Seni dan Subyektivitas

Kata orang, seni itu subyektif. Yang disukai satu orang belum tentu disukai oleh orang lain. Seni itu persoalan selera, dan selera saya adalah hak saya. Saya tidak bisa memaksa Anda untuk suka durian kalau memang Anda tidak suka durian.

Demikianlah kira-kira kredo yang populer di masyarakat. Dengan alasan semacam ini, karya-karya medioker yang tidak bermutu seperti sinetron dan lagu-lagu pop melayu yang klise itu mempertahankan eksistensinya di layar kaca.

Pertama-tama, kita perlu menerima bahwa yang selalu terjadi adalah selera orang kebanyakan cenderung rendah. Orang banyak tidak bisa memahami kedalaman karya, karena rasa mereka tidak cukup peka, dan pikiran mereka tidak cukup terdidik. Jadi, wajar saja selera tinggi hanya dimiliki segelintir orang, yang sering di-cap elitis, meskipun mereka biasanya dibenci bukan karena selera mereka, melainkan karena mereka cenderung bersikap snobby (menyebalkan). Seni tinggi dan musik klasik selamanya hanya akan jadi konsumsi mereka yang elitis ini, karena memang hanya mereka yang bisa mengapresiasinya.

Selanjutnya, kita perlu memahami bahwa selera ‘tinggi’ dan ‘rendah’ MEMANG ada. Selera adalah hal yang kompleks, namun setidaknya berhubungan erat dengan pendidikan dan kelas sosial. Tidak, saya tidak bilang bahwa kelas sosial yang lebih tinggi SELALU memiliki selera yang lebih bagus, dan karenanya pendapatnya soal karya seni lebih absah. Namun, pendidikan yang tinggi biasanya menjadikan rasa lebih halus dan pikiran lebih tajam, dan karenanya membuat mereka mampu mengapresiasi karya seni yang nilai-nilainya lebih subtil dan tersembunyi.

Sebenarnya, yang paling penting untuk disoroti adalah kritik terhadap karya seni, khususnya seni populer. Penting bagi kita untuk mengartikulasikan kritik yang tajam dan tepat sasaran. Jika Anda benci sinetron, tapi tidak bisa menyampaikan kenapa sinetron itu jelek, maka Anda hanya akan terlihat sebagai orang yang ‘gak suka aja’ dengan sinetron, bukan orang dengan selera yang bagus. Di sinilah pentingnya kritik, untuk mengobjektifkan sesuatu yang sifatnya subyektif.

Tentu saja, Anda boleh tidak setuju dengan kritik tersebut, namun ketidaksetujuan itu juga sebaiknya ditunjang dengan alasan yang masuk akal dan tidak berangkat dari ignorance. Seringkali, kritik yang baik tentang kenapa Putri Yang Ditukar dan Kangen Band itu jelek, dibalas dengan komentar seperti, “Lo jangan cuma bisa ngritik doank, bisa gak bikin yang lebih bagus?! Kalo gak bsia diem aja lo!” atau, “Kalo karya anak bangsa sendiri gak dihargai, gimana mau maju?!”

Komentar-komentar semacam itulah yang justru menghambat kemajuan industri kreatif di negeri ini. Kita terlalu toleran dengan mediokritas. Yang jelek diterima begitu saja, dan segala kritik yang membangun jadi mental tak berdaya menghadapi sikap ignorant para pemirsa. Keadaan yang menyedihkan.

Iklan

Plato dan Televisi

“Have you ever had a dream, Neo, that you were so sure was real? What if you were unable to wake from that dream? How would you know the difference between the dream world and the real world?”

Tersebut adalah kutipan dari salah satu film favorit saya, The Matrix, garapan Wachowski Bersaudara, yang dibintangi Keanu Reeves, Laurence Fishburne, dan Carrie-Anne Moss. Film itu bukan hanya penuh adegan action dan special effect paling mutakhir pada saat itu (1999), melainkan juga sarat dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis.

Kutipan di atas, contohnya, adalah salah satu representasi dari konsep filsafat yang dicetuskan oleh Plato yang dikenal dengan ‘Perumpamaan Gua’ (Allegory of The Cave). Plato menjelaskan bahwa kondisi manusia itu bagaikan para tahanan yang dipenjara dalam sebuah gua. Mereka terpasung dan hanya bisa menatap dinding gua. Di belakang mereka ada api, dan depan api itu ada jalan melintang, tempat berbagai macam benda melintas setiap hari. Yang dapat dilihat oleh para tahanan itu hanyalah bayangan yang ditimbulkan dari api di belakang mereka, yang terpantul ke dinding gua.

ilustrasi gua Plato

Suatu hari, salah seorang tahanan mampu melepaskan diri dan pergi ke luar gua itu. Setelah beradaptasi dengan sinar matahari yang menyilaukan, tahanan itu untuk pertama kalinya melihat dan merasakan sendiri dunia di luar gua. Ia melihat bahwa dunia di luar gua sama sekali berbeda dengan apa yang dulu dilihatnya sebagai bayangan. Ia takjub, terkesima, dan kembali ke dalam gua untuk menceritakan pengalaman ini pada teman-temannya.

Tapi apa yang terjadi? Teman-temannya tidak dapat memahami apa yang dikatakannya. Bagi mereka, bayangan-bayangan itu adalah satu-satunya kenyataan. Tahan yang telah bebas itu dituduh membual. Dalam salah satu versi cerita ini, tahanan yang bebas itu akhirnya dibunuh oleh teman-temannya sendiri.

Cerita yang dituturkan lebih dari dua milenia yang lalu ini masih relevan, kalau bukan semakin aktual, pada hari ini. Pun, sepanjang sejarah manusia, kita melihat perumpamaan gua Plato ini terjadi berulang kali. Nicolaus Copernicus yang dihukum mati karena menyatakan bumi mengelilingi matahari adalah salah satu contohnya.

Tidak sulit untuk melihat bahwa kita adalah para tahanan itu. Setiap hari kita dicekoki informasi dari media. Surat kabar, radio, televisi, hingga internet. Semua itu adalah bayang-bayang di dinding gua yang kita lihat setiap hari. Dapatkah kita mencerna informasi-informasi yang datang pada kita? Membedakan mana yang salah dan mana yang benar? Mana yang netral mana yang tendensius? Mana yang penting mana yang tidak penting?

Hari ini, informasi membombardir diri kita tiada henti. Jika orang tua kita di kampung dulu kesulitan mencari informasi karena toko buku terdekat berada 20km dari rumah mereka, sekarang kita menerima informasi bahkan tanpa kita harus beranjak sejengkal pun. Positifnya, informasi mudah didapat. Negatifnya, terlalu banyak informasi hingga kita kerepotan memilah-milahnya. Kita pun kembali menjadi tahanan dalam gua… atau mungkin sebenarnya kita tidak pernah keluar dari sana.

Arus informasi yang begitu dahsyat membuat kita sulit mengambil jarak kritis terhadap informasi itu sendiri. Kita cenderung percaya pada informasi yang kita terima sebagai kebenaran. Kita menonton televisi, melihat berita pejabat korupsi, dengan pandangan setengah kosong, kita menangkap kata-kata dan gambar. Kita bahkan tidak sempat berpikir, ‘kenapa saya harus tahu tentang hal ini?’ Tapi kita tidak peduli, berita itu dalam arti tertentu menyenangkan. Ada semacam sensasi yang halus yang timbul ketika kita menangkap informasi itu. Begitu berita tersebut berganti dengan berita yang agak membosankan, misalnya berita tentang prestasi olimpiade fisika tingkat SMA, kita segera mengganti channel, menonton acara lain… acara gosip.

Kenapa acara gosip? Karena acara tersebut memberikan sensasi yang lebih menyenangkan ketimbang berita korupsi. Lihat saja pembawa acaranya yang mengenakan gaun, di tengah setting studio dan musik latar yang dramatis, berbicara menggunakan pilihan kata-kata serta intonasi yang sensasional. Sadarkah kita, bahwa informasi tersebut tidak ada gunanya bagi kehidupan kita? Ah, siapa peduli. Yang penting acaranya bagus.

Itu baru yang terjadi di pagi hari. Di siang hari, tengah hari bolong, kita disuguhi berita kriminal. Siapa yang tidak suka berita kriminal? Saya belajar di kelas jurnalistik bahwa konflik adalah salah satu hal menarik dan karenanya selalu punya nilai berita. Juga, ada kepercayaan umum bahwa bad news is good news. Maka, berita kriminal selalu menarik. Masalah alam bawah sadar kita menjadi semakin putus asa pada kemanusiaan, itu masalah lain lagi, dan pada dasarnya kembali ke orangnya masing-masing. Media melayani kepentingan masyarakat. Membuat masyarakat semakin waspada akan kriminalitas adalah salah satu ‘tugas mulia’ mereka. Tapi kita perlu bertanya, sebenarnya acara berita kriminal itu membuat kita waspada atau justru semakin resah? Atau, lagi-lagi, itu kembali ke orangnya masing-masing?

Lalu, di petang hingga malam hari kita punya sinetron. Entah karena ditayangkan di waktu prime time, ataukah karena memang sinetron disenangi khalayak ramai, rating sinetron jadi sangat tinggi sekali. Tapi rating adalah representasi popularitas, bukan kualitas. Sudah jadi rahasia umum bahwa sinetron adalah cerita klise nan murahan, dengan kualitas akting paspasan, dan efek kamera serta suara berlebihan. Tapi rendahnya kualitas estetik sinetron selalu bisa berlindung di balik kredo ‘bagus itu relatif’. Juga, produser sinetron dapat dengan mudah berkata, ‘kalau sinetron saya jelek, kenapa yang nonton banyak?’ Demikianlah, kritik terhadap sinetron menjadi mandul.

Tentu saja, tidak semua tayangan televisi Indonesia jelek. Dan, kalaupun jelek, tidak ada yang memaksa kita menontonnya. Kalau punya uang, tinggal langganan TV kabel, dan kita bisa menikmati tayangan berkualitas dari BBC atau National Geographic. Jadi, sebenarnya tidak ada masalah, bukan?

Kalau kita menjawab tidak ada masalah, maka benarlah perkataan saya di atas bahwa kita adalah para tahanan di gua yang tidak mau keluar. Setidaknya ada tiga permasalahan yang dapat kita elaborasi lebih jauh:

  1. Kita membiarkan diri kita disuguhi tayangan yang tidak berkualitas, bahkan bersifat membodohi. Sinetron adalah representasi yang tepat dari permasalahan ini. Sudah selayaknya kita tersinggung disuguhi tayangan yang tidak kreatif dan miskin nilai seperti itu.
  2. Kita menerima informasi tanpa sempat mencerna lebih jauh. Bagaikan mengkonsumsi junk food, kita kenyang, namun makanan tersebut tidak menjadi nutrisi bagi tubuh kita. Pemberitaan di media tak ubahnya seperti sinetron, dan kita adalah penonton setianya. Pemberitaan isu-isu nasional seperti kasus Bank Century dan Nazaruddin begitu gencar, begitu sensasional, namun tidak menyelesaikan permasalahan. Satu kasus ditutup dengan kasus lainnya, dan tidak ada yang peduli dengan kasus-kasus sebelumnya.
  3. Kita menyia-nyiakan, kalau bukan menyalahgunakan, televisi sebagai sarana pendidikan yang sangat ampuh.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Secara singkat dapat dikatakan yang dapat kita lakukan adalah mengambil jarak kritis terhadap informasi yang kita terima. Yakinlah bahwa kita berhak atas tayangan-tayangan berkualitas yang memperkaya kehidupan kita.

Saya berharap suatu hari nanti, dan kalau bisa tidak jauh dari hari ini, akan ada suatu gerakan yang mengkritisi acara televisi dan perilaku penonton televisi secara ampuh. Saat ini banyak gerakan, khususnya di dunia maya, yang mengkritisi program televisi yang tidak mendidik. Saya rasa ini awal yang bagus. Akankah kita berhasil mengeluarkan teman-teman kita dari gua Plato, seperti Neo dan kawan-kawan mengeluarkan orang-orang dari The Matrix? Semoga kita tidak bosan berusaha.

Harun Suaidi Isnaini
Bandung,  11 Januari 2012