Berjalan Lurus di Jalan Berliku

Ihdinas siraatal mustaqim. Kalimat itu disebut setidaknya tujuh belas kali sehari oleh seorang muslim yang taat. Artinya, “tunjukkan kami jalan yang lurus”. ‘Lurus’ disejajarkan dengan ‘benar’, dan yang ‘benar’ niscaya adalah ‘baik’.

Namun agaknya hari-hari ini kita perlu memaknai kembali ayat ke-6 surat Al-Fatihah itu. Ini adalah zaman yang berbeda dengan empat belas abad yang lalu. Hari ini kita dihadapkan pada banyak godaan, banyak alternatif pemikiran, banyak gaya hidup. Agama jadi terlihat begitu kerdil di hadapan dunia beserta isinya.

Kita memiliki akal, dan setiap saat kita menggunakannya untuk memecahkan berbagai masalah. Disadari atau tidak, akal menjadi satu-satunya alat penentu kebenaran. Padahal sangat mungkin, di saat yang sama, akal, iman, dan rasa punya jawaban berbeda atas persoalan yang sama.

Di (Eropa) abad pertengahan, umum dipahami bahwa akal adalah hamba dari iman. Maka, apapun yang akal katakan, hendaknya bersesuaian dengan iman, atau mendukung iman. Di era Renaisans, dideklarasikan kebebasan berpikir. Akal berdiri sendiri. Sebuah formulasi yang ‘masuk akal’, nampaknya.

Namun, sejatinya tidak semua yang ditemukan akal adalah ‘benar’ atau ‘baik’. Arthur Schopenhauer misalnya, bilang, “Akal adalah budak nafsu.” Sehebat apapun akal, dia kalah oleh kehendak. Bahkan, akal digunakan untuk mencari pembenaran atas kehendak. Segala dalil dipakai, yang tidak ada dicari, pokoknya akal dieksploitasi ke titik terjauh guna memenuhi kehendak manusia. Kehendak manusia ini bervaraisi, mulai dari yang besar seperti penguasaan atas alam, hingga yang remeh temeh seperti kegiatan seksual (sebenarnya tidak se-‘remeh’ itu sih, hehehe… Eh, tapi yang bilang begitu akalku atau nafsuku?)

Hari ini, saya rasa ucapan dari abad ke-19 tersebut masih relevan, kalau bukan semakin aktual. Dengan adanya internet, kita bisa dengan mudah mencari ‘kebenaran-kebenaran’ untuk kehendak kita. Begitu saratnya dunia ini dengan ‘kebenaran’ hingga semua itu menjadi pembenaran semata. Kita menggunakan ‘akal kolektif’ yang tumbuh dari bawah’. Tidak ada pemaksaan akan kebenaran. Kita semua bebas memilih kebenaran kita sendiri. Hal yang sungguh ‘demokratis’.

Tidak bisa disangkal, hari ini kita terjajah oleh akal. Apapun yang tidak masuk akal ditolak, dan karena akal adalah budak nafsu, apapun yang tidak memenuhi hasrat ditinggalkan. Sadarkah kita betapa mudah berubahnya ‘common sense‘ kita selama beberapa dasawarsa terakhir? Kita bergerak cepat ke arah pemenuhan hasrat. Musik, film, fashion, dan segenap budaya populer lainnya adalah pengejawantahan dari pergerakan itu. Lihatlah betapa minim daya resistensi kita terhadap perubahan itu. Nilai dan norma berubah begitu cepat. Yang tadinya tidak masuk akal menjadi masuk akal. Yang tadinya menyimpnang dianggap normal. Sebaliknya, yang tadinya dianggap begitu luhur kini dianggap terbelakang. Maka benarlah kita terjajah akal, dan akal adalah budak nafsu. Akal kita demikian mudah membenarkan perubahan-perubahan tersebut.

Di tengah-tengah putaran roda zaman ini, agama jadi anomali. Agama tidak memenuhi hasrat. Sebaliknya, ia mengekangnya, menekannya, berusaha menguasainya. Jika dulu seorang agamawan adalah juga seorang ilmuwan dan filosof, sekarang tidak lagi. Ilmuwan dan filosof yang ‘sejati’ adalah para atheis atau agnostik. Mereka yang beriman kian tersingkir dari kehidupan dunia yang dikuasai akal.

Agama yang dulu sempat didukung oleh ilmu pengetahuan dan berbagai aliran filsafat pun kini kelabakan. Berbagai usaha dilakukan untuk ‘membuktikan’ isi kitab suci. Berbagai dalil filsafat dikeluarkan untuk mempertahankan iman. Kita lupa bahwa iman sebenarnya melampaui semua itu.

Di sini, saya ingin mengamini Søren Kierkegaard. Ia terkenal dengan konsep ‘lompatan iman’ (leap of faith) yang cukup sering kita dengar hari ini. Beriman berarti mempercayai sebelum ada bukti. Tentu saja, ini sering dianggap absurd. Dan, kalau dipikir-pikir lagi(dengan akal, tentunya), memang absurd. Kita disuruh mempercayai mukjizat dan cerita-cerita yang tidak masuk akal. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, Maryam hamil tanpa suami, dan ada kehidupan setelah mati. Bagaimana mungkin akal bisa menerima semua itu? Tanpa bukti pula. Sungguh absurd.

Namun di situlah poin pentingnya. Bukti menjadi tidak penting di hadapan hal-hal seperti cinta dan keberanian. Beriman, dalam pengertian tertentu, membutuhkan cinta dan keberanian. Cinta tanpa syarat pada Dia yang tak pernah kita temui. Keberanian untuk bertaruh bahwa setelah kita mati nanti ada kehidupan kembali yang menunggu kita.

Adapun pangkal dari cinta dan keberanian itu adalah penerimaan. Penerimaan atas wahyu Tuhan yang datang dengan segala aturannya. Penerimaan ini bersifat bebas tanpa paksaan. Mungkin itu sebabnya mereka yang tidak beriman sering diasosiasikan dengan orang yang sombong. Mereka tidak mau (menggunakan kebebasannya untuk) menerima.

Demikianlah, tak heran agama dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Jika ada yang berpikir ia bersikap memberontak dengan menentang ajaran agama, dia salah. Dia tidak memberontak sama sekali. Justru sebaliknya, ia menyerah pada dunia. Ia ikut arus. Agama adalah anomali dunia hari ini. Beragama ibarat berjalan lurus di jalan berliku. Pasti akan menabrak, tersandung, dan dianggap aneh oleh mereka yang ‘mengikuti jalan yang benar’.

Seorang teman pernah mengutip Robert Jastrow, “Para ilmuwan mendaki gunung. Ternyata di atas telah menunggu para agamawan.”