Raja Segala Raja

Sepertinya lebih mudah memahami kekuasaan Tuhan di zaman ketika kerajaan adalah bentuk pemerintahan yang paling masuk akal. Tuhan Maha Kuasa, dan pemerintahan-Nya jelas bukan demokrasi. Dia adalah Raja segala raja, bukan Presiden segala presiden. Dia juga tidak punya perdana menteri, hanya para malaikat yang sebenarnya tidak Dia butuhkan namun tetap diciptakan juga supaya manusia berpikir tentang kekuasaan-Nya.

Kalau raja bikin peraturan, rakyat taat. Kalau raja bikin keputusan, rakyat nurut. Kalau raja bikin kesalahan, tidak akan dilihat sebagai kesalahan. Pokoknya pasal pertama: raja selalu benar. Pasal kedua: jika raja melakukan kesalahan, lihat pasal pertama. Ini benar sekalipun raja bukan panitia ospek.

Tuhan–atau setidaknya Tuhanku–tidak dipilih, dan tidak harus bikin laporan pertanggungjawaban di hadapan dewan. Dia-lah yang Maha Mengadili, yang tak akan pernah diadili. Kalau dia memutuskan untuk mencabut nyawa seseorang yang sangat kamu cintai saat ini juga, kamu tidak boleh(baca:tidak bisa) protes. Kenapa? Karena Dia adalah yang Maha Berkehendak. Dia adalah satu-satunya yang berhak bersikap semena-mena. Kata para mahasiswa, “Hanya Tuhan yang boleh tindas kami, itupun kalau Dia mau.”

Menjadi manusia ber-Tuhan, aku pikir, adalah menyadari kesemena-menaan-Nya, dan berusaha mencintai kesemena-menaan itu. Dia bikin peraturan, kita taati. Dia beri kita rezeki, kita bersyukur. Dia ambil kembali rezeki itu, kita bersabar, bahkan kalau bisa tetap bersyukur. Dalam bahasa Latin, sikap ini disebut “amor fati”. Bahasa Arabnya, “ikhlas”.