Membunuh Seekor Naga

Seekor naga hidup di puncak gunung. Hari ini, kami akan membunuhnya.

Naga itu sebenarnya tidak berdosa. Ia bukan naga yang suka makan orang dan menghancurkan desa seperti di dalam legenda. Bukan pula naga yang menculik putri kerajaan dan mengurungnya di puncak menara. Dia hanya seekor naga biasa.

Tapi sungguh, kami akan membunuhnya. Bukan karena kami benci padanya. Bukan pula untuk menjual bagian-bagian tubuhnya seperti pemburu yang membunuh gajah untuk mengambil gadingnya dan menjualnya di pasar gelap. Kami membunuhnya untuk mengambil empedunya.

Sudah seminggu ini adikku sakit. Sakitnya bukan sakit biasa. Tubuhnya berubah menjadi batu. Mula-mula kakinya, kemudian menjalar naik ke atas hingga ke pinggang. Hari ini, sudah separuh lebih tubuhnya menjadi batu. Kami sudah tak punya waktu lagi. Jika kami tak mendapatkan empedu naga dalam tiga hari, nyawa adikku tak bisa tertolong lagi. Ia akan menjadi patung batu selamanya.

“Pergilah ke puncak gunung di sebelah utara desa ini. Di sana seekor naga tinggal. Buas sungguh ia. Kekuatannya tak terperi, namun bukan berarti tak bisa mati. Berhati-hatilah, jangan sampai terbunuh olehnya.” ujar dukun sakti di desaku. “Yang kalian butuhkan adalah empedunya. Jika kalian ingin anak itu selamat, bawalah empedunya kepadaku. Akan kubuat ramuan dari padanya.”

Kami tak punya pilihan. Kami siapkan perbekalan. Kami kumpulkan tombak, pedang, dan panah. Selusin laki-laki dari desa kami berangkat, termasuk aku.

Sudah satu hari satu malam kami mendaki. Pagi ini kami akan sampai di puncak. Kabut masih belum terangkat ketika kami melipat tenda dan beranjak dari tempat kami bermalam.

“Lihat itu,” salah seorang dari kami menunjuk celah besar di antara bebatuan kapur.

“Itukah sarang naga?”

Kami tak bisa melihat apa yang ada di baliknya karena tertutup kabut, tapi tempat itu memang terlihat seperti sarang naga.

“Ayo,” ujar ayahku memberi komando. Ia mencabut pedang di pinggannya, diikuti oleh kami. Dengan perlahan kami melangkah hendak memasuki celah itu.

Tiba-tiba, terdengar suara perempuan diikuti anak panah yang melesat dan menancap di tanah tepat di depan ayahku. “Berhenti!” kata suara itu.

Kami melihat bayangan seseorang dari kejauhan. Seketika itu, matahari meninggi, kabut terangkat, tersingkaplah wujud asli bayangan itu. Seorang perempuan memegang sebuah busur. Dialah yang melepaskan anak panah itu. Di belakangnya terlihat seekor naga yang sedang tertidur.

“Mau apa kalian!”

“Kami ingin membunuh naga!”

“Tidak akan kubiarkan!” katanya. Perempuan itu melepaskan anak panahnya lagi yang nyaris mengenai orang yang berkata akan membunuh naga barusan.

“Dengar, nona. Kita bisa bicara…,” ayahku berusaha menengahi.

“Diam!” sanggahnya sambil melepaskan anak panah lagi. Hampir saja panahnya mengenai ayahku jika ia tidak gesit menghindar. “Kalian para manusia haus darah,” katanya, “tak akan kubiarkan kalian membunuh naga ini demi kepentingan pribadi kalian!”

Melihatnya menarik busur, kami berpencar mencari tempat berlindung. Anak panahnya melesat ke arahku, menggores kulitku hingga berdarah. Perempuan ini tidak main-main rupanya.

“Dengarkan kami dulu! Kami sedang berusaha menyelamatkan nyawa seseorang!” ujarku yang masih berusaha bicara dengannya. “Kami membutuhkan empedu naga itu untuk obat!” Aku bicara dari balik batu besar. “Jika kami tidak segera mendapatkan empedu naga, nyawa adikku tidak akan tertolong!”

“Itu benar, nona!” ayahku menambahkan. “Kami mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan nyawa orang lain! Adakah yang lebih berharga dari nyawa manusia?! Aku mohon, mengertilah!”

Suasana hening sejenak. Aku mencoba mengintip untuk melihat keadaan. Tapi baru sedikit saja kepalaku keluar, anak panah sudah melesat.

“Kalian manusia-manusia egois!” katanya, “Kalian menganggap tidak ada yang lebih berharga dibanding jenis kalian sendiri, padahal kalian dan naga ini punya nyawa yang sama. Jumlah kalian banyak, sementara naga ini hanya ada seekor. Atas dasar apa kalian menganggap nyawa kalian lebih penting ?! Naga ini tak pernah menghancurkan desa atau memakan manusia. Tapi sekarang kalian ingin membunuhnya!”

Sesaat aku terdiam oleh kata-katanya, tapi kemudian ayahku memperingatkanku, “Jangan dengarkan dia, nak! Kita sedang berusaha menyelamatkan adikmu!”

Tiba-tiba, terdengar suara gemerasak, disusul oleh suara kepakan sayap yang kencang, seperti suara layar kapal yang terkembang. Sejurus kemudian, terlihat bayangan besar di tanah. Ternyata di atas kami seekor naga melesat di atas kami.

Semua orang terperangah melihat sosok besar itu. Aku pikir yang namanya naga akan terlihat mengerikan, tapi kesan yang kutangkap adalah keanggunan. Seluruh tubuhnya ditutupi sisik berwarna putih keperakan. Cemerlang memantulkan sinar matahari yang jatuh di atasnya.

Dengan kepakan yang mengibaskan debu, ia mendarat di tengah-tengah kami. Ia melihat ke sekelilingnya. Sorot matanya yang tajam seolah berkata, ‘Siapa yang berani mengganggu tidurku!’. Ia mengarahkan lehernya yang panjang bagai ular raksasa itu ke atas dan mengeluarkan satu auman yang menggetarkan bumi.

“Tuan Naga!” ujar perempuan itu.

Ayahku memberiku isyarat untuk menjatuhkan sang gadis pemanah, sementara ia dan yang lainnya membunuh sang naga. Aku mengiyakan. Sambil berteriak untuk mendongkrak keberanian, aku berlari mendekati si pemanah dengan pedang di tanganku.

Di belakangku, sebelas manusia mengepung seekor naga. Aku tahu perempuan itu hendak menghentikan mereka dengan panahnya, namun ia tidak bisa mengabaikanku. Karena itu, ia mengarahkan busurnya ke arahku. Tanpa , ia lepaskan anak panah ke tubuhku.

Dalam adrenalin yang memuncak, waktu terasa melambat. Aku mengayunkan pedangku untuk menghalau anak panahnya. Berhasil.

Tapi perempuan itu segera mengambil anak panahnya yang kedua, dan akan menembakku dari jarak mati. Beruntung, aku lebih cepat. Kuarahkan ayunan pedangku ke busurnya untuk menggagalkan serangannya. Busur itu terlepas dari tangannya.

Rupanya ia masih memiliki senjata lain. Sebilah belati dicabutnya dari pinggang dan segera diayunkan ke kepalaku. Aku mengelak ke belakang. Nyaris saja belati itu menebasku mentah-mentah. Untungnya aku cukup gesit dan belati itu hanya menggores daguku.

Sementara aku dan perempuan penjaga sarang naga itu berhadap-hadapan dengan senjata di tangan, di belakangku sedang terjadi pertempuran sengit antara manusia dan naga. Terlihat dari sorot mta gadis itu, ia cemas akan nasib sang naga.

Rasa cemas itu segera berubah menjadi geram. Dengan penuh kemaran, ia mengayunkan belati di tangannya ke arahku. Berkali-kali ia menebas dan menikamku, berkali-kali pula aku berhasil menepis serangannya. Serangannya diwarnai kemarahan. Amarah yang timbul dari rasa cintanya pada naga itu.

Sesekali pedangku dan belatinya beradu. Seketika kukendurkan tekananku, ia segera mengambil kesempatan untuk menebasku. Tapi akibat jarak jangkau yang tak terlalu jauh, aku berhasil menghindari serangan-serangannya. Sambil berduel, sesekali kami bertukar kata-kata.

“Kenapa kau lakukan ini?! Kenapa begitu gigih melindungi naga itu?!”

“Memangnya kenapa?!”

“Dia hanya seekor hewan buas, sedang kami manusia, sama sepertimu! Saat ini adikku sedang dalam kondisi kritis. Kami membutuhkan empedu naga untuk menyelamatkan nyawanya! Mengertilah!”

“Hanya seekor hewan buas, katamu?! Ia seekor naga yang agung! Kalian? Kalian hanya monyet-monyet haus darah yang tak tahu diri! Kalian pikir kalian makhluk yang lebih tinggi dibanding Tuan Naga, hah? Kalian tak tahu apa-apa!”

“Alam mengajarkan kita memangsa yang lain untuk bertahan hidup! Tidak ada yang salah dengan itu!”

“Diam!”

Sementara itu, ayahku dan yang lainnya sedang berjuang menghadapi sang naga. Naga itu kini tidak mulus lagi, terluka di sana-sini. Darah mengucur di sela-sela sisiknya yang putih keperaakan. Bahkan seekor naga pun kewalahan jika dikepung banyak orang.

Tiap kali tombak dan pedang berhasil mendarat merobek kulitnya, naga itu menjerit. Bahkan dalam suara aumannya yang buas dan menggelegar, ada nuansa kepedihan di sana. Ia kesakitan.

Aku dan gadis itu masih terus berduel. Serangannya kini melambat, tanda ia mulai kelelahan. Aku masuk ke dalam jarak jangkaunya. Ia berusaha menebasku, tapi kelelahannya membuatku berhasil menangkap tangannya dan menghantam perutnya dengan gagang pedangku. Aku tak ingin membunuhnya.

Seiring aku menjatuhkan gadis itu, ayahku dan penduduk desa ikut berada di atas angin melawan sang naga. Kutahan tubuh gadis itu di tanah dalam keadaan telungkup. Ia meronta, namun tak kuasa melepaskan kuncianku. Ia hanya bisa menjerit dan menangis melihat Tuan Naga-nya rubuh.

Tak jelas bagaimana naga itu kalah, hanya terlihat punggung-punggung manusia dan darah segar yang muncrat seperti air mancur. Jeritan naga yang buas namun pedih menggetarkan hatiku.

Gadis yang sedang kukunci tubuhnya ini menyadari Tuan Naga-nya telah tiada. Ia tak lagi meronta, hanya bisa menangis terisak dengan tubuh yang lemas.

Sudah terlambat untuk merasa iba ketika para penduduk desa mulai merobek perut sang naga dan mengeluarkan isinya. Pemandangan yang memilukan. Seekor naga dibantai penduduk desa untuk diambil empedunya, dan hanya satu orang yang menangisinya.

“Ini dia!” ujar seorang penduduk desa yang menemukan empedunya.

“Kita berhasil!” kata seorang yang lain lagi. Mereka pun bersorak. Mereka telah berhasil membunuh seekor naga.

“Ayo nak, kita pulang!” kata ayahku sambil melambaikan tangannya. Kulepaskan kuncianku atas gadis itu. Ia yang sudah kehilangan semangat untuk melawan hanya terus menangis pilu. Kutinggalkan ia di sana.

Dengan empedu naga di tangan, aku, ayahku, dan yang lainnya pulang ke desa. Beberapa langkah berjalan, aku menoleh ke belakang. Kulihat gadis yang tak pernah kuketahui namanya itu menangis di samping tubuh sang naga.

Aku tidak tahu harus merasa bagimana. Kami baru saja membunuh naga yang entah ada berapa ekor jumlahnya di dunia ini. Kami membunuh satu jiwa untuk menyelamatkan jiwa yang lain. Aku melihat wajah ayahku yang penuh kemenangan. Tidakkah seharusnya aku juga merasakan hal yang sama?

Hingga sampai di desa, aku masih tak tahu, haruskah aku merasa bersalah atas terbunuhnya naga itu? Yang pasti, aku lega adikku bisa selamat. Meski bukan atas kemauannya sendiri, naga itu telah menyerahkan nyawanya untuk menyelamatkan adikku. Kuhembuskan nafas panjang dan bersamanya sebuah doa untuk Tuan Naga. Semoga arwahnya terbang menuju surga.

—–//—–

Sumber ilustrasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s