Kehendak Bebas, Takdir, dan The Matrix

Oracle   : I’d ask you to sit down, but, you’re not going to anyway. And don’t worry about the vase.

Neo        : What vase?

[Neo turns to look for a vase, and as he does, he knocks over a vase of flowers, which shatters on the floor]

Oracle   : That vase.

Neo        : I’m sorry…

Oracle   : I said don’t worry about it. I’ll get one of my kids to fix it.

Neo        : How did you know?

Oracle   : Ohh, what’s really going to bake your noodle later on is, would you still have broken it if I hadn’t said anything?

Salah satu topik yang tidak ada habis-habisnya dibahas dalam dunia filsafat adalah kehendak bebas (free will). Di satu sisi, kita merasa memiliki kebebasan menentukan apa yang kita lakukan dengan tubuh kita. Di sisi lain, segala sesuatu nampak begitu pasti, khususnya yang berkenaan dengan hukum alam.

Pertanyaan tentang kehendak bebas selalu mengganggu karena berkenaan dengan individualitas, atau dengan kata lain ‘siapa saya’. Bukankah individualitas ditentukan dari pilihan bebas kita? Bukankah hanya ketika seseorang memilih dengan bebas, dia bertanggung jawab atas pilihannya? Jika tidak ada kehendak bebas, maka seorang pembunuh sadis pun sebenarnya hanya memainkan peran yang telah ditentukan sebelumnya.

Jika kita percaya bahwa terdapat kepastian dalam hukum alam, maka sebenarnya kita tidak punya kehendak bebas. Kehendak bebas hanyalah ilusi. Alam raya ini ibarat jam besar, dimana big bang merupakan permulaan yang menggerakkan semuanya. Kita adalah bagian dari proses besar itu. Kita tidak lepas dari hukum fisika. Sejumlah elektron bergerak di dalam otak kita melalui serangkaian jaringan syaraf, memerintahkan kita untuk berpikir, bergerak, dan merasakan. Dari sudur pandang ini, dapat dikatakan bahwa hukum alam adalah representasi dari takdir.

Argumen dari Fisika Kuantum

Tunggu dulu, bagaimana dengan fisika kuantum? Bukankah fisika kuantum telah membuktikan bahwa hukum alam tidak benar-benar pasti (deterministis)? Bukankah segala sesuatunya mungkin (probabilistis)? Michio Kaku mengatakan bahwa selalu ada ketidakpastian dalam hukum fisika. Suatu partikel subatom bergerak tanpa bisa diprediksi, seolah tidak ada hukum alam yang mengaturnya, bahkan dapat berada di dua tempat secara bersamaan. Adakah ini semacam konfirmasi untuk kehendak bebas? Bukankah kehendak bebas kita rasakan nyata karena adanya ketidakpastian tentang apa yang terajadi?

Saya katakan,tidak.

Kenapa tidak? Karena itu hanya membuktikan suatu bentuk ke-acak-an (randomness), dan bukan ketiadaan kepastian. Juga, sangat mungkin keacakan itu disebabkan ketidakmampuan kita untuk memastikannya. Jadi, ketidakpastian tersebut ada bukan karena sesuatu benar-benar tidak pasti, melainkan karena nampak tidak pasti dari sudut pandang kita sebagai manusia.

Menurut saya, kehendak bebas muncul dari ketidaktahuan. Karena kita tidak tahu, maka apa yang terjadi sekian saat ke depan menjadi tidak pasti. Namun, betapapun segalanya tidak pasti, ada sesuatu yang pasti, yaitu kejadian yang sudah terjadi. Jika Anda dihadapkan pada dua pilihan, A atau B, apapun yang tidak Anda pilih tidak terjadi. Jadi, meskipun sebelum Anda memilih ada semacam ketidakpastian, pada akhirnya ada sesuatu yang pasti terjadi. Ketidakpastian hanya nampak ketika kita mencoba menerawang ke masa depan, tapi tidak ke masa lalu.

Ilusi Waktu dan Analogi Program Komputer

Neo        : But if you already know, how can I make a choice?

Oracle   : Because you didn’t come here to make the choice, you’ve already made it. You’re here to try to understand *why* you made it. I thought you’d have figured that out by now.

Jika ada entitas lain selain diri kita yang mengetahui pilihan apa yang akan kita ambil, maka dengan sendirinya kehendak bebas kita jadi tidak berarti. Entitas itu haruslah entitas yang lebih tinggi dari manusia, sebagai yang memilih. Karena manusia dan manusia lain paling jauh hanya bisa saling memprediksi satu sama lain. Hubungan kita dan entitas tersebut ibarat program dan programmernya. Tentu saja sang programmer tahu apa yang akan dilakukan oleh program buatannya, karena ia yang menulis tiap baris kode-nya. Jika Anda percaya, Anda dapat katakan programmer itu adalah analogi untuk Tuhan, dan kita adalah program ciptaan-Nya.

Tidak bisa tidak, ilusi kehendak bebas juga datang dari pemahaman kita terhadap waktu. Apa itu waktu? Waktu adalah rangkaian kejadian demi kejadian yang tak memiliki batas pasti (indefinite), atau dengan kata lain sekumpulan keberadaan, yang terjadi tanpa bisa dimundurkan (irreversible). Baik sains maupun filsafat tidak memiliki penjelasan yang pasti tentang apa yang disebut dengan ‘waktu’. Lima abad sebelum masehi, Antiphon, seorang filsuf Sophist dari Yunani, megatakan bawa waktu tidaklah real. “Time is not a reality (hypostasis), but a concept (noêma) or a measure (metron),” ungkapnya.

Sebagaimana kita merupakan bagian dari alam, kita pun tidak lepas dari penjara bernama waktu. Kita ada di dalam-nya, tanpa pernah bisa keluar. Karena itu, persepsi kita, termasuk ketidaktahuan dan ketidakpastian yang kita rasakan, juga merupakan akibat dari keberadaan kita di dalam waktu. Jika kita kembali ke analogi progam dan programmer, kita dapat membayangkan kita sebagai serangkaian kode yang sedang dijalankan. Bagi sang programmer yang mengetahui apa saja yang akan dilakukan oleh program buatannya, tidak ada bedanya apakah saat ini program tersebut sedang berjalan di bagian awal atau akhir karena, jika kode program tersebut sempurna, dan tidak ada masalah pada komputer, seluruh program tersebut akan berjalan, atau dengan kata lain, program tersebut akan ‘memenuhi takdirnya’. Selama programnya berjalan, sang programmer mengamati bagaimana program buatannya berjalan di dalam waktunya sendiri.

Tanggung Jawab Moral

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, keberadaan kehendak bebas memiliki implikasi pada tanggung jawab moral. Kita membuat pilihan, dan setiap pilihan memiliki konsekuensi. Anda dapat memilih untuk menerobos lampu merah, dan untuk itu polisi lalu lintas berhak menilang Anda jika Anda memilih untuk melakukannya. Jika kehendak bebas tidak ada, maka Anda seharusnya tidak ditilang karena menerobos lampu merah. Anda hanyalah bagian dari proses alam. Hukum alam-lah yang membuat Anda melakukannya. Kalau Anda tidak bisa menjelaskan secara fisika, jelaskan saja semuanya sebagai bagian dari hukum sebab-akibat. Tindakan Anda menerobos lampu merah adalah akibat dari sebab tertentu, misalnya karena jalanan sedang kosong (atau, seperti di sebuah iklan rokok, “Kan gak ada yang jaga…”).

Benarkah demikian adanya?

Jawabannya, ya dan tidak. Ya, karena bagaimanapun kita tidak bisa menafikkan kenyataaan bahwa kita adalah bagian dari hukum alam. Tidak, karena kenyataan bahwa kita hanya memainkan proses sebab-akibat tidak menggugurkan tanggung jawab moral kita.

Pertama, kita amini dulu bahwa semua yang ada di dunia ini berjalan mengikuti hukum sebab-akibat yang universal. Selanjutnya, kita melakukan sesuatu yang, menurut konvensi setempat, adalah tindakan yang kurang bermoral. Kemudian, kita mendapat hukuman. Kenyataannya, kita memang pantas dihukum justru dalam rangka memenuhi hukum sebab-akibat yang universal tersebut. Dengan dijalankannya sistem peradilan justru kita sebagai manusia sedang mendemonstrasikan hukum sebab-akibat di tingkat individu.

Lalu, apakah jika tidak ada hukuman, itu artinya hukum sebab-akibat menjadi runtuh? Tidak. Dia hanya tidak terjadi di tingkat person (orang, manusia), namun tetap terjadi di tingkat yang lebih mendasar lagi. Misalnya, tetap ada perasaan bersalah, atau kredibilitas kita sebagai manusia berkurang, dan kita kehilangan kerpercayaan orang lain.

Kehendak Bebas: Ilusi yang Nyata

Sejauh ini, kesimpulan yang bisa saya ambil adalah bahwa kehendak bebas adalah ilusi sekaligus kenyataan. Sebagai ilusi, dia tidak benar-benar ada, dalam artian bahwa diri kita, termasuk pilihan-pilihan kita, hanyalah bagian dari hukum alam yang universal. Sebagai kenyataan, adalah bahwa kita tidak bisa lepas darinya, bahkan setelah mengetahui adanya hukum alam yang mengatur segala tindakan kita.

Jadi, kehendak bebas dan takdir tidak saling menghilangkan satu sama lain. Keduanya ada dan nyata.

“Neo, sooner or later you’re going to realize just as I did that there’s a difference between knowing the path and walking the path.” –Morpheus (The Matrix)

Sedikit tentang Seni

“Kuliah Seni Rupa? Itu dosennya nilainya gimana? Subyektif donk?”

Pertanyaan semacam itu pasti sudah bosan didengar mereka yang berkuliah di Seni Rupa. Umum dipahami bahwa seni itu persoalan selera, dan selera itu subyektif.

Mereka yang bilang seni itu subyektif tidak salah, tapi menyederhanakan persoalan. Kita bisa berpendapat bahwa tidak mungkin penilaian seni dibuat tanpa mengikutsertakan selera. Penilaian seni memang berujung pada selera, tapi bukan dimulai dari sana.

Sekian banyak filsuf membahas seni dan estetika, tidak satupun yang memberikan penjelasan yang lengkap dan final. Tapi, singkatnya, penilaian atas keindahan melibatkan kapasitas fisik, emosional, dan intelektual sekaligus. Menurut Immanuel Kant, esuatu menjadi indah bukan karena ia menyenangkan penglihatnya. Sebaliknya, sesuatu menyenangkan penglihatnya karena dia indah[1].

Di Seni Rupa ITB, khususnya Seni Lukis, terdapat istilah ‘Trisula Seni Rupa’ yang menjadi dasar kurikulumnya, yaitu formalisme, eksprsionisme, dan simbolisme. Ini merupakan penyederhanaan dari kecenderungan gerakan-gerakan (aliran-aliran) seni modern. Konsep ini sangat membantu dalam memahami seni. Mari kita bahas satu per satu:

Formalisme adalah konsep memahami seni sebagai bentuk (form). Kualitas karya dinilai dari unsur-unsur rupa yang ada padanya, seperti warna, tekstur, bentuk, komposisi, dsb. Untuk komposisi, dapat kita rinci lagi menjadi irama, gerak, aksen, dan keseimbangan. Bagi saya sendiri, rule of thumb untuk memahami formalisme adalah dengan membayangkan setiap bentuk itu ‘hidup’ dan ‘berbicara lewat bentuknya sendiri’.

Ekspresionisme (atau ekspresivisme) berarti memahami seni dari segi ekspresi yang ditawarkannya. Ekspresi yang gamblang bisanya klise atau basi (contoh: sinetron dan lagu-lagu pop melayu). Karena itu, ekspresi yang ‘berkualitas’ adalah yang subtil, yang agak tersembunyi, yang tidak terlalu kelihatan. Ekspresi seringkali dinyatakan dengan ‘jejak’ seperti sapuan kuas dan tekstur. Pada intinya, untuk memahami ekspresi adalah dengan menghayati bagaimana suatu karya menggugah emosi kita.

Simbolisme adalah cara mengungkapkan suatu konsep dengan cara representasi. Misalnya, gambar mawar bukanlah mawar itu sendiri melainkan representasi dari konsep tentang cinta. Nilai representasi ini juga dapat dilihat dari medium yang digunakan. Misalnya ada sebuah mawar terbuat dari besi yang karatan, akan berbeda dengan mawar asli, dan akan berbeda pula dengan mawar plastik. Yang pertama menyajikan ‘cinta yang rusak atau menyakitkan’, yang kedua menghadirkan ‘cinta yang murni’, dan yang terakhir merepresentasikan ‘cinta yang artifisial’.

Pada akhirnya, ketiga konsep itu dipahami sebagai satu kesatuan yang selalu hadir di (hampir)setiap karya seni.

Ketiga hal di atas pada dasarnya dapat dipelajari. Namun, dengan kepekaan dan kecerdasan yang cukup, atau dengan kata lain, sensibilitas, mereka yang tidak mempelajari seni secara khusus mampu mengapresiasi seni.

Sampai di sini, barulah kita bisa berbicara soal selera. Sebagian orang menyukai karya seni yang ekspresif, sebagian yang lain lebih menyukai bahasa yang simbolik, dan ada pula yang lebih tertarik dengan unsur formal suatu karya. Di titik inilah kita bisa berkata, seni itu subyektif. Setiap karya punya kualitasnya sendiri.

Membaca Karya Seni

Apa yang saya tulis di atas memberikan kita bekal untuk mengapresiasi karya seni. Namun, untuk membaca suatu karya seni secara lebih dalam, kita memerlukan instrumen lain, yaitu pengetahuan tenang hal-hal di dalam dan di luar seni.

Hal-hal di dalam seni artinya sejarah seni, filsafat seni, dan dunia seni kontemporer, serta pasar seni. Dengan mengetahui sejarah seni, kita dapat dengan tepat menempatkan suatu karya di dalam urutan perkembangan seni itu sendiri. Dengan mengetahui filsafat seni, kita dapat memahami ‘tujuan’ dari karya tersebut. Dengan memahami dunia seni kontemporer dan pasar seni, kita dapat menilai apakah karya ini ‘mainstream’, sekedar mengikuti tren pasar, atau justru sebaliknya, berusaha melawan hegemoni pasar.

Hal-hal di luar seni adalah filsafat dan pengetahuan umum. Dalam kritik seni, karya seni dibaca menggunakan pendekatan teori-teori tertentu, seperti teori pertentangan kelas Karl Marx, psikoanalisis Sigmund Freud dan Jacques Lacan, hingga teori feminisme Julia Kristeva. Ini yang membuat kritik seni menarik untuk dibaca karena interpretasi seorang kritikus bisa berbeda dengan kritikus yang lain, sesuai dengan teori yang ia gunakan.

Juga tidak bisa dipisahkan dari seni adalah ilmu semiotika. Semiotika adalah ilmu tentang tanda. Secara sederhana seni dapat dipahami sebagai praktik menyusun sistem tanda. Pemahaman semiotika yang baik dapat memaksimalkan interpretasi dari suatu karya seni.

Pada akhirnya, memang seni itu subyektif. Subyektif pembuatannya, subyektif interpretasinya, dan subyektif penilainnya. Namun mengulas karya seni secara obyektif itu penting dan sama sekali bukan hal yang sia-sia. Justru mengambil jalan pintas dengan menyederhanakan seni sebagai sesuatu yang subyektif sehingga enggan mengulasnya adalah suatu bentuk kemalasan dan ignorance.


Lelaki, tentang Makeup Wanita

Suatu hari, di hari-hari ini, tersebutlah seorang Lelaki. Lelaki hidup di zaman serba canggih cepat mudah. Negerinya makmur tenteram bahagia. Kehidupan damai sejahtera sentausa.

Entah dari mana, sekonyong-konyong datang Wanita. Wanita cantik jelita. Putih mulus tanpa noda. Apalagi jerawat di muka. Tak dinyana, Lelaki suka.

Tapi Lelaki tahu, Wanita mengenakan makeup. Lihat itu bedaknya putih, lipstiknya merah, blush on-nya merah muda. Segala jenis produk kecantikan menempel di wajahnya.

Lelaki tak habis pikir, kenapa Wanita berbuat demikian, menghias wajahnya begitu rupa, tebal, menutupi wajahnya sendiri. Jangan-jangan dia tidak pede? Atau sebenarnya dia jelek? Lelaki melamun, tak mengerti. Memang Wanita sulit dimengerti. Dia sudah dengar itu, berkali-kali.

Syahdan, lelaki mengharapkan wanita tak menggunakan makeup. Maka diciptakanlah makeup yang membuat wanita seperti tidak memakai makeup. Foundationnya warna kulit alami, bibirnya efek glossy, pipinya merona segar seperti habis mandi.

Lelaki jatuh hati, meski tahu makeup masih menempel di wajah Wanita, cantiknya tak bisa ditolak. Begitu alami, begitu mempesona. Lelaki jadi galau sendiri.

Kata Orang, wanita lebih suka dibohongi. Sebenarnya Lelaki juga. Setiap hari Lelaki dibohongi oleh wanita dan makeupnya, tanpa bisa melawan. Di hadapan yang indah-indah, memang otak kita jadi beku kelu tak berfungsi normal.

Namun akhirnya Lelaki bangkit, bertanya pada Wanita, “Mengapa Engkau lakukan itu? Mengapa Engkau menipuku dengan makeup-mu?”

Betapa kagetnya Lelaki mendengar jawaban Wanita, “Siapa bilang aku berdandan untukmu, Lelaki? Aku berdandan untuk Wanita Lain.”

Rupanya Wanita ingin lebih cantik dari Wanita Lain. Lelaki terjebak di tengah persaingan antar keduanya, tak berkutik. Lelaki semakin tak mengerti Wanita.

Apa daya Lelaki bodoh, tak menyadarinya hingga hari ini. Kecele jadinya. Sekali lagi, ia berdoa, “Ya Tuhan, ciptakanlah dunia tanpa makeup.”

Waktu berlalu, doa belum dijawab, malah makeup semakin canggih. Dilihatnya pasar, bergudang-gudang produk kecantikan, seolah akan terbeli semuanya. Kenyataannya memang akan terbeli semuanya. Ah, memang Tuhan lebih tahu, Lelaki lebih senang ditipu.

Lelaki bertanya, “Kapan akan kulihat kecantikan asli Wanita?” Orang menjawab, “Nanti, setelah menikah.” Dan, oh, betapa dia benar.

Syahdan, Lelaki dan Wanita menikah. Setelah menikah, luntur semua makeup. Wajah asli Wanita terlihat. Tak seindah bayangan Lelaki. Lelaki kecele lagi, dua kali.

Ah, tapi apa daya, sudah kadung bercinta. Jalani saja, biar bosan jenuh sengsara. Namanya juga cinta, harus bisa menerima. Lelaki tertegun, mungkin itulah cinta sejati, pikirnya. Penerimaan yang teruji waktu. Bukan gelora hati saat pertama bertemu.

Tiba-tiba lelaki mengerti, Kakek dan Nenek tak lagi peduli rupa. Karena setelah keriput melanda, tinggal hati yang tersisa.

Lalu Lelaki berpetuah pada anak-anaknya, “Janganlah Engkau tergoda makeup Wanita. Kalau terlanjur, terima apa yang ada di baliknya.” Lelaki tahu, anaknya tak mengerti. Ah, Remaja. Biarlah, suatu saat nanti dia akan tahu sendiri.

Berjalan Lurus di Jalan Berliku

Ihdinas siraatal mustaqim. Kalimat itu disebut setidaknya tujuh belas kali sehari oleh seorang muslim yang taat. Artinya, “tunjukkan kami jalan yang lurus”. ‘Lurus’ disejajarkan dengan ‘benar’, dan yang ‘benar’ niscaya adalah ‘baik’.

Namun agaknya hari-hari ini kita perlu memaknai kembali ayat ke-6 surat Al-Fatihah itu. Ini adalah zaman yang berbeda dengan empat belas abad yang lalu. Hari ini kita dihadapkan pada banyak godaan, banyak alternatif pemikiran, banyak gaya hidup. Agama jadi terlihat begitu kerdil di hadapan dunia beserta isinya.

Kita memiliki akal, dan setiap saat kita menggunakannya untuk memecahkan berbagai masalah. Disadari atau tidak, akal menjadi satu-satunya alat penentu kebenaran. Padahal sangat mungkin, di saat yang sama, akal, iman, dan rasa punya jawaban berbeda atas persoalan yang sama.

Di (Eropa) abad pertengahan, umum dipahami bahwa akal adalah hamba dari iman. Maka, apapun yang akal katakan, hendaknya bersesuaian dengan iman, atau mendukung iman. Di era Renaisans, dideklarasikan kebebasan berpikir. Akal berdiri sendiri. Sebuah formulasi yang ‘masuk akal’, nampaknya.

Namun, sejatinya tidak semua yang ditemukan akal adalah ‘benar’ atau ‘baik’. Arthur Schopenhauer misalnya, bilang, “Akal adalah budak nafsu.” Sehebat apapun akal, dia kalah oleh kehendak. Bahkan, akal digunakan untuk mencari pembenaran atas kehendak. Segala dalil dipakai, yang tidak ada dicari, pokoknya akal dieksploitasi ke titik terjauh guna memenuhi kehendak manusia. Kehendak manusia ini bervaraisi, mulai dari yang besar seperti penguasaan atas alam, hingga yang remeh temeh seperti kegiatan seksual (sebenarnya tidak se-‘remeh’ itu sih, hehehe… Eh, tapi yang bilang begitu akalku atau nafsuku?)

Hari ini, saya rasa ucapan dari abad ke-19 tersebut masih relevan, kalau bukan semakin aktual. Dengan adanya internet, kita bisa dengan mudah mencari ‘kebenaran-kebenaran’ untuk kehendak kita. Begitu saratnya dunia ini dengan ‘kebenaran’ hingga semua itu menjadi pembenaran semata. Kita menggunakan ‘akal kolektif’ yang tumbuh dari bawah’. Tidak ada pemaksaan akan kebenaran. Kita semua bebas memilih kebenaran kita sendiri. Hal yang sungguh ‘demokratis’.

Tidak bisa disangkal, hari ini kita terjajah oleh akal. Apapun yang tidak masuk akal ditolak, dan karena akal adalah budak nafsu, apapun yang tidak memenuhi hasrat ditinggalkan. Sadarkah kita betapa mudah berubahnya ‘common sense‘ kita selama beberapa dasawarsa terakhir? Kita bergerak cepat ke arah pemenuhan hasrat. Musik, film, fashion, dan segenap budaya populer lainnya adalah pengejawantahan dari pergerakan itu. Lihatlah betapa minim daya resistensi kita terhadap perubahan itu. Nilai dan norma berubah begitu cepat. Yang tadinya tidak masuk akal menjadi masuk akal. Yang tadinya menyimpnang dianggap normal. Sebaliknya, yang tadinya dianggap begitu luhur kini dianggap terbelakang. Maka benarlah kita terjajah akal, dan akal adalah budak nafsu. Akal kita demikian mudah membenarkan perubahan-perubahan tersebut.

Di tengah-tengah putaran roda zaman ini, agama jadi anomali. Agama tidak memenuhi hasrat. Sebaliknya, ia mengekangnya, menekannya, berusaha menguasainya. Jika dulu seorang agamawan adalah juga seorang ilmuwan dan filosof, sekarang tidak lagi. Ilmuwan dan filosof yang ‘sejati’ adalah para atheis atau agnostik. Mereka yang beriman kian tersingkir dari kehidupan dunia yang dikuasai akal.

Agama yang dulu sempat didukung oleh ilmu pengetahuan dan berbagai aliran filsafat pun kini kelabakan. Berbagai usaha dilakukan untuk ‘membuktikan’ isi kitab suci. Berbagai dalil filsafat dikeluarkan untuk mempertahankan iman. Kita lupa bahwa iman sebenarnya melampaui semua itu.

Di sini, saya ingin mengamini Søren Kierkegaard. Ia terkenal dengan konsep ‘lompatan iman’ (leap of faith) yang cukup sering kita dengar hari ini. Beriman berarti mempercayai sebelum ada bukti. Tentu saja, ini sering dianggap absurd. Dan, kalau dipikir-pikir lagi(dengan akal, tentunya), memang absurd. Kita disuruh mempercayai mukjizat dan cerita-cerita yang tidak masuk akal. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, Maryam hamil tanpa suami, dan ada kehidupan setelah mati. Bagaimana mungkin akal bisa menerima semua itu? Tanpa bukti pula. Sungguh absurd.

Namun di situlah poin pentingnya. Bukti menjadi tidak penting di hadapan hal-hal seperti cinta dan keberanian. Beriman, dalam pengertian tertentu, membutuhkan cinta dan keberanian. Cinta tanpa syarat pada Dia yang tak pernah kita temui. Keberanian untuk bertaruh bahwa setelah kita mati nanti ada kehidupan kembali yang menunggu kita.

Adapun pangkal dari cinta dan keberanian itu adalah penerimaan. Penerimaan atas wahyu Tuhan yang datang dengan segala aturannya. Penerimaan ini bersifat bebas tanpa paksaan. Mungkin itu sebabnya mereka yang tidak beriman sering diasosiasikan dengan orang yang sombong. Mereka tidak mau (menggunakan kebebasannya untuk) menerima.

Demikianlah, tak heran agama dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Jika ada yang berpikir ia bersikap memberontak dengan menentang ajaran agama, dia salah. Dia tidak memberontak sama sekali. Justru sebaliknya, ia menyerah pada dunia. Ia ikut arus. Agama adalah anomali dunia hari ini. Beragama ibarat berjalan lurus di jalan berliku. Pasti akan menabrak, tersandung, dan dianggap aneh oleh mereka yang ‘mengikuti jalan yang benar’.

Seorang teman pernah mengutip Robert Jastrow, “Para ilmuwan mendaki gunung. Ternyata di atas telah menunggu para agamawan.”

Seni dan Subyektivitas

Kata orang, seni itu subyektif. Yang disukai satu orang belum tentu disukai oleh orang lain. Seni itu persoalan selera, dan selera saya adalah hak saya. Saya tidak bisa memaksa Anda untuk suka durian kalau memang Anda tidak suka durian.

Demikianlah kira-kira kredo yang populer di masyarakat. Dengan alasan semacam ini, karya-karya medioker yang tidak bermutu seperti sinetron dan lagu-lagu pop melayu yang klise itu mempertahankan eksistensinya di layar kaca.

Pertama-tama, kita perlu menerima bahwa yang selalu terjadi adalah selera orang kebanyakan cenderung rendah. Orang banyak tidak bisa memahami kedalaman karya, karena rasa mereka tidak cukup peka, dan pikiran mereka tidak cukup terdidik. Jadi, wajar saja selera tinggi hanya dimiliki segelintir orang, yang sering di-cap elitis, meskipun mereka biasanya dibenci bukan karena selera mereka, melainkan karena mereka cenderung bersikap snobby (menyebalkan). Seni tinggi dan musik klasik selamanya hanya akan jadi konsumsi mereka yang elitis ini, karena memang hanya mereka yang bisa mengapresiasinya.

Selanjutnya, kita perlu memahami bahwa selera ‘tinggi’ dan ‘rendah’ MEMANG ada. Selera adalah hal yang kompleks, namun setidaknya berhubungan erat dengan pendidikan dan kelas sosial. Tidak, saya tidak bilang bahwa kelas sosial yang lebih tinggi SELALU memiliki selera yang lebih bagus, dan karenanya pendapatnya soal karya seni lebih absah. Namun, pendidikan yang tinggi biasanya menjadikan rasa lebih halus dan pikiran lebih tajam, dan karenanya membuat mereka mampu mengapresiasi karya seni yang nilai-nilainya lebih subtil dan tersembunyi.

Sebenarnya, yang paling penting untuk disoroti adalah kritik terhadap karya seni, khususnya seni populer. Penting bagi kita untuk mengartikulasikan kritik yang tajam dan tepat sasaran. Jika Anda benci sinetron, tapi tidak bisa menyampaikan kenapa sinetron itu jelek, maka Anda hanya akan terlihat sebagai orang yang ‘gak suka aja’ dengan sinetron, bukan orang dengan selera yang bagus. Di sinilah pentingnya kritik, untuk mengobjektifkan sesuatu yang sifatnya subyektif.

Tentu saja, Anda boleh tidak setuju dengan kritik tersebut, namun ketidaksetujuan itu juga sebaiknya ditunjang dengan alasan yang masuk akal dan tidak berangkat dari ignorance. Seringkali, kritik yang baik tentang kenapa Putri Yang Ditukar dan Kangen Band itu jelek, dibalas dengan komentar seperti, “Lo jangan cuma bisa ngritik doank, bisa gak bikin yang lebih bagus?! Kalo gak bsia diem aja lo!” atau, “Kalo karya anak bangsa sendiri gak dihargai, gimana mau maju?!”

Komentar-komentar semacam itulah yang justru menghambat kemajuan industri kreatif di negeri ini. Kita terlalu toleran dengan mediokritas. Yang jelek diterima begitu saja, dan segala kritik yang membangun jadi mental tak berdaya menghadapi sikap ignorant para pemirsa. Keadaan yang menyedihkan.

Plato dan Televisi

“Have you ever had a dream, Neo, that you were so sure was real? What if you were unable to wake from that dream? How would you know the difference between the dream world and the real world?”

Tersebut adalah kutipan dari salah satu film favorit saya, The Matrix, garapan Wachowski Bersaudara, yang dibintangi Keanu Reeves, Laurence Fishburne, dan Carrie-Anne Moss. Film itu bukan hanya penuh adegan action dan special effect paling mutakhir pada saat itu (1999), melainkan juga sarat dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis.

Kutipan di atas, contohnya, adalah salah satu representasi dari konsep filsafat yang dicetuskan oleh Plato yang dikenal dengan ‘Perumpamaan Gua’ (Allegory of The Cave). Plato menjelaskan bahwa kondisi manusia itu bagaikan para tahanan yang dipenjara dalam sebuah gua. Mereka terpasung dan hanya bisa menatap dinding gua. Di belakang mereka ada api, dan depan api itu ada jalan melintang, tempat berbagai macam benda melintas setiap hari. Yang dapat dilihat oleh para tahanan itu hanyalah bayangan yang ditimbulkan dari api di belakang mereka, yang terpantul ke dinding gua.

ilustrasi gua Plato

Suatu hari, salah seorang tahanan mampu melepaskan diri dan pergi ke luar gua itu. Setelah beradaptasi dengan sinar matahari yang menyilaukan, tahanan itu untuk pertama kalinya melihat dan merasakan sendiri dunia di luar gua. Ia melihat bahwa dunia di luar gua sama sekali berbeda dengan apa yang dulu dilihatnya sebagai bayangan. Ia takjub, terkesima, dan kembali ke dalam gua untuk menceritakan pengalaman ini pada teman-temannya.

Tapi apa yang terjadi? Teman-temannya tidak dapat memahami apa yang dikatakannya. Bagi mereka, bayangan-bayangan itu adalah satu-satunya kenyataan. Tahan yang telah bebas itu dituduh membual. Dalam salah satu versi cerita ini, tahanan yang bebas itu akhirnya dibunuh oleh teman-temannya sendiri.

Cerita yang dituturkan lebih dari dua milenia yang lalu ini masih relevan, kalau bukan semakin aktual, pada hari ini. Pun, sepanjang sejarah manusia, kita melihat perumpamaan gua Plato ini terjadi berulang kali. Nicolaus Copernicus yang dihukum mati karena menyatakan bumi mengelilingi matahari adalah salah satu contohnya.

Tidak sulit untuk melihat bahwa kita adalah para tahanan itu. Setiap hari kita dicekoki informasi dari media. Surat kabar, radio, televisi, hingga internet. Semua itu adalah bayang-bayang di dinding gua yang kita lihat setiap hari. Dapatkah kita mencerna informasi-informasi yang datang pada kita? Membedakan mana yang salah dan mana yang benar? Mana yang netral mana yang tendensius? Mana yang penting mana yang tidak penting?

Hari ini, informasi membombardir diri kita tiada henti. Jika orang tua kita di kampung dulu kesulitan mencari informasi karena toko buku terdekat berada 20km dari rumah mereka, sekarang kita menerima informasi bahkan tanpa kita harus beranjak sejengkal pun. Positifnya, informasi mudah didapat. Negatifnya, terlalu banyak informasi hingga kita kerepotan memilah-milahnya. Kita pun kembali menjadi tahanan dalam gua… atau mungkin sebenarnya kita tidak pernah keluar dari sana.

Arus informasi yang begitu dahsyat membuat kita sulit mengambil jarak kritis terhadap informasi itu sendiri. Kita cenderung percaya pada informasi yang kita terima sebagai kebenaran. Kita menonton televisi, melihat berita pejabat korupsi, dengan pandangan setengah kosong, kita menangkap kata-kata dan gambar. Kita bahkan tidak sempat berpikir, ‘kenapa saya harus tahu tentang hal ini?’ Tapi kita tidak peduli, berita itu dalam arti tertentu menyenangkan. Ada semacam sensasi yang halus yang timbul ketika kita menangkap informasi itu. Begitu berita tersebut berganti dengan berita yang agak membosankan, misalnya berita tentang prestasi olimpiade fisika tingkat SMA, kita segera mengganti channel, menonton acara lain… acara gosip.

Kenapa acara gosip? Karena acara tersebut memberikan sensasi yang lebih menyenangkan ketimbang berita korupsi. Lihat saja pembawa acaranya yang mengenakan gaun, di tengah setting studio dan musik latar yang dramatis, berbicara menggunakan pilihan kata-kata serta intonasi yang sensasional. Sadarkah kita, bahwa informasi tersebut tidak ada gunanya bagi kehidupan kita? Ah, siapa peduli. Yang penting acaranya bagus.

Itu baru yang terjadi di pagi hari. Di siang hari, tengah hari bolong, kita disuguhi berita kriminal. Siapa yang tidak suka berita kriminal? Saya belajar di kelas jurnalistik bahwa konflik adalah salah satu hal menarik dan karenanya selalu punya nilai berita. Juga, ada kepercayaan umum bahwa bad news is good news. Maka, berita kriminal selalu menarik. Masalah alam bawah sadar kita menjadi semakin putus asa pada kemanusiaan, itu masalah lain lagi, dan pada dasarnya kembali ke orangnya masing-masing. Media melayani kepentingan masyarakat. Membuat masyarakat semakin waspada akan kriminalitas adalah salah satu ‘tugas mulia’ mereka. Tapi kita perlu bertanya, sebenarnya acara berita kriminal itu membuat kita waspada atau justru semakin resah? Atau, lagi-lagi, itu kembali ke orangnya masing-masing?

Lalu, di petang hingga malam hari kita punya sinetron. Entah karena ditayangkan di waktu prime time, ataukah karena memang sinetron disenangi khalayak ramai, rating sinetron jadi sangat tinggi sekali. Tapi rating adalah representasi popularitas, bukan kualitas. Sudah jadi rahasia umum bahwa sinetron adalah cerita klise nan murahan, dengan kualitas akting paspasan, dan efek kamera serta suara berlebihan. Tapi rendahnya kualitas estetik sinetron selalu bisa berlindung di balik kredo ‘bagus itu relatif’. Juga, produser sinetron dapat dengan mudah berkata, ‘kalau sinetron saya jelek, kenapa yang nonton banyak?’ Demikianlah, kritik terhadap sinetron menjadi mandul.

Tentu saja, tidak semua tayangan televisi Indonesia jelek. Dan, kalaupun jelek, tidak ada yang memaksa kita menontonnya. Kalau punya uang, tinggal langganan TV kabel, dan kita bisa menikmati tayangan berkualitas dari BBC atau National Geographic. Jadi, sebenarnya tidak ada masalah, bukan?

Kalau kita menjawab tidak ada masalah, maka benarlah perkataan saya di atas bahwa kita adalah para tahanan di gua yang tidak mau keluar. Setidaknya ada tiga permasalahan yang dapat kita elaborasi lebih jauh:

  1. Kita membiarkan diri kita disuguhi tayangan yang tidak berkualitas, bahkan bersifat membodohi. Sinetron adalah representasi yang tepat dari permasalahan ini. Sudah selayaknya kita tersinggung disuguhi tayangan yang tidak kreatif dan miskin nilai seperti itu.
  2. Kita menerima informasi tanpa sempat mencerna lebih jauh. Bagaikan mengkonsumsi junk food, kita kenyang, namun makanan tersebut tidak menjadi nutrisi bagi tubuh kita. Pemberitaan di media tak ubahnya seperti sinetron, dan kita adalah penonton setianya. Pemberitaan isu-isu nasional seperti kasus Bank Century dan Nazaruddin begitu gencar, begitu sensasional, namun tidak menyelesaikan permasalahan. Satu kasus ditutup dengan kasus lainnya, dan tidak ada yang peduli dengan kasus-kasus sebelumnya.
  3. Kita menyia-nyiakan, kalau bukan menyalahgunakan, televisi sebagai sarana pendidikan yang sangat ampuh.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Secara singkat dapat dikatakan yang dapat kita lakukan adalah mengambil jarak kritis terhadap informasi yang kita terima. Yakinlah bahwa kita berhak atas tayangan-tayangan berkualitas yang memperkaya kehidupan kita.

Saya berharap suatu hari nanti, dan kalau bisa tidak jauh dari hari ini, akan ada suatu gerakan yang mengkritisi acara televisi dan perilaku penonton televisi secara ampuh. Saat ini banyak gerakan, khususnya di dunia maya, yang mengkritisi program televisi yang tidak mendidik. Saya rasa ini awal yang bagus. Akankah kita berhasil mengeluarkan teman-teman kita dari gua Plato, seperti Neo dan kawan-kawan mengeluarkan orang-orang dari The Matrix? Semoga kita tidak bosan berusaha.

Harun Suaidi Isnaini
Bandung,  11 Januari 2012