Hero dan Anti-Hero dalam Fiksi dan Realitas

Siapa pahlawanmu?

Sebagian orang Indonesia mungkin akan menjawab ‘Bung Karno’, seorang Muslim akan menjawab ‘Rasulullah Muhammad SAW’, dan ada cukup besar kemungkinan kamu akan menjawab ‘Ibuku/Ayahku’.

Tapi apa, atau siapa, yang dimaksud dengan pahlawan?

Jika kita melihat kamus, kita akan mendapati kata ‘pahlawan’ berasal dari bahasa Sansekerta ‘phala’ yang berarti ‘buah’ dan akhiran ‘-wan’ untuk menunjukkan orang/pelaku.  Pahlawan biasa dimaknai sebagai orang yang menonjol karena perjuangan dan pengorbanannya bagi bangsa, atau dalam membela kebenaran.[1]

Dalam dunia fiksi, istilah The Hero mengacu kepada tokoh utama atau protagonis dalam cerita, yang pada suatu ketika dalam hidupnya, ia menghadapi konflik dan mengalami perubahan nasib. Jika dunia fiksi tersebut adalah video game, maka pemain mengendalikan Sang Pahlawan hingga mencapai tujuannya, yang biasanya itu berarti menyelamatkan dunia dari sang penjahat (The Villain) yang ingin menguasai(atau menghancurkan) dunia.

Baik dalam kenyataan maupun cerita fiksi, kisah tentang pahlawan selalu melibatkan dua hal: keberanian dan pengorbanan diri untuk kepentingan orang banyak. Kenapa? Karena dua sifat tersebut akan membuat seseorang mengambil keputusan penting dengan tepat yang mengubah nasibnya, dan pada gilirannya akan menginspirasi orang lain. Keberanian membuat pahlawan menempuh yang nampaknya tidak mungkin di mata orang dewasa. Pengorbanan diri membumbungkan nilai diri seorang pahlawan hingga melebihi nilai orang biasa, atau dalam bahasa yang lebih sederhana, ‘berguna bagi orang lain’.

Di era postmodern ini, ada kecenderungan untuk menampilkan tokoh protagonis yang jauh dari kesempurnaan. Tokoh utama yang berasal dari kalangan orang biasa dengan berbagai kekurangan dan keterbatasannya sudah tidak asing ditemui dalam novel maupun film. Dalam cerita yang lebih ‘berat’ atau ‘dewasa’, bahkan tokoh utamanya tidak selalu ‘orang baik’. Sang Pahlawan adalah seseorang dengan kepentingan tertentu, tidak punya niatan untuk melayani masyarakat, sinis, ingin membalas dengan, atau sifat-sifat yang secara moral tidak dapat dikatakan mulia. Dalam dunia fiksi, tokoh semacam itu diberi istilah Anti-Hero.

Dalam film Watchmen misalnya, hampir semua tokohnya merupakan Anti-Hero. Rorschach yang sinis kecewa pada Tuhan yang dianggapnya membiarkan kejahatan terjadi di muka bumi. The Comedian adalah seorang patriot dan di saat yang sama seorang durjana. Dr.Manhattan, yang memiliki kekuatan adimanusia, acuh tak acuh dengan konsep moralitas manusia dan menganggap nyawa manusia dan kehidupan di bumi tidaklah penting.

Terkadang, kepahlawanan dalam cerita yang sudah terkenal didekonstruksi hingga sang pahlawan tidak lagi menjadi pahlawan. Rama, dalam Ramayana, dilihat sebagai laki-laki yang egois karena mensyaratkan pembuktian penyucian pada Shinta. Yudhistira, si sulung dari kelima Pandawa, dianggap tidak bijak karena mempertaruhkan kerajannya dalam sebuah permainan dadu dengan Kurawa.

Adakah contoh dari dunia nyata? Cukup banyak, dan ini biasanya berkaitan dengan penulisan(baca: interpretasi) sejarah. Gajah Mada, bagi kerajaan Majapahit adalah pahlawan, namun bagi orang Sunda, Gajah Mada dan keseluruan Kerajaan Majapahit tidak jauh berbeda dengan penjajah. Contoh lain yang populer adalah kisah Si Pitung dari Betawi. Di satu sisi, ia adalah pahlawan rakyat ala Robin Hood yang mencuri dari Si Kaya untuk diberikan pada Si Miskin. Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri, yang dilakukannya adalah tindakan kriminal.

Ada semacam persetujuan bahwa kekurangan sang pahlawan, motivasinya yang tidak terlalu mulia, membuat sebuah cerita menjadi semakin realistis. Ketidaksempurnaan seorang tokoh, baik nyata maupun fiksi, selain membuat tokoh tersebut terasa lebih hidup, juga membuat pembaca merasa lebih dekat serta bersimpati kepadanya.

Tapi penulisan(dan pembacaan) semacam itu memiliki ‘efek samping’. Terlalu banyak berhadapan dengan sinisisme dapat membuat kita kehilangan kepercayaan pada nilai-nilai kepahlawanan. Memang, kita tak boleh naif melihat realitas, namun melihat dunia secara sinis juga tak akan membuat kita bahagia, terlepas dari akurat atau tidaknya pandangan kita.

Di sini, saya ingin mengutip Habiburrahmah El-Shirazy. Dalam novel Ayat-Ayat Cinta, Fahri digambarkan sebagai pribadi yang nyaris tanpa cela, hingga terkesan kurang realistis. Tapi, apa komentar pengarangnya tentang tokoh utama dalam novelnya itu? Dalam sebuah wawancara, ia mengatakan:

“…bagiku, tokoh Fahri itu justru masih kurang sempurna. Harus aku sempurnakan lagi. Dia harus lebih berjiwa malaikat ketimbang yang sudah ada. Kupikir, orang-orang kita bangsa Indonesia ini menilai fahri terlalu sempurna, karena selama ini mereka tidak pernah disuguhi bacaan dan tontonan dengan kualitas perilaku seperti fahri …”[2]

Saya rasa pernyataan tersebut ada benarnya. Contoh lain, dari film The Dark Knight, ketika Joker ingin membuktikan bahwa manusia pada dasarnya jahat, ternyata terbukti sebaliknya. Tidak satupun dari penumpang di kedua kapal yang menekan tombol, yang akan mengakibatkan meledaknya kapal yang lainnya. Bahkan, salah satu dari kapal tersebut berisi tahanan kriminal, tapi itu tak menghentikan salah satu diantara mereka untuk mengambil detonator yang menentukan hidup mati mereka dan melemparnya ke luar jendela.

Kembali ke dunia nyata. Di luar dunia fiksi, tidak mudah menemukan sosok yang sempurna. Bahkan sosok yang di mata kita sempurna bisa jadi berbanding 180 derajat di mata orang lain. Tapi itu tidak penting. Bahkan, tidak penting tokoh yang kita idolakan itu sungguh-sungguh ada atau tokoh rekaan semata, karena keberadaan seorang pahlawan melampaui ‘realitas’. Pahlawan, nyata ataupun fiktif, adalah simbol harapan. Selama dia berhasil menghidupkan harapan orang banyak pada kebenaran, keberanian, dan kepahlawanan itu sendiri, maka keberadaannya ‘berguna’.

Maka, pilihlah pahlawanmu.


[1] Disadur dari entri dalam situs Wikipedia.

[2] Lihat buku Fenomena Ayat-Ayat Cinta oleh Anif Sirsaeba El-Shirazy