahanan kriminal, tapi itu tak menghentikan salah satu diantara mereka untuk mengambil detonator yang menentukan hidup mati mereka dan melemparnya ke luar jendela.

Kembali ke dunia nyata. Di luar dunia fiksi, tidak mudah menemukan sosok yang sempurna. Bahkan sosok yang di mata kita sempurna bisa jadi berbanding 180 derajat di mata orang lain. Tapi itu tidak penting. Bahkan, tidak penting tokoh yang kita idolakan itu sungguh-sungguh ada atau tokoh rekaan semata, karena keberadaan seorang pahlawan melampaui ‘realitas’. Pahlawan, nyata ataupun fiktif, adalah simbol harapan. Selama dia berhasil menghidupkan harapan orang banyak pada kebenaran, keberanian, dan kepahlawanan itu sendiri, maka keberadaannya ‘berguna’.

Maka, pilihlah pahlawanmu.


[1] Disadur dari entri dalam situs Wikipedia.

[2] Lihat buku Fenomena Ayat-Ayat Cinta oleh Anif Sirsaeba El-Shirazy

Kehendak Bebas, Takdir, dan The Matrix

Oracle   : I’d ask you to sit down, but, you’re not going to anyway. And don’t worry about the vase.

Neo        : What vase?

[Neo turns to look for a vase, and as he does, he knocks over a vase of flowers, which shatters on the floor]

Oracle   : That vase.

Neo        : I’m sorry…

Oracle   : I said don’t worry about it. I’ll get one of my kids to fix it.

Neo        : How did you know?

Oracle   : Ohh, what’s really going to bake your noodle later on is, would you still have broken it if I hadn’t said anything?

Salah satu topik yang tidak ada habis-habisnya dibahas dalam dunia filsafat adalah kehendak bebas (free will). Di satu sisi, kita merasa memiliki kebebasan menentukan apa yang kita lakukan dengan tubuh kita. Di sisi lain, segala sesuatu nampak begitu pasti, khususnya yang berkenaan dengan hukum alam.

Pertanyaan tentang kehendak bebas selalu mengganggu karena berkenaan dengan individualitas, atau dengan kata lain ‘siapa saya’. Bukankah individualitas ditentukan dari pilihan bebas kita? Bukankah hanya ketika seseorang memilih dengan bebas, dia bertanggung jawab atas pilihannya? Jika tidak ada kehendak bebas, maka seorang pembunuh sadis pun sebenarnya hanya memainkan peran yang telah ditentukan sebelumnya.

Jika kita percaya bahwa terdapat kepastian dalam hukum alam, maka sebenarnya kita tidak punya kehendak bebas. Kehendak bebas hanyalah ilusi. Alam raya ini ibarat jam besar, dimana big bang merupakan permulaan yang menggerakkan semuanya. Kita adalah bagian dari proses besar itu. Kita tidak lepas dari hukum fisika. Sejumlah elektron bergerak di dalam otak kita melalui serangkaian jaringan syaraf, memerintahkan kita untuk berpikir, bergerak, dan merasakan. Dari sudur pandang ini, dapat dikatakan bahwa hukum alam adalah representasi dari takdir.

Argumen dari Fisika Kuantum

Tunggu dulu, bagaimana dengan fisika kuantum? Bukankah fisika kuantum telah membuktikan bahwa hukum alam tidak benar-benar pasti (deterministis)? Bukankah segala sesuatunya mungkin (probabilistis)? Michio Kaku mengatakan bahwa selalu ada ketidakpastian dalam hukum fisika. Suatu partikel subatom bergerak tanpa bisa diprediksi, seolah tidak ada hukum alam yang mengaturnya, bahkan dapat berada di dua tempat secara bersamaan. Adakah ini semacam konfirmasi untuk kehendak bebas? Bukankah kehendak bebas kita rasakan nyata karena adanya ketidakpastian tentang apa yang terajadi?

Saya katakan,tidak.

Kenapa tidak? Karena itu hanya membuktikan suatu bentuk ke-acak-an (randomness), dan bukan ketiadaan kepastian. Juga, sangat mungkin keacakan itu disebabkan ketidakmampuan kita untuk memastikannya. Jadi, ketidakpastian tersebut ada bukan karena sesuatu benar-benar tidak pasti, melainkan karena nampak tidak pasti dari sudut pandang kita sebagai manusia.

Menurut saya, kehendak bebas muncul dari ketidaktahuan. Karena kita tidak tahu, maka apa yang terjadi sekian saat ke depan menjadi tidak pasti. Namun, betapapun segalanya tidak pasti, ada sesuatu yang pasti, yaitu kejadian yang sudah terjadi. Jika Anda dihadapkan pada dua pilihan, A atau B, apapun yang tidak Anda pilih tidak terjadi. Jadi, meskipun sebelum Anda memilih ada semacam ketidakpastian, pada akhirnya ada sesuatu yang pasti terjadi. Ketidakpastian hanya nampak ketika kita mencoba menerawang ke masa depan, tapi tidak ke masa lalu.

Ilusi Waktu dan Analogi Program Komputer

Neo        : But if you already know, how can I make a choice?

Oracle   : Because you didn’t come here to make the choice, you’ve already made it. You’re here to try to understand *why* you made it. I thought you’d have figured that out by now.

Jika ada entitas lain selain diri kita yang mengetahui pilihan apa yang akan kita ambil, maka dengan sendirinya kehendak bebas kita jadi tidak berarti. Entitas itu haruslah entitas yang lebih tinggi dari manusia, sebagai yang memilih. Karena manusia dan manusia lain paling jauh hanya bisa saling memprediksi satu sama lain. Hubungan kita dan entitas tersebut ibarat program dan programmernya. Tentu saja sang programmer tahu apa yang akan dilakukan oleh program buatannya, karena ia yang menulis tiap baris kode-nya. Jika Anda percaya, Anda dapat katakan programmer itu adalah analogi untuk Tuhan, dan kita adalah program ciptaan-Nya.

Tidak bisa tidak, ilusi kehendak bebas juga datang dari pemahaman kita terhadap waktu. Apa itu waktu? Waktu adalah rangkaian kejadian demi kejadian yang tak memiliki batas pasti (indefinite), atau dengan kata lain sekumpulan keberadaan, yang terjadi tanpa bisa dimundurkan (irreversible). Baik sains maupun filsafat tidak memiliki penjelasan yang pasti tentang apa yang disebut dengan ‘waktu’. Lima abad sebelum masehi, Antiphon, seorang filsuf Sophist dari Yunani, megatakan bawa waktu tidaklah real. “Time is not a reality (hypostasis), but a concept (noêma) or a measure (metron),” ungkapnya.

Sebagaimana kita merupakan bagian dari alam, kita pun tidak lepas dari penjara bernama waktu. Kita ada di dalam-nya, tanpa pernah bisa keluar. Karena itu, persepsi kita, termasuk ketidaktahuan dan ketidakpastian yang kita rasakan, juga merupakan akibat dari keberadaan kita di dalam waktu. Jika kita kembali ke analogi progam dan programmer, kita dapat membayangkan kita sebagai serangkaian kode yang sedang dijalankan. Bagi sang programmer yang mengetahui apa saja yang akan dilakukan oleh program buatannya, tidak ada bedanya apakah saat ini program tersebut sedang berjalan di bagian awal atau akhir karena, jika kode program tersebut sempurna, dan tidak ada masalah pada komputer, seluruh program tersebut akan berjalan, atau dengan kata lain, program tersebut akan ‘memenuhi takdirnya’. Selama programnya berjalan, sang programmer mengamati bagaimana program buatannya berjalan di dalam waktunya sendiri.

Tanggung Jawab Moral

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, keberadaan kehendak bebas memiliki implikasi pada tanggung jawab moral. Kita membuat pilihan, dan setiap pilihan memiliki konsekuensi. Anda dapat memilih untuk menerobos lampu merah, dan untuk itu polisi lalu lintas berhak menilang Anda jika Anda memilih untuk melakukannya. Jika kehendak bebas tidak ada, maka Anda seharusnya tidak ditilang karena menerobos lampu merah. Anda hanyalah bagian dari proses alam. Hukum alam-lah yang membuat Anda melakukannya. Kalau Anda tidak bisa menjelaskan secara fisika, jelaskan saja semuanya sebagai bagian dari hukum sebab-akibat. Tindakan Anda menerobos lampu merah adalah akibat dari sebab tertentu, misalnya karena jalanan sedang kosong (atau, seperti di sebuah iklan rokok, “Kan gak ada yang jaga…”).

Benarkah demikian adanya?

Jawabannya, ya dan tidak. Ya, karena bagaimanapun kita tidak bisa menafikkan kenyataaan bahwa kita adalah bagian dari hukum alam. Tidak, karena kenyataan bahwa kita hanya memainkan proses sebab-akibat tidak menggugurkan tanggung jawab moral kita.

Pertama, kita amini dulu bahwa semua yang ada di dunia ini berjalan mengikuti hukum sebab-akibat yang universal. Selanjutnya, kita melakukan sesuatu yang, menurut konvensi setempat, adalah tindakan yang kurang bermoral. Kemudian, kita mendapat hukuman. Kenyataannya, kita memang pantas dihukum justru dalam rangka memenuhi hukum sebab-akibat yang universal tersebut. Dengan dijalankannya sistem peradilan justru kita sebagai manusia sedang mendemonstrasikan hukum sebab-akibat di tingkat individu.

Lalu, apakah jika tidak ada hukuman, itu artinya hukum sebab-akibat menjadi runtuh? Tidak. Dia hanya tidak terjadi di tingkat person (orang, manusia), namun tetap terjadi di tingkat yang lebih mendasar lagi. Misalnya, tetap ada perasaan bersalah, atau kredibilitas kita sebagai manusia berkurang, dan kita kehilangan kerpercayaan orang lain.

Kehendak Bebas: Ilusi yang Nyata

Sejauh ini, kesimpulan yang bisa saya ambil adalah bahwa kehendak bebas adalah ilusi sekaligus kenyataan. Sebagai ilusi, dia tidak benar-benar ada, dalam artian bahwa diri kita, termasuk pilihan-pilihan kita, hanyalah bagian dari hukum alam yang universal. Sebagai kenyataan, adalah bahwa kita tidak bisa lepas darinya, bahkan setelah mengetahui adanya hukum alam yang mengatur segala tindakan kita.

Jadi, kehendak bebas dan takdir tidak saling menghilangkan satu sama lain. Keduanya ada dan nyata.

“Neo, sooner or later you’re going to realize just as I did that there’s a difference between knowing the path and walking the path.” –Morpheus (The Matrix)

Sedikit tentang Seni

“Kuliah Seni Rupa? Itu dosennya nilainya gimana? Subyektif donk?”

Pertanyaan semacam itu pasti sudah bosan didengar mereka yang berkuliah di Seni Rupa. Umum dipahami bahwa seni itu persoalan selera, dan selera itu subyektif.

Mereka yang bilang seni itu subyektif tidak salah, tapi menyederhanakan persoalan. Kita bisa berpendapat bahwa tidak mungkin penilaian seni dibuat tanpa mengikutsertakan selera. Penilaian seni memang berujung pada selera, tapi bukan dimulai dari sana.

Sekian banyak filsuf membahas seni dan estetika, tidak satupun yang memberikan penjelasan yang lengkap dan final. Tapi, singkatnya, penilaian atas keindahan melibatkan kapasitas fisik, emosional, dan intelektual sekaligus. Menurut Immanuel Kant, esuatu menjadi indah bukan karena ia menyenangkan penglihatnya. Sebaliknya, sesuatu menyenangkan penglihatnya karena dia indah[1].

Di Seni Rupa ITB, khususnya Seni Lukis, terdapat istilah ‘Trisula Seni Rupa’ yang menjadi dasar kurikulumnya, yaitu formalisme, eksprsionisme, dan simbolisme. Ini merupakan penyederhanaan dari kecenderungan gerakan-gerakan (aliran-aliran) seni modern. Konsep ini sangat membantu dalam memahami seni. Mari kita bahas satu per satu:

Formalisme adalah konsep memahami seni sebagai bentuk (form). Kualitas karya dinilai dari unsur-unsur rupa yang ada padanya, seperti warna, tekstur, bentuk, komposisi, dsb. Untuk komposisi, dapat kita rinci lagi menjadi irama, gerak, aksen, dan keseimbangan. Bagi saya sendiri, rule of thumb untuk memahami formalisme adalah dengan membayangkan setiap bentuk itu ‘hidup’ dan ‘berbicara lewat bentuknya sendiri’.

Ekspresionisme (atau ekspresivisme) berarti memahami seni dari segi ekspresi yang ditawarkannya. Ekspresi yang gamblang bisanya klise atau basi (contoh: sinetron dan lagu-lagu pop melayu). Karena itu, ekspresi yang ‘berkualitas’ adalah yang subtil, yang agak tersembunyi, yang tidak terlalu kelihatan. Ekspresi seringkali dinyatakan dengan ‘jejak’ seperti sapuan kuas dan tekstur. Pada intinya, untuk memahami ekspresi adalah dengan menghayati bagaimana suatu karya menggugah emosi kita.

Simbolisme adalah cara mengungkapkan suatu konsep dengan cara representasi. Misalnya, gambar mawar bukanlah mawar itu sendiri melainkan representasi dari konsep tentang cinta. Nilai representasi ini juga dapat dilihat dari medium yang digunakan. Misalnya ada sebuah mawar terbuat dari besi yang karatan, akan berbeda dengan mawar asli, dan akan berbeda pula dengan mawar plastik. Yang pertama menyajikan ‘cinta yang rusak atau menyakitkan’, yang kedua menghadirkan ‘cinta yang murni’, dan yang terakhir merepresentasikan ‘cinta yang artifisial’.

Pada akhirnya, ketiga konsep itu dipahami sebagai satu kesatuan yang selalu hadir di (hampir)setiap karya seni.

Ketiga hal di atas pada dasarnya dapat dipelajari. Namun, dengan kepekaan dan kecerdasan yang cukup, atau dengan kata lain, sensibilitas, mereka yang tidak mempelajari seni secara khusus mampu mengapresiasi seni.

Sampai di sini, barulah kita bisa berbicara soal selera. Sebagian orang menyukai karya seni yang ekspresif, sebagian yang lain lebih menyukai bahasa yang simbolik, dan ada pula yang lebih tertarik dengan unsur formal suatu karya. Di titik inilah kita bisa berkata, seni itu subyektif. Setiap karya punya kualitasnya sendiri.

Membaca Karya Seni

Apa yang saya tulis di atas memberikan kita bekal untuk mengapresiasi karya seni. Namun, untuk membaca suatu karya seni secara lebih dalam, kita memerlukan instrumen lain, yaitu pengetahuan tenang hal-hal di dalam dan di luar seni.

Hal-hal di dalam seni artinya sejarah seni, filsafat seni, dan dunia seni kontemporer, serta pasar seni. Dengan mengetahui sejarah seni, kita dapat dengan tepat menempatkan suatu karya di dalam urutan perkembangan seni itu sendiri. Dengan mengetahui filsafat seni, kita dapat memahami ‘tujuan’ dari karya tersebut. Dengan memahami dunia seni kontemporer dan pasar seni, kita dapat menilai apakah karya ini ‘mainstream’, sekedar mengikuti tren pasar, atau justru sebaliknya, berusaha melawan hegemoni pasar.

Hal-hal di luar seni adalah filsafat dan pengetahuan umum. Dalam kritik seni, karya seni dibaca menggunakan pendekatan teori-teori tertentu, seperti teori pertentangan kelas Karl Marx, psikoanalisis Sigmund Freud dan Jacques Lacan, hingga teori feminisme Julia Kristeva. Ini yang membuat kritik seni menarik untuk dibaca karena interpretasi seorang kritikus bisa berbeda dengan kritikus yang lain, sesuai dengan teori yang ia gunakan.

Juga tidak bisa dipisahkan dari seni adalah ilmu semiotika. Semiotika adalah ilmu tentang tanda. Secara sederhana seni dapat dipahami sebagai praktik menyusun sistem tanda. Pemahaman semiotika yang baik dapat memaksimalkan interpretasi dari suatu karya seni.

Pada akhirnya, memang seni itu subyektif. Subyektif pembuatannya, subyektif interpretasinya, dan subyektif penilainnya. Namun mengulas karya seni secara obyektif itu penting dan sama sekali bukan hal yang sia-sia. Justru mengambil jalan pintas dengan menyederhanakan seni sebagai sesuatu yang subyektif sehingga enggan mengulasnya adalah suatu bentuk kemalasan dan ignorance.


Berjalan Lurus di Jalan Berliku

Ihdinas siraatal mustaqim. Kalimat itu disebut setidaknya tujuh belas kali sehari oleh seorang muslim yang taat. Artinya, “tunjukkan kami jalan yang lurus”. ‘Lurus’ disejajarkan dengan ‘benar’, dan yang ‘benar’ niscaya adalah ‘baik’.

Namun agaknya hari-hari ini kita perlu memaknai kembali ayat ke-6 surat Al-Fatihah itu. Ini adalah zaman yang berbeda dengan empat belas abad yang lalu. Hari ini kita dihadapkan pada banyak godaan, banyak alternatif pemikiran, banyak gaya hidup. Agama jadi terlihat begitu kerdil di hadapan dunia beserta isinya.

Kita memiliki akal, dan setiap saat kita menggunakannya untuk memecahkan berbagai masalah. Disadari atau tidak, akal menjadi satu-satunya alat penentu kebenaran. Padahal sangat mungkin, di saat yang sama, akal, iman, dan rasa punya jawaban berbeda atas persoalan yang sama.

Di (Eropa) abad pertengahan, umum dipahami bahwa akal adalah hamba dari iman. Maka, apapun yang akal katakan, hendaknya bersesuaian dengan iman, atau mendukung iman. Di era Renaisans, dideklarasikan kebebasan berpikir. Akal berdiri sendiri. Sebuah formulasi yang ‘masuk akal’, nampaknya.

Namun, sejatinya tidak semua yang ditemukan akal adalah ‘benar’ atau ‘baik’. Arthur Schopenhauer misalnya, bilang, “Akal adalah budak nafsu.” Sehebat apapun akal, dia kalah oleh kehendak. Bahkan, akal digunakan untuk mencari pembenaran atas kehendak. Segala dalil dipakai, yang tidak ada dicari, pokoknya akal dieksploitasi ke titik terjauh guna memenuhi kehendak manusia. Kehendak manusia ini bervaraisi, mulai dari yang besar seperti penguasaan atas alam, hingga yang remeh temeh seperti kegiatan seksual (sebenarnya tidak se-‘remeh’ itu sih, hehehe… Eh, tapi yang bilang begitu akalku atau nafsuku?)

Hari ini, saya rasa ucapan dari abad ke-19 tersebut masih relevan, kalau bukan semakin aktual. Dengan adanya internet, kita bisa dengan mudah mencari ‘kebenaran-kebenaran’ untuk kehendak kita. Begitu saratnya dunia ini dengan ‘kebenaran’ hingga semua itu menjadi pembenaran semata. Kita menggunakan ‘akal kolektif’ yang tumbuh dari bawah’. Tidak ada pemaksaan akan kebenaran. Kita semua bebas memilih kebenaran kita sendiri. Hal yang sungguh ‘demokratis’.

Tidak bisa disangkal, hari ini kita terjajah oleh akal. Apapun yang tidak masuk akal ditolak, dan karena akal adalah budak nafsu, apapun yang tidak memenuhi hasrat ditinggalkan. Sadarkah kita betapa mudah berubahnya ‘common sense‘ kita selama beberapa dasawarsa terakhir? Kita bergerak cepat ke arah pemenuhan hasrat. Musik, film, fashion, dan segenap budaya populer lainnya adalah pengejawantahan dari pergerakan itu. Lihatlah betapa minim daya resistensi kita terhadap perubahan itu. Nilai dan norma berubah begitu cepat. Yang tadinya tidak masuk akal menjadi masuk akal. Yang tadinya menyimpnang dianggap normal. Sebaliknya, yang tadinya dianggap begitu luhur kini dianggap terbelakang. Maka benarlah kita terjajah akal, dan akal adalah budak nafsu. Akal kita demikian mudah membenarkan perubahan-perubahan tersebut.

Di tengah-tengah putaran roda zaman ini, agama jadi anomali. Agama tidak memenuhi hasrat. Sebaliknya, ia mengekangnya, menekannya, berusaha menguasainya. Jika dulu seorang agamawan adalah juga seorang ilmuwan dan filosof, sekarang tidak lagi. Ilmuwan dan filosof yang ‘sejati’ adalah para atheis atau agnostik. Mereka yang beriman kian tersingkir dari kehidupan dunia yang dikuasai akal.

Agama yang dulu sempat didukung oleh ilmu pengetahuan dan berbagai aliran filsafat pun kini kelabakan. Berbagai usaha dilakukan untuk ‘membuktikan’ isi kitab suci. Berbagai dalil filsafat dikeluarkan untuk mempertahankan iman. Kita lupa bahwa iman sebenarnya melampaui semua itu.

Di sini, saya ingin mengamini Søren Kierkegaard. Ia terkenal dengan konsep ‘lompatan iman’ (leap of faith) yang cukup sering kita dengar hari ini. Beriman berarti mempercayai sebelum ada bukti. Tentu saja, ini sering dianggap absurd. Dan, kalau dipikir-pikir lagi(dengan akal, tentunya), memang absurd. Kita disuruh mempercayai mukjizat dan cerita-cerita yang tidak masuk akal. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, Maryam hamil tanpa suami, dan ada kehidupan setelah mati. Bagaimana mungkin akal bisa menerima semua itu? Tanpa bukti pula. Sungguh absurd.

Namun di situlah poin pentingnya. Bukti menjadi tidak penting di hadapan hal-hal seperti cinta dan keberanian. Beriman, dalam pengertian tertentu, membutuhkan cinta dan keberanian. Cinta tanpa syarat pada Dia yang tak pernah kita temui. Keberanian untuk bertaruh bahwa setelah kita mati nanti ada kehidupan kembali yang menunggu kita.

Adapun pangkal dari cinta dan keberanian itu adalah penerimaan. Penerimaan atas wahyu Tuhan yang datang dengan segala aturannya. Penerimaan ini bersifat bebas tanpa paksaan. Mungkin itu sebabnya mereka yang tidak beriman sering diasosiasikan dengan orang yang sombong. Mereka tidak mau (menggunakan kebebasannya untuk) menerima.

Demikianlah, tak heran agama dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Jika ada yang berpikir ia bersikap memberontak dengan menentang ajaran agama, dia salah. Dia tidak memberontak sama sekali. Justru sebaliknya, ia menyerah pada dunia. Ia ikut arus. Agama adalah anomali dunia hari ini. Beragama ibarat berjalan lurus di jalan berliku. Pasti akan menabrak, tersandung, dan dianggap aneh oleh mereka yang ‘mengikuti jalan yang benar’.

Seorang teman pernah mengutip Robert Jastrow, “Para ilmuwan mendaki gunung. Ternyata di atas telah menunggu para agamawan.”

Seni dan Subyektivitas

Kata orang, seni itu subyektif. Yang disukai satu orang belum tentu disukai oleh orang lain. Seni itu persoalan selera, dan selera saya adalah hak saya. Saya tidak bisa memaksa Anda untuk suka durian kalau memang Anda tidak suka durian.

Demikianlah kira-kira kredo yang populer di masyarakat. Dengan alasan semacam ini, karya-karya medioker yang tidak bermutu seperti sinetron dan lagu-lagu pop melayu yang klise itu mempertahankan eksistensinya di layar kaca.

Pertama-tama, kita perlu menerima bahwa yang selalu terjadi adalah selera orang kebanyakan cenderung rendah. Orang banyak tidak bisa memahami kedalaman karya, karena rasa mereka tidak cukup peka, dan pikiran mereka tidak cukup terdidik. Jadi, wajar saja selera tinggi hanya dimiliki segelintir orang, yang sering di-cap elitis, meskipun mereka biasanya dibenci bukan karena selera mereka, melainkan karena mereka cenderung bersikap snobby (menyebalkan). Seni tinggi dan musik klasik selamanya hanya akan jadi konsumsi mereka yang elitis ini, karena memang hanya mereka yang bisa mengapresiasinya.

Selanjutnya, kita perlu memahami bahwa selera ‘tinggi’ dan ‘rendah’ MEMANG ada. Selera adalah hal yang kompleks, namun setidaknya berhubungan erat dengan pendidikan dan kelas sosial. Tidak, saya tidak bilang bahwa kelas sosial yang lebih tinggi SELALU memiliki selera yang lebih bagus, dan karenanya pendapatnya soal karya seni lebih absah. Namun, pendidikan yang tinggi biasanya menjadikan rasa lebih halus dan pikiran lebih tajam, dan karenanya membuat mereka mampu mengapresiasi karya seni yang nilai-nilainya lebih subtil dan tersembunyi.

Sebenarnya, yang paling penting untuk disoroti adalah kritik terhadap karya seni, khususnya seni populer. Penting bagi kita untuk mengartikulasikan kritik yang tajam dan tepat sasaran. Jika Anda benci sinetron, tapi tidak bisa menyampaikan kenapa sinetron itu jelek, maka Anda hanya akan terlihat sebagai orang yang ‘gak suka aja’ dengan sinetron, bukan orang dengan selera yang bagus. Di sinilah pentingnya kritik, untuk mengobjektifkan sesuatu yang sifatnya subyektif.

Tentu saja, Anda boleh tidak setuju dengan kritik tersebut, namun ketidaksetujuan itu juga sebaiknya ditunjang dengan alasan yang masuk akal dan tidak berangkat dari ignorance. Seringkali, kritik yang baik tentang kenapa Putri Yang Ditukar dan Kangen Band itu jelek, dibalas dengan komentar seperti, “Lo jangan cuma bisa ngritik doank, bisa gak bikin yang lebih bagus?! Kalo gak bsia diem aja lo!” atau, “Kalo karya anak bangsa sendiri gak dihargai, gimana mau maju?!”

Komentar-komentar semacam itulah yang justru menghambat kemajuan industri kreatif di negeri ini. Kita terlalu toleran dengan mediokritas. Yang jelek diterima begitu saja, dan segala kritik yang membangun jadi mental tak berdaya menghadapi sikap ignorant para pemirsa. Keadaan yang menyedihkan.

Plato dan Televisi

“Have you ever had a dream, Neo, that you were so sure was real? What if you were unable to wake from that dream? How would you know the difference between the dream world and the real world?”

Tersebut adalah kutipan dari salah satu film favorit saya, The Matrix, garapan Wachowski Bersaudara, yang dibintangi Keanu Reeves, Laurence Fishburne, dan Carrie-Anne Moss. Film itu bukan hanya penuh adegan action dan special effect paling mutakhir pada saat itu (1999), melainkan juga sarat dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis.

Kutipan di atas, contohnya, adalah salah satu representasi dari konsep filsafat yang dicetuskan oleh Plato yang dikenal dengan ‘Perumpamaan Gua’ (Allegory of The Cave). Plato menjelaskan bahwa kondisi manusia itu bagaikan para tahanan yang dipenjara dalam sebuah gua. Mereka terpasung dan hanya bisa menatap dinding gua. Di belakang mereka ada api, dan depan api itu ada jalan melintang, tempat berbagai macam benda melintas setiap hari. Yang dapat dilihat oleh para tahanan itu hanyalah bayangan yang ditimbulkan dari api di belakang mereka, yang terpantul ke dinding gua.

ilustrasi gua Plato

Suatu hari, salah seorang tahanan mampu melepaskan diri dan pergi ke luar gua itu. Setelah beradaptasi dengan sinar matahari yang menyilaukan, tahanan itu untuk pertama kalinya melihat dan merasakan sendiri dunia di luar gua. Ia melihat bahwa dunia di luar gua sama sekali berbeda dengan apa yang dulu dilihatnya sebagai bayangan. Ia takjub, terkesima, dan kembali ke dalam gua untuk menceritakan pengalaman ini pada teman-temannya.

Tapi apa yang terjadi? Teman-temannya tidak dapat memahami apa yang dikatakannya. Bagi mereka, bayangan-bayangan itu adalah satu-satunya kenyataan. Tahan yang telah bebas itu dituduh membual. Dalam salah satu versi cerita ini, tahanan yang bebas itu akhirnya dibunuh oleh teman-temannya sendiri.

Cerita yang dituturkan lebih dari dua milenia yang lalu ini masih relevan, kalau bukan semakin aktual, pada hari ini. Pun, sepanjang sejarah manusia, kita melihat perumpamaan gua Plato ini terjadi berulang kali. Nicolaus Copernicus yang dihukum mati karena menyatakan bumi mengelilingi matahari adalah salah satu contohnya.

Tidak sulit untuk melihat bahwa kita adalah para tahanan itu. Setiap hari kita dicekoki informasi dari media. Surat kabar, radio, televisi, hingga internet. Semua itu adalah bayang-bayang di dinding gua yang kita lihat setiap hari. Dapatkah kita mencerna informasi-informasi yang datang pada kita? Membedakan mana yang salah dan mana yang benar? Mana yang netral mana yang tendensius? Mana yang penting mana yang tidak penting?

Hari ini, informasi membombardir diri kita tiada henti. Jika orang tua kita di kampung dulu kesulitan mencari informasi karena toko buku terdekat berada 20km dari rumah mereka, sekarang kita menerima informasi bahkan tanpa kita harus beranjak sejengkal pun. Positifnya, informasi mudah didapat. Negatifnya, terlalu banyak informasi hingga kita kerepotan memilah-milahnya. Kita pun kembali menjadi tahanan dalam gua… atau mungkin sebenarnya kita tidak pernah keluar dari sana.

Arus informasi yang begitu dahsyat membuat kita sulit mengambil jarak kritis terhadap informasi itu sendiri. Kita cenderung percaya pada informasi yang kita terima sebagai kebenaran. Kita menonton televisi, melihat berita pejabat korupsi, dengan pandangan setengah kosong, kita menangkap kata-kata dan gambar. Kita bahkan tidak sempat berpikir, ‘kenapa saya harus tahu tentang hal ini?’ Tapi kita tidak peduli, berita itu dalam arti tertentu menyenangkan. Ada semacam sensasi yang halus yang timbul ketika kita menangkap informasi itu. Begitu berita tersebut berganti dengan berita yang agak membosankan, misalnya berita tentang prestasi olimpiade fisika tingkat SMA, kita segera mengganti channel, menonton acara lain… acara gosip.

Kenapa acara gosip? Karena acara tersebut memberikan sensasi yang lebih menyenangkan ketimbang berita korupsi. Lihat saja pembawa acaranya yang mengenakan gaun, di tengah setting studio dan musik latar yang dramatis, berbicara menggunakan pilihan kata-kata serta intonasi yang sensasional. Sadarkah kita, bahwa informasi tersebut tidak ada gunanya bagi kehidupan kita? Ah, siapa peduli. Yang penting acaranya bagus.

Itu baru yang terjadi di pagi hari. Di siang hari, tengah hari bolong, kita disuguhi berita kriminal. Siapa yang tidak suka berita kriminal? Saya belajar di kelas jurnalistik bahwa konflik adalah salah satu hal menarik dan karenanya selalu punya nilai berita. Juga, ada kepercayaan umum bahwa bad news is good news. Maka, berita kriminal selalu menarik. Masalah alam bawah sadar kita menjadi semakin putus asa pada kemanusiaan, itu masalah lain lagi, dan pada dasarnya kembali ke orangnya masing-masing. Media melayani kepentingan masyarakat. Membuat masyarakat semakin waspada akan kriminalitas adalah salah satu ‘tugas mulia’ mereka. Tapi kita perlu bertanya, sebenarnya acara berita kriminal itu membuat kita waspada atau justru semakin resah? Atau, lagi-lagi, itu kembali ke orangnya masing-masing?

Lalu, di petang hingga malam hari kita punya sinetron. Entah karena ditayangkan di waktu prime time, ataukah karena memang sinetron disenangi khalayak ramai, rating sinetron jadi sangat tinggi sekali. Tapi rating adalah representasi popularitas, bukan kualitas. Sudah jadi rahasia umum bahwa sinetron adalah cerita klise nan murahan, dengan kualitas akting paspasan, dan efek kamera serta suara berlebihan. Tapi rendahnya kualitas estetik sinetron selalu bisa berlindung di balik kredo ‘bagus itu relatif’. Juga, produser sinetron dapat dengan mudah berkata, ‘kalau sinetron saya jelek, kenapa yang nonton banyak?’ Demikianlah, kritik terhadap sinetron menjadi mandul.

Tentu saja, tidak semua tayangan televisi Indonesia jelek. Dan, kalaupun jelek, tidak ada yang memaksa kita menontonnya. Kalau punya uang, tinggal langganan TV kabel, dan kita bisa menikmati tayangan berkualitas dari BBC atau National Geographic. Jadi, sebenarnya tidak ada masalah, bukan?

Kalau kita menjawab tidak ada masalah, maka benarlah perkataan saya di atas bahwa kita adalah para tahanan di gua yang tidak mau keluar. Setidaknya ada tiga permasalahan yang dapat kita elaborasi lebih jauh:

  1. Kita membiarkan diri kita disuguhi tayangan yang tidak berkualitas, bahkan bersifat membodohi. Sinetron adalah representasi yang tepat dari permasalahan ini. Sudah selayaknya kita tersinggung disuguhi tayangan yang tidak kreatif dan miskin nilai seperti itu.
  2. Kita menerima informasi tanpa sempat mencerna lebih jauh. Bagaikan mengkonsumsi junk food, kita kenyang, namun makanan tersebut tidak menjadi nutrisi bagi tubuh kita. Pemberitaan di media tak ubahnya seperti sinetron, dan kita adalah penonton setianya. Pemberitaan isu-isu nasional seperti kasus Bank Century dan Nazaruddin begitu gencar, begitu sensasional, namun tidak menyelesaikan permasalahan. Satu kasus ditutup dengan kasus lainnya, dan tidak ada yang peduli dengan kasus-kasus sebelumnya.
  3. Kita menyia-nyiakan, kalau bukan menyalahgunakan, televisi sebagai sarana pendidikan yang sangat ampuh.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Secara singkat dapat dikatakan yang dapat kita lakukan adalah mengambil jarak kritis terhadap informasi yang kita terima. Yakinlah bahwa kita berhak atas tayangan-tayangan berkualitas yang memperkaya kehidupan kita.

Saya berharap suatu hari nanti, dan kalau bisa tidak jauh dari hari ini, akan ada suatu gerakan yang mengkritisi acara televisi dan perilaku penonton televisi secara ampuh. Saat ini banyak gerakan, khususnya di dunia maya, yang mengkritisi program televisi yang tidak mendidik. Saya rasa ini awal yang bagus. Akankah kita berhasil mengeluarkan teman-teman kita dari gua Plato, seperti Neo dan kawan-kawan mengeluarkan orang-orang dari The Matrix? Semoga kita tidak bosan berusaha.

Harun Suaidi Isnaini
Bandung,  11 Januari 2012