Kebebasan dan Kebenaran

Jadi, di hadapanmu ada Kebebasan dan Kebenaran. Kamu harus memilih salah satunya.

Jika kamu memilih Kebebasan, maka kamu dipersilahkan mengusahakan apa saja demi kebahagiaanmu, tentu saja dengan mematuhi hukum sebab-akibat yang tidak tidak mungkin dipisahkan sebagai cara kerja alam semesta ini. Kamu bebas bermimpi, berpikir, dan berbuat. Kamu bebas mengimajinasikan Tuhan, kamu bebas beribadah kepadanya dengan cara yang menurutmu baik, bahkan kamu bebas untuk tidak beribadah. Kamu juga bebas memegang prinsip moralitas apa saja yang kamu pandang menguntungkan bagi dirimu dan orang lain. Hanya saja, jika kamu memilih Kebebasan, tidak ada yang bisa menjamin keselamatanmu di kehidupan yang akan datang setelah kamu dibangkitkan kembali dari kematian. Oh, tentu saja kamu bebas untuk tidak percaya akan hal itu.

Jika kamu memilih Kebenaran, maka kamu akan diberikan seperangkat aturan yang harus kamu jalankan seumur hidup. Kamu harus menjalankan ibadah secara rutin dan menyerahkan sebagian hartamu secara berkala. Terkadang kamu juga harus berbuat hal yang dipandang tidak lazim bagi kebanyakan orang. Sangat mungkin kamu akan dianggap aneh, dibenci, atau terkucil dari pergaulan, dan kamu harus tetap seperti itu hingga ajal menjemputmu. Dalam banyak hal, kamu harus menahan diri. Ada hal-hal yang sudah dianggap sebagai kewajaran di masyarakatmu, yang harus kamu tinggalkan, yang mungkin akan terlihat seperti menyempitkan kesempatan perekonomianmu atau apresiasi senimu. Beberapa aturan yang ada mungkin akan terdengar tidak masuk akal bagimu, atau sulit diterima perasaanmu, tapi bagaimanapun juga tetap harus kamu jalankan. Nikmatilah segala ketidakbebasanmu hingga ajal menjemputmu. Tapi tenang, dengan memilih Kebenaran, keselamatanmu di kehidupan selanjutnya akan terjamin.

Tidak, kamu tidak bisa memilih dua-duanya.

Jika kamu dalam keraguan, kamu bisa mulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini pada dirimu sendiri:

Apakah Kebenaran itu nisbi bagimu, ataukah Kebenaran ada di luar sana, dan kamu hanya belum mendapatkannya?

Sudahkah kamu benar-benar mencarinya?

Sungguh?

Jika kebenaran hadir di depan matamu dalam bentuk yang tidak kamu sukai, akankah kamu tetap menerimanya sebagai Kebenaran?

Sudah cukup kusampaikan. Silahkan pilih satu dan tinggalkan yang lain. Cepat, waktumu terbatas.

Risalah

Sekuntum pagi dan semerbak mentari.

Bahwa alam ini akan berakhir, dan semua manusia akan mati, adalah benar adanya. Sama benarnya dengan kabar tentang Hari Kebangkitan. Siapalah kita, yang hendak jadi tuhan. Tuhan-tuhan kecil yang sombong dan tak tahu diri. Sungguh, anthroposentrisme adalah racun hati.

Kita membangun peradaban. Bangunan didirikan, karya seni dibuat, falsafah disebarkan, dan rahasia alam diungkap. Tapi kita tutup rapat telinga dari kabar tak menyenangkan, bahwa semua itu sia-sia, karena segala sesuatu tak ada artinya jika kita mengingkari-Nya.

Alam bukan tuhan. Manusia apalagi. Tapi kita tak bosan mencari, seolah masih ada kebenaran hakiki yang tersembunyi. Cobalah sesekali kita tanyakan pada diri sendiri, apa jadinya jika kebenaran telah datang, dan kita hanya enggan mendengar, malah menuruti kata hati untuk mencari yang lain.

Kita pun bersembunyi di balik selimut relativisme. Segala sesuatu benar untuk dirinya sendiri, dan tak ada yang boleh menghakimi. Lantas di manakah kebenaran? Adalah bohong jika dikatakan semua(agama) adalah jalan menuju Tuhan Yang Satu, karena siapapun yang berkata seperti itu jelas belum pernah bertemu dengan Tuhan Yang Satu itu, alias mati.

Dan kita pun ‘membunuh’-Nya.

Nietzsche hanya mendeklarasikan kematiannya, pada suatu hari di Jerman abad ke-19, dari balik kumis tebalnya yang khas. Maka hari ini para atheis jadi pahlawan yang membebaskan, karena aturan Tuhan tak lagi dianggap relevan. Singkat cerita, manusia menggagas sekularisme. Ketika hal tersebut jadi norma, penanda ‘modernitas’ (apapun artinya itu), atau bahkan menjadi ‘akal sehat’ itu sendiri, maka ‘kesombongan’ tertutup oleh facade yang disebut ‘kemanusiaan’ hingga sulit untuk dibedakan.

Kecuali dengan Kitab-Nya.

Serta sabda utusan-Nya.

Yang tak selalu masuk akal, karena apatah ‘akal’ itu sendiri? Menurut akal, kebenaran kemarin tak sama dengan kebenaran hari ini, begitu pula dengan kebenaran esok hari. Akal senantiasa berubah, atau dengan bahasa yang lebih enak didengar, berkembang. Akal tidak konsisten, karena memang tidak didesain untuk konsisten. Akal yang tak konsisten itu tak memiliki kekuatan untuk menjadi tuan. Karena itu, disadari atau tidak, ia senantiasa jadi budak hawa nafsu yang ingin menang sendiri.

Maka kita perlu memeriksa kembali, ber-tabayyun dengan diri sendiri. Boleh jadi bukan ajaran agamamu yang sempit, tapi hatimu sendiri. Mungkin dunia dan perhiasannya telah menjadikan hatimu “…keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (Q.S. 2:74), hingga engkau ingin menangis namun tak ada apapun yang menetes di pipi.

Sungguh, dunia dan segala isinya adalah fatamorgana. Maha Besar Allah yang telah membuatnya nampak begitu nyata.

 

Suatu fajar di bulan Juli tahun 2012

Harun Suaidi Isnaini

Kehendak Bebas, Takdir, dan The Matrix

Oracle   : I’d ask you to sit down, but, you’re not going to anyway. And don’t worry about the vase.

Neo        : What vase?

[Neo turns to look for a vase, and as he does, he knocks over a vase of flowers, which shatters on the floor]

Oracle   : That vase.

Neo        : I’m sorry…

Oracle   : I said don’t worry about it. I’ll get one of my kids to fix it.

Neo        : How did you know?

Oracle   : Ohh, what’s really going to bake your noodle later on is, would you still have broken it if I hadn’t said anything?

Salah satu topik yang tidak ada habis-habisnya dibahas dalam dunia filsafat adalah kehendak bebas (free will). Di satu sisi, kita merasa memiliki kebebasan menentukan apa yang kita lakukan dengan tubuh kita. Di sisi lain, segala sesuatu nampak begitu pasti, khususnya yang berkenaan dengan hukum alam.

Pertanyaan tentang kehendak bebas selalu mengganggu karena berkenaan dengan individualitas, atau dengan kata lain ‘siapa saya’. Bukankah individualitas ditentukan dari pilihan bebas kita? Bukankah hanya ketika seseorang memilih dengan bebas, dia bertanggung jawab atas pilihannya? Jika tidak ada kehendak bebas, maka seorang pembunuh sadis pun sebenarnya hanya memainkan peran yang telah ditentukan sebelumnya.

Jika kita percaya bahwa terdapat kepastian dalam hukum alam, maka sebenarnya kita tidak punya kehendak bebas. Kehendak bebas hanyalah ilusi. Alam raya ini ibarat jam besar, dimana big bang merupakan permulaan yang menggerakkan semuanya. Kita adalah bagian dari proses besar itu. Kita tidak lepas dari hukum fisika. Sejumlah elektron bergerak di dalam otak kita melalui serangkaian jaringan syaraf, memerintahkan kita untuk berpikir, bergerak, dan merasakan. Dari sudur pandang ini, dapat dikatakan bahwa hukum alam adalah representasi dari takdir.

Argumen dari Fisika Kuantum

Tunggu dulu, bagaimana dengan fisika kuantum? Bukankah fisika kuantum telah membuktikan bahwa hukum alam tidak benar-benar pasti (deterministis)? Bukankah segala sesuatunya mungkin (probabilistis)? Michio Kaku mengatakan bahwa selalu ada ketidakpastian dalam hukum fisika. Suatu partikel subatom bergerak tanpa bisa diprediksi, seolah tidak ada hukum alam yang mengaturnya, bahkan dapat berada di dua tempat secara bersamaan. Adakah ini semacam konfirmasi untuk kehendak bebas? Bukankah kehendak bebas kita rasakan nyata karena adanya ketidakpastian tentang apa yang terajadi?

Saya katakan,tidak.

Kenapa tidak? Karena itu hanya membuktikan suatu bentuk ke-acak-an (randomness), dan bukan ketiadaan kepastian. Juga, sangat mungkin keacakan itu disebabkan ketidakmampuan kita untuk memastikannya. Jadi, ketidakpastian tersebut ada bukan karena sesuatu benar-benar tidak pasti, melainkan karena nampak tidak pasti dari sudut pandang kita sebagai manusia.

Menurut saya, kehendak bebas muncul dari ketidaktahuan. Karena kita tidak tahu, maka apa yang terjadi sekian saat ke depan menjadi tidak pasti. Namun, betapapun segalanya tidak pasti, ada sesuatu yang pasti, yaitu kejadian yang sudah terjadi. Jika Anda dihadapkan pada dua pilihan, A atau B, apapun yang tidak Anda pilih tidak terjadi. Jadi, meskipun sebelum Anda memilih ada semacam ketidakpastian, pada akhirnya ada sesuatu yang pasti terjadi. Ketidakpastian hanya nampak ketika kita mencoba menerawang ke masa depan, tapi tidak ke masa lalu.

Ilusi Waktu dan Analogi Program Komputer

Neo        : But if you already know, how can I make a choice?

Oracle   : Because you didn’t come here to make the choice, you’ve already made it. You’re here to try to understand *why* you made it. I thought you’d have figured that out by now.

Jika ada entitas lain selain diri kita yang mengetahui pilihan apa yang akan kita ambil, maka dengan sendirinya kehendak bebas kita jadi tidak berarti. Entitas itu haruslah entitas yang lebih tinggi dari manusia, sebagai yang memilih. Karena manusia dan manusia lain paling jauh hanya bisa saling memprediksi satu sama lain. Hubungan kita dan entitas tersebut ibarat program dan programmernya. Tentu saja sang programmer tahu apa yang akan dilakukan oleh program buatannya, karena ia yang menulis tiap baris kode-nya. Jika Anda percaya, Anda dapat katakan programmer itu adalah analogi untuk Tuhan, dan kita adalah program ciptaan-Nya.

Tidak bisa tidak, ilusi kehendak bebas juga datang dari pemahaman kita terhadap waktu. Apa itu waktu? Waktu adalah rangkaian kejadian demi kejadian yang tak memiliki batas pasti (indefinite), atau dengan kata lain sekumpulan keberadaan, yang terjadi tanpa bisa dimundurkan (irreversible). Baik sains maupun filsafat tidak memiliki penjelasan yang pasti tentang apa yang disebut dengan ‘waktu’. Lima abad sebelum masehi, Antiphon, seorang filsuf Sophist dari Yunani, megatakan bawa waktu tidaklah real. “Time is not a reality (hypostasis), but a concept (noêma) or a measure (metron),” ungkapnya.

Sebagaimana kita merupakan bagian dari alam, kita pun tidak lepas dari penjara bernama waktu. Kita ada di dalam-nya, tanpa pernah bisa keluar. Karena itu, persepsi kita, termasuk ketidaktahuan dan ketidakpastian yang kita rasakan, juga merupakan akibat dari keberadaan kita di dalam waktu. Jika kita kembali ke analogi progam dan programmer, kita dapat membayangkan kita sebagai serangkaian kode yang sedang dijalankan. Bagi sang programmer yang mengetahui apa saja yang akan dilakukan oleh program buatannya, tidak ada bedanya apakah saat ini program tersebut sedang berjalan di bagian awal atau akhir karena, jika kode program tersebut sempurna, dan tidak ada masalah pada komputer, seluruh program tersebut akan berjalan, atau dengan kata lain, program tersebut akan ‘memenuhi takdirnya’. Selama programnya berjalan, sang programmer mengamati bagaimana program buatannya berjalan di dalam waktunya sendiri.

Tanggung Jawab Moral

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, keberadaan kehendak bebas memiliki implikasi pada tanggung jawab moral. Kita membuat pilihan, dan setiap pilihan memiliki konsekuensi. Anda dapat memilih untuk menerobos lampu merah, dan untuk itu polisi lalu lintas berhak menilang Anda jika Anda memilih untuk melakukannya. Jika kehendak bebas tidak ada, maka Anda seharusnya tidak ditilang karena menerobos lampu merah. Anda hanyalah bagian dari proses alam. Hukum alam-lah yang membuat Anda melakukannya. Kalau Anda tidak bisa menjelaskan secara fisika, jelaskan saja semuanya sebagai bagian dari hukum sebab-akibat. Tindakan Anda menerobos lampu merah adalah akibat dari sebab tertentu, misalnya karena jalanan sedang kosong (atau, seperti di sebuah iklan rokok, “Kan gak ada yang jaga…”).

Benarkah demikian adanya?

Jawabannya, ya dan tidak. Ya, karena bagaimanapun kita tidak bisa menafikkan kenyataaan bahwa kita adalah bagian dari hukum alam. Tidak, karena kenyataan bahwa kita hanya memainkan proses sebab-akibat tidak menggugurkan tanggung jawab moral kita.

Pertama, kita amini dulu bahwa semua yang ada di dunia ini berjalan mengikuti hukum sebab-akibat yang universal. Selanjutnya, kita melakukan sesuatu yang, menurut konvensi setempat, adalah tindakan yang kurang bermoral. Kemudian, kita mendapat hukuman. Kenyataannya, kita memang pantas dihukum justru dalam rangka memenuhi hukum sebab-akibat yang universal tersebut. Dengan dijalankannya sistem peradilan justru kita sebagai manusia sedang mendemonstrasikan hukum sebab-akibat di tingkat individu.

Lalu, apakah jika tidak ada hukuman, itu artinya hukum sebab-akibat menjadi runtuh? Tidak. Dia hanya tidak terjadi di tingkat person (orang, manusia), namun tetap terjadi di tingkat yang lebih mendasar lagi. Misalnya, tetap ada perasaan bersalah, atau kredibilitas kita sebagai manusia berkurang, dan kita kehilangan kerpercayaan orang lain.

Kehendak Bebas: Ilusi yang Nyata

Sejauh ini, kesimpulan yang bisa saya ambil adalah bahwa kehendak bebas adalah ilusi sekaligus kenyataan. Sebagai ilusi, dia tidak benar-benar ada, dalam artian bahwa diri kita, termasuk pilihan-pilihan kita, hanyalah bagian dari hukum alam yang universal. Sebagai kenyataan, adalah bahwa kita tidak bisa lepas darinya, bahkan setelah mengetahui adanya hukum alam yang mengatur segala tindakan kita.

Jadi, kehendak bebas dan takdir tidak saling menghilangkan satu sama lain. Keduanya ada dan nyata.

“Neo, sooner or later you’re going to realize just as I did that there’s a difference between knowing the path and walking the path.” –Morpheus (The Matrix)

Sedikit tentang Seni

“Kuliah Seni Rupa? Itu dosennya nilainya gimana? Subyektif donk?”

Pertanyaan semacam itu pasti sudah bosan didengar mereka yang berkuliah di Seni Rupa. Umum dipahami bahwa seni itu persoalan selera, dan selera itu subyektif.

Mereka yang bilang seni itu subyektif tidak salah, tapi menyederhanakan persoalan. Kita bisa berpendapat bahwa tidak mungkin penilaian seni dibuat tanpa mengikutsertakan selera. Penilaian seni memang berujung pada selera, tapi bukan dimulai dari sana.

Sekian banyak filsuf membahas seni dan estetika, tidak satupun yang memberikan penjelasan yang lengkap dan final. Tapi, singkatnya, penilaian atas keindahan melibatkan kapasitas fisik, emosional, dan intelektual sekaligus. Menurut Immanuel Kant, esuatu menjadi indah bukan karena ia menyenangkan penglihatnya. Sebaliknya, sesuatu menyenangkan penglihatnya karena dia indah[1].

Di Seni Rupa ITB, khususnya Seni Lukis, terdapat istilah ‘Trisula Seni Rupa’ yang menjadi dasar kurikulumnya, yaitu formalisme, eksprsionisme, dan simbolisme. Ini merupakan penyederhanaan dari kecenderungan gerakan-gerakan (aliran-aliran) seni modern. Konsep ini sangat membantu dalam memahami seni. Mari kita bahas satu per satu:

Formalisme adalah konsep memahami seni sebagai bentuk (form). Kualitas karya dinilai dari unsur-unsur rupa yang ada padanya, seperti warna, tekstur, bentuk, komposisi, dsb. Untuk komposisi, dapat kita rinci lagi menjadi irama, gerak, aksen, dan keseimbangan. Bagi saya sendiri, rule of thumb untuk memahami formalisme adalah dengan membayangkan setiap bentuk itu ‘hidup’ dan ‘berbicara lewat bentuknya sendiri’.

Ekspresionisme (atau ekspresivisme) berarti memahami seni dari segi ekspresi yang ditawarkannya. Ekspresi yang gamblang bisanya klise atau basi (contoh: sinetron dan lagu-lagu pop melayu). Karena itu, ekspresi yang ‘berkualitas’ adalah yang subtil, yang agak tersembunyi, yang tidak terlalu kelihatan. Ekspresi seringkali dinyatakan dengan ‘jejak’ seperti sapuan kuas dan tekstur. Pada intinya, untuk memahami ekspresi adalah dengan menghayati bagaimana suatu karya menggugah emosi kita.

Simbolisme adalah cara mengungkapkan suatu konsep dengan cara representasi. Misalnya, gambar mawar bukanlah mawar itu sendiri melainkan representasi dari konsep tentang cinta. Nilai representasi ini juga dapat dilihat dari medium yang digunakan. Misalnya ada sebuah mawar terbuat dari besi yang karatan, akan berbeda dengan mawar asli, dan akan berbeda pula dengan mawar plastik. Yang pertama menyajikan ‘cinta yang rusak atau menyakitkan’, yang kedua menghadirkan ‘cinta yang murni’, dan yang terakhir merepresentasikan ‘cinta yang artifisial’.

Pada akhirnya, ketiga konsep itu dipahami sebagai satu kesatuan yang selalu hadir di (hampir)setiap karya seni.

Ketiga hal di atas pada dasarnya dapat dipelajari. Namun, dengan kepekaan dan kecerdasan yang cukup, atau dengan kata lain, sensibilitas, mereka yang tidak mempelajari seni secara khusus mampu mengapresiasi seni.

Sampai di sini, barulah kita bisa berbicara soal selera. Sebagian orang menyukai karya seni yang ekspresif, sebagian yang lain lebih menyukai bahasa yang simbolik, dan ada pula yang lebih tertarik dengan unsur formal suatu karya. Di titik inilah kita bisa berkata, seni itu subyektif. Setiap karya punya kualitasnya sendiri.

Membaca Karya Seni

Apa yang saya tulis di atas memberikan kita bekal untuk mengapresiasi karya seni. Namun, untuk membaca suatu karya seni secara lebih dalam, kita memerlukan instrumen lain, yaitu pengetahuan tenang hal-hal di dalam dan di luar seni.

Hal-hal di dalam seni artinya sejarah seni, filsafat seni, dan dunia seni kontemporer, serta pasar seni. Dengan mengetahui sejarah seni, kita dapat dengan tepat menempatkan suatu karya di dalam urutan perkembangan seni itu sendiri. Dengan mengetahui filsafat seni, kita dapat memahami ‘tujuan’ dari karya tersebut. Dengan memahami dunia seni kontemporer dan pasar seni, kita dapat menilai apakah karya ini ‘mainstream’, sekedar mengikuti tren pasar, atau justru sebaliknya, berusaha melawan hegemoni pasar.

Hal-hal di luar seni adalah filsafat dan pengetahuan umum. Dalam kritik seni, karya seni dibaca menggunakan pendekatan teori-teori tertentu, seperti teori pertentangan kelas Karl Marx, psikoanalisis Sigmund Freud dan Jacques Lacan, hingga teori feminisme Julia Kristeva. Ini yang membuat kritik seni menarik untuk dibaca karena interpretasi seorang kritikus bisa berbeda dengan kritikus yang lain, sesuai dengan teori yang ia gunakan.

Juga tidak bisa dipisahkan dari seni adalah ilmu semiotika. Semiotika adalah ilmu tentang tanda. Secara sederhana seni dapat dipahami sebagai praktik menyusun sistem tanda. Pemahaman semiotika yang baik dapat memaksimalkan interpretasi dari suatu karya seni.

Pada akhirnya, memang seni itu subyektif. Subyektif pembuatannya, subyektif interpretasinya, dan subyektif penilainnya. Namun mengulas karya seni secara obyektif itu penting dan sama sekali bukan hal yang sia-sia. Justru mengambil jalan pintas dengan menyederhanakan seni sebagai sesuatu yang subyektif sehingga enggan mengulasnya adalah suatu bentuk kemalasan dan ignorance.


Lelaki, tentang Makeup Wanita

Suatu hari, di hari-hari ini, tersebutlah seorang Lelaki. Lelaki hidup di zaman serba canggih cepat mudah. Negerinya makmur tenteram bahagia. Kehidupan damai sejahtera sentausa.

Entah dari mana, sekonyong-konyong datang Wanita. Wanita cantik jelita. Putih mulus tanpa noda. Apalagi jerawat di muka. Tak dinyana, Lelaki suka.

Tapi Lelaki tahu, Wanita mengenakan makeup. Lihat itu bedaknya putih, lipstiknya merah, blush on-nya merah muda. Segala jenis produk kecantikan menempel di wajahnya.

Lelaki tak habis pikir, kenapa Wanita berbuat demikian, menghias wajahnya begitu rupa, tebal, menutupi wajahnya sendiri. Jangan-jangan dia tidak pede? Atau sebenarnya dia jelek? Lelaki melamun, tak mengerti. Memang Wanita sulit dimengerti. Dia sudah dengar itu, berkali-kali.

Syahdan, lelaki mengharapkan wanita tak menggunakan makeup. Maka diciptakanlah makeup yang membuat wanita seperti tidak memakai makeup. Foundationnya warna kulit alami, bibirnya efek glossy, pipinya merona segar seperti habis mandi.

Lelaki jatuh hati, meski tahu makeup masih menempel di wajah Wanita, cantiknya tak bisa ditolak. Begitu alami, begitu mempesona. Lelaki jadi galau sendiri.

Kata Orang, wanita lebih suka dibohongi. Sebenarnya Lelaki juga. Setiap hari Lelaki dibohongi oleh wanita dan makeupnya, tanpa bisa melawan. Di hadapan yang indah-indah, memang otak kita jadi beku kelu tak berfungsi normal.

Namun akhirnya Lelaki bangkit, bertanya pada Wanita, “Mengapa Engkau lakukan itu? Mengapa Engkau menipuku dengan makeup-mu?”

Betapa kagetnya Lelaki mendengar jawaban Wanita, “Siapa bilang aku berdandan untukmu, Lelaki? Aku berdandan untuk Wanita Lain.”

Rupanya Wanita ingin lebih cantik dari Wanita Lain. Lelaki terjebak di tengah persaingan antar keduanya, tak berkutik. Lelaki semakin tak mengerti Wanita.

Apa daya Lelaki bodoh, tak menyadarinya hingga hari ini. Kecele jadinya. Sekali lagi, ia berdoa, “Ya Tuhan, ciptakanlah dunia tanpa makeup.”

Waktu berlalu, doa belum dijawab, malah makeup semakin canggih. Dilihatnya pasar, bergudang-gudang produk kecantikan, seolah akan terbeli semuanya. Kenyataannya memang akan terbeli semuanya. Ah, memang Tuhan lebih tahu, Lelaki lebih senang ditipu.

Lelaki bertanya, “Kapan akan kulihat kecantikan asli Wanita?” Orang menjawab, “Nanti, setelah menikah.” Dan, oh, betapa dia benar.

Syahdan, Lelaki dan Wanita menikah. Setelah menikah, luntur semua makeup. Wajah asli Wanita terlihat. Tak seindah bayangan Lelaki. Lelaki kecele lagi, dua kali.

Ah, tapi apa daya, sudah kadung bercinta. Jalani saja, biar bosan jenuh sengsara. Namanya juga cinta, harus bisa menerima. Lelaki tertegun, mungkin itulah cinta sejati, pikirnya. Penerimaan yang teruji waktu. Bukan gelora hati saat pertama bertemu.

Tiba-tiba lelaki mengerti, Kakek dan Nenek tak lagi peduli rupa. Karena setelah keriput melanda, tinggal hati yang tersisa.

Lalu Lelaki berpetuah pada anak-anaknya, “Janganlah Engkau tergoda makeup Wanita. Kalau terlanjur, terima apa yang ada di baliknya.” Lelaki tahu, anaknya tak mengerti. Ah, Remaja. Biarlah, suatu saat nanti dia akan tahu sendiri.

Berjalan Lurus di Jalan Berliku

Ihdinas siraatal mustaqim. Kalimat itu disebut setidaknya tujuh belas kali sehari oleh seorang muslim yang taat. Artinya, “tunjukkan kami jalan yang lurus”. ‘Lurus’ disejajarkan dengan ‘benar’, dan yang ‘benar’ niscaya adalah ‘baik’.

Namun agaknya hari-hari ini kita perlu memaknai kembali ayat ke-6 surat Al-Fatihah itu. Ini adalah zaman yang berbeda dengan empat belas abad yang lalu. Hari ini kita dihadapkan pada banyak godaan, banyak alternatif pemikiran, banyak gaya hidup. Agama jadi terlihat begitu kerdil di hadapan dunia beserta isinya.

Kita memiliki akal, dan setiap saat kita menggunakannya untuk memecahkan berbagai masalah. Disadari atau tidak, akal menjadi satu-satunya alat penentu kebenaran. Padahal sangat mungkin, di saat yang sama, akal, iman, dan rasa punya jawaban berbeda atas persoalan yang sama.

Di (Eropa) abad pertengahan, umum dipahami bahwa akal adalah hamba dari iman. Maka, apapun yang akal katakan, hendaknya bersesuaian dengan iman, atau mendukung iman. Di era Renaisans, dideklarasikan kebebasan berpikir. Akal berdiri sendiri. Sebuah formulasi yang ‘masuk akal’, nampaknya.

Namun, sejatinya tidak semua yang ditemukan akal adalah ‘benar’ atau ‘baik’. Arthur Schopenhauer misalnya, bilang, “Akal adalah budak nafsu.” Sehebat apapun akal, dia kalah oleh kehendak. Bahkan, akal digunakan untuk mencari pembenaran atas kehendak. Segala dalil dipakai, yang tidak ada dicari, pokoknya akal dieksploitasi ke titik terjauh guna memenuhi kehendak manusia. Kehendak manusia ini bervaraisi, mulai dari yang besar seperti penguasaan atas alam, hingga yang remeh temeh seperti kegiatan seksual (sebenarnya tidak se-‘remeh’ itu sih, hehehe… Eh, tapi yang bilang begitu akalku atau nafsuku?)

Hari ini, saya rasa ucapan dari abad ke-19 tersebut masih relevan, kalau bukan semakin aktual. Dengan adanya internet, kita bisa dengan mudah mencari ‘kebenaran-kebenaran’ untuk kehendak kita. Begitu saratnya dunia ini dengan ‘kebenaran’ hingga semua itu menjadi pembenaran semata. Kita menggunakan ‘akal kolektif’ yang tumbuh dari bawah’. Tidak ada pemaksaan akan kebenaran. Kita semua bebas memilih kebenaran kita sendiri. Hal yang sungguh ‘demokratis’.

Tidak bisa disangkal, hari ini kita terjajah oleh akal. Apapun yang tidak masuk akal ditolak, dan karena akal adalah budak nafsu, apapun yang tidak memenuhi hasrat ditinggalkan. Sadarkah kita betapa mudah berubahnya ‘common sense‘ kita selama beberapa dasawarsa terakhir? Kita bergerak cepat ke arah pemenuhan hasrat. Musik, film, fashion, dan segenap budaya populer lainnya adalah pengejawantahan dari pergerakan itu. Lihatlah betapa minim daya resistensi kita terhadap perubahan itu. Nilai dan norma berubah begitu cepat. Yang tadinya tidak masuk akal menjadi masuk akal. Yang tadinya menyimpnang dianggap normal. Sebaliknya, yang tadinya dianggap begitu luhur kini dianggap terbelakang. Maka benarlah kita terjajah akal, dan akal adalah budak nafsu. Akal kita demikian mudah membenarkan perubahan-perubahan tersebut.

Di tengah-tengah putaran roda zaman ini, agama jadi anomali. Agama tidak memenuhi hasrat. Sebaliknya, ia mengekangnya, menekannya, berusaha menguasainya. Jika dulu seorang agamawan adalah juga seorang ilmuwan dan filosof, sekarang tidak lagi. Ilmuwan dan filosof yang ‘sejati’ adalah para atheis atau agnostik. Mereka yang beriman kian tersingkir dari kehidupan dunia yang dikuasai akal.

Agama yang dulu sempat didukung oleh ilmu pengetahuan dan berbagai aliran filsafat pun kini kelabakan. Berbagai usaha dilakukan untuk ‘membuktikan’ isi kitab suci. Berbagai dalil filsafat dikeluarkan untuk mempertahankan iman. Kita lupa bahwa iman sebenarnya melampaui semua itu.

Di sini, saya ingin mengamini Søren Kierkegaard. Ia terkenal dengan konsep ‘lompatan iman’ (leap of faith) yang cukup sering kita dengar hari ini. Beriman berarti mempercayai sebelum ada bukti. Tentu saja, ini sering dianggap absurd. Dan, kalau dipikir-pikir lagi(dengan akal, tentunya), memang absurd. Kita disuruh mempercayai mukjizat dan cerita-cerita yang tidak masuk akal. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, Maryam hamil tanpa suami, dan ada kehidupan setelah mati. Bagaimana mungkin akal bisa menerima semua itu? Tanpa bukti pula. Sungguh absurd.

Namun di situlah poin pentingnya. Bukti menjadi tidak penting di hadapan hal-hal seperti cinta dan keberanian. Beriman, dalam pengertian tertentu, membutuhkan cinta dan keberanian. Cinta tanpa syarat pada Dia yang tak pernah kita temui. Keberanian untuk bertaruh bahwa setelah kita mati nanti ada kehidupan kembali yang menunggu kita.

Adapun pangkal dari cinta dan keberanian itu adalah penerimaan. Penerimaan atas wahyu Tuhan yang datang dengan segala aturannya. Penerimaan ini bersifat bebas tanpa paksaan. Mungkin itu sebabnya mereka yang tidak beriman sering diasosiasikan dengan orang yang sombong. Mereka tidak mau (menggunakan kebebasannya untuk) menerima.

Demikianlah, tak heran agama dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Jika ada yang berpikir ia bersikap memberontak dengan menentang ajaran agama, dia salah. Dia tidak memberontak sama sekali. Justru sebaliknya, ia menyerah pada dunia. Ia ikut arus. Agama adalah anomali dunia hari ini. Beragama ibarat berjalan lurus di jalan berliku. Pasti akan menabrak, tersandung, dan dianggap aneh oleh mereka yang ‘mengikuti jalan yang benar’.

Seorang teman pernah mengutip Robert Jastrow, “Para ilmuwan mendaki gunung. Ternyata di atas telah menunggu para agamawan.”