Sedikit tentang Seni

“Kuliah Seni Rupa? Itu dosennya nilainya gimana? Subyektif donk?”

Pertanyaan semacam itu pasti sudah bosan didengar mereka yang berkuliah di Seni Rupa. Umum dipahami bahwa seni itu persoalan selera, dan selera itu subyektif.

Mereka yang bilang seni itu subyektif tidak salah, tapi menyederhanakan persoalan. Kita bisa berpendapat bahwa tidak mungkin penilaian seni dibuat tanpa mengikutsertakan selera. Penilaian seni memang berujung pada selera, tapi bukan dimulai dari sana.

Sekian banyak filsuf membahas seni dan estetika, tidak satupun yang memberikan penjelasan yang lengkap dan final. Tapi, singkatnya, penilaian atas keindahan melibatkan kapasitas fisik, emosional, dan intelektual sekaligus. Menurut Immanuel Kant, esuatu menjadi indah bukan karena ia menyenangkan penglihatnya. Sebaliknya, sesuatu menyenangkan penglihatnya karena dia indah[1].

Di Seni Rupa ITB, khususnya Seni Lukis, terdapat istilah ‘Trisula Seni Rupa’ yang menjadi dasar kurikulumnya, yaitu formalisme, eksprsionisme, dan simbolisme. Ini merupakan penyederhanaan dari kecenderungan gerakan-gerakan (aliran-aliran) seni modern. Konsep ini sangat membantu dalam memahami seni. Mari kita bahas satu per satu:

Formalisme adalah konsep memahami seni sebagai bentuk (form). Kualitas karya dinilai dari unsur-unsur rupa yang ada padanya, seperti warna, tekstur, bentuk, komposisi, dsb. Untuk komposisi, dapat kita rinci lagi menjadi irama, gerak, aksen, dan keseimbangan. Bagi saya sendiri, rule of thumb untuk memahami formalisme adalah dengan membayangkan setiap bentuk itu ‘hidup’ dan ‘berbicara lewat bentuknya sendiri’.

Ekspresionisme (atau ekspresivisme) berarti memahami seni dari segi ekspresi yang ditawarkannya. Ekspresi yang gamblang bisanya klise atau basi (contoh: sinetron dan lagu-lagu pop melayu). Karena itu, ekspresi yang ‘berkualitas’ adalah yang subtil, yang agak tersembunyi, yang tidak terlalu kelihatan. Ekspresi seringkali dinyatakan dengan ‘jejak’ seperti sapuan kuas dan tekstur. Pada intinya, untuk memahami ekspresi adalah dengan menghayati bagaimana suatu karya menggugah emosi kita.

Simbolisme adalah cara mengungkapkan suatu konsep dengan cara representasi. Misalnya, gambar mawar bukanlah mawar itu sendiri melainkan representasi dari konsep tentang cinta. Nilai representasi ini juga dapat dilihat dari medium yang digunakan. Misalnya ada sebuah mawar terbuat dari besi yang karatan, akan berbeda dengan mawar asli, dan akan berbeda pula dengan mawar plastik. Yang pertama menyajikan ‘cinta yang rusak atau menyakitkan’, yang kedua menghadirkan ‘cinta yang murni’, dan yang terakhir merepresentasikan ‘cinta yang artifisial’.

Pada akhirnya, ketiga konsep itu dipahami sebagai satu kesatuan yang selalu hadir di (hampir)setiap karya seni.

Ketiga hal di atas pada dasarnya dapat dipelajari. Namun, dengan kepekaan dan kecerdasan yang cukup, atau dengan kata lain, sensibilitas, mereka yang tidak mempelajari seni secara khusus mampu mengapresiasi seni.

Sampai di sini, barulah kita bisa berbicara soal selera. Sebagian orang menyukai karya seni yang ekspresif, sebagian yang lain lebih menyukai bahasa yang simbolik, dan ada pula yang lebih tertarik dengan unsur formal suatu karya. Di titik inilah kita bisa berkata, seni itu subyektif. Setiap karya punya kualitasnya sendiri.

Membaca Karya Seni

Apa yang saya tulis di atas memberikan kita bekal untuk mengapresiasi karya seni. Namun, untuk membaca suatu karya seni secara lebih dalam, kita memerlukan instrumen lain, yaitu pengetahuan tenang hal-hal di dalam dan di luar seni.

Hal-hal di dalam seni artinya sejarah seni, filsafat seni, dan dunia seni kontemporer, serta pasar seni. Dengan mengetahui sejarah seni, kita dapat dengan tepat menempatkan suatu karya di dalam urutan perkembangan seni itu sendiri. Dengan mengetahui filsafat seni, kita dapat memahami ‘tujuan’ dari karya tersebut. Dengan memahami dunia seni kontemporer dan pasar seni, kita dapat menilai apakah karya ini ‘mainstream’, sekedar mengikuti tren pasar, atau justru sebaliknya, berusaha melawan hegemoni pasar.

Hal-hal di luar seni adalah filsafat dan pengetahuan umum. Dalam kritik seni, karya seni dibaca menggunakan pendekatan teori-teori tertentu, seperti teori pertentangan kelas Karl Marx, psikoanalisis Sigmund Freud dan Jacques Lacan, hingga teori feminisme Julia Kristeva. Ini yang membuat kritik seni menarik untuk dibaca karena interpretasi seorang kritikus bisa berbeda dengan kritikus yang lain, sesuai dengan teori yang ia gunakan.

Juga tidak bisa dipisahkan dari seni adalah ilmu semiotika. Semiotika adalah ilmu tentang tanda. Secara sederhana seni dapat dipahami sebagai praktik menyusun sistem tanda. Pemahaman semiotika yang baik dapat memaksimalkan interpretasi dari suatu karya seni.

Pada akhirnya, memang seni itu subyektif. Subyektif pembuatannya, subyektif interpretasinya, dan subyektif penilainnya. Namun mengulas karya seni secara obyektif itu penting dan sama sekali bukan hal yang sia-sia. Justru mengambil jalan pintas dengan menyederhanakan seni sebagai sesuatu yang subyektif sehingga enggan mengulasnya adalah suatu bentuk kemalasan dan ignorance.


Lelaki, tentang Makeup Wanita

Suatu hari, di hari-hari ini, tersebutlah seorang Lelaki. Lelaki hidup di zaman serba canggih cepat mudah. Negerinya makmur tenteram bahagia. Kehidupan damai sejahtera sentausa.

Entah dari mana, sekonyong-konyong datang Wanita. Wanita cantik jelita. Putih mulus tanpa noda. Apalagi jerawat di muka. Tak dinyana, Lelaki suka.

Tapi Lelaki tahu, Wanita mengenakan makeup. Lihat itu bedaknya putih, lipstiknya merah, blush on-nya merah muda. Segala jenis produk kecantikan menempel di wajahnya.

Lelaki tak habis pikir, kenapa Wanita berbuat demikian, menghias wajahnya begitu rupa, tebal, menutupi wajahnya sendiri. Jangan-jangan dia tidak pede? Atau sebenarnya dia jelek? Lelaki melamun, tak mengerti. Memang Wanita sulit dimengerti. Dia sudah dengar itu, berkali-kali.

Syahdan, lelaki mengharapkan wanita tak menggunakan makeup. Maka diciptakanlah makeup yang membuat wanita seperti tidak memakai makeup. Foundationnya warna kulit alami, bibirnya efek glossy, pipinya merona segar seperti habis mandi.

Lelaki jatuh hati, meski tahu makeup masih menempel di wajah Wanita, cantiknya tak bisa ditolak. Begitu alami, begitu mempesona. Lelaki jadi galau sendiri.

Kata Orang, wanita lebih suka dibohongi. Sebenarnya Lelaki juga. Setiap hari Lelaki dibohongi oleh wanita dan makeupnya, tanpa bisa melawan. Di hadapan yang indah-indah, memang otak kita jadi beku kelu tak berfungsi normal.

Namun akhirnya Lelaki bangkit, bertanya pada Wanita, “Mengapa Engkau lakukan itu? Mengapa Engkau menipuku dengan makeup-mu?”

Betapa kagetnya Lelaki mendengar jawaban Wanita, “Siapa bilang aku berdandan untukmu, Lelaki? Aku berdandan untuk Wanita Lain.”

Rupanya Wanita ingin lebih cantik dari Wanita Lain. Lelaki terjebak di tengah persaingan antar keduanya, tak berkutik. Lelaki semakin tak mengerti Wanita.

Apa daya Lelaki bodoh, tak menyadarinya hingga hari ini. Kecele jadinya. Sekali lagi, ia berdoa, “Ya Tuhan, ciptakanlah dunia tanpa makeup.”

Waktu berlalu, doa belum dijawab, malah makeup semakin canggih. Dilihatnya pasar, bergudang-gudang produk kecantikan, seolah akan terbeli semuanya. Kenyataannya memang akan terbeli semuanya. Ah, memang Tuhan lebih tahu, Lelaki lebih senang ditipu.

Lelaki bertanya, “Kapan akan kulihat kecantikan asli Wanita?” Orang menjawab, “Nanti, setelah menikah.” Dan, oh, betapa dia benar.

Syahdan, Lelaki dan Wanita menikah. Setelah menikah, luntur semua makeup. Wajah asli Wanita terlihat. Tak seindah bayangan Lelaki. Lelaki kecele lagi, dua kali.

Ah, tapi apa daya, sudah kadung bercinta. Jalani saja, biar bosan jenuh sengsara. Namanya juga cinta, harus bisa menerima. Lelaki tertegun, mungkin itulah cinta sejati, pikirnya. Penerimaan yang teruji waktu. Bukan gelora hati saat pertama bertemu.

Tiba-tiba lelaki mengerti, Kakek dan Nenek tak lagi peduli rupa. Karena setelah keriput melanda, tinggal hati yang tersisa.

Lalu Lelaki berpetuah pada anak-anaknya, “Janganlah Engkau tergoda makeup Wanita. Kalau terlanjur, terima apa yang ada di baliknya.” Lelaki tahu, anaknya tak mengerti. Ah, Remaja. Biarlah, suatu saat nanti dia akan tahu sendiri.